Surat dari Sahabat

December 20th, 2011 § 0 comments § permalink

Sigit,

aku nulis e-mail ini dengan air mata yang menggenang-genang di pelupuknya. Tampaknya kata ‘sahabat’ terlalu dangkal untuk dilekatkan padamu. Tapi tak kutemukan kata yang lebih daripada itu; barangkali karena bahasa menemui keterbatasannya, dipermalukan oleh ketidakmampuannya melambangkan rasa.

Apa yang sudah kita alami bersama? Banyak, cukup banyak untuk membuat rasa kehilangan itu begitu nyata. Kehilangan yang tak tergantikan, karena nggak ada yang bisa menggantikan. Semua orang punya tempat, dan ketika tempat itu menjadi kosong ketika ditinggalkan, aku akan meletakkan selembar kertas bertuliskan ‘ke toilet’ atau semacamnya, sehingga orang yang melihatnya akan beranjak pergi dan memilih tempat lainnya.

Git, tampaknya ini akan menjadi sepucuk surat yang buruk. Kamu pasti tertawa, dan aku rindu untuk menertawaimu juga. Begitu sering kita berbeda pendapat, saling tuduh, saling memojokkan, saling kritik… dan betapa kita bisa menikmati semuanya. Inilah kesejatian persahabatan. Nggak gampang membangun kesejatian semacam ini dengan orang-orang yang kita kenal, Git… mereka yang bersama-sama dengan kita, berani melintasi batas-batas antara konflik dan kenyamanan, risiko dan rasa aman…

Selamat ulang tahun, Git… Semoga sepucuk surat yang tolol ini sampai kepadamu. Semoga juga, aku nggak terlalu berat membebani kata-kata dalam surat ini, sehingga mereka nggak tenggelam di sungai ketika berusaha untuk mencapaimu.

Salam buat Nat & Jagad, ya. Sayangku selalu.

sahabatmu yang tolol,
hdj – th aq 2, w 12

*Diambil dari email, 9 November 2009

Tentang Dua Sahabat

December 19th, 2011 § 1 comment § permalink

Sabtu malam. Aku bongkar satu kardus Aqua gelas. Tergolek di pojok kamar. Jarang kujamah. Kutemukan lagi empat buku catatan harianku. Masing-masing berangka tahun 1993, 1996, 1997, dan 2001. Dengan begitu, total jumlah buku harian yang kutemukan menjadi 11 buku. Dokumentasi menarik ketika dibaca ulang.

Di antara catatan-catatan kumal itu, kutemukan satu lembar kertas yang empat tahunan ini aku cari. Satu lembar. Kumal. Membekas empat garis penuh daki. Huruf-huruf sudah dikaburkan usia. Nyaris luntur. Kertas fotokopi ini memuat puisi seorang sahabat. Sahabat di asrama selama empat tahun, 1992-1996 di Magelang.

Puisi itu pernah dibaca dua kali. Pertama kali oleh Sang Penulis sendiri, Martinus Jogie Putranto pada malam keakraban di pelataran kampus. Yang kedua kali dibacakan oleh Alexander Tamtomo untuk mengenang 1000 hari kematian Sang Penulis.

“Mungkin ini kata-kata terakhir sahabat kita Jogie. Puisi yang ia buat dan ia baca sendiri di malam akrab di kampus,” kata Alex, sejauh aku mengingat, di rumah ibunda Jogie, Jl. Pulo Mas Barat IX/8 Jakarta.

Puisi itu begitu menusuk ulu. Kematian itu tak punya mata. Menimpa siapa saja. Tidak punya hati. Jogie masih sangat muda. Jogie yang di asrama dijuluki sapi ini lahir di Jakarta, 12 November 1976. Maut menjemputnya pada 11 Maret 2000. Kematian tak diundang. Tanpa tanda-tanda lumrah. Jogie yang waktu itu sedang menonton bola tiba-tiba membeku. Jantungnya mandeg saat langit Jogja mulai menggelap. Tidak ada suara dag-dig-dug di rongga dada kirinya. Warna biru perlahan merambati sekujur tubuhnya yang jangkung. Ia mati. Sementara tabung ajaib masih terus berceloteh. » Read the rest of this entry «