Stranger Than Fiction

Grant_witch (1)

Pernahkah Anda mendengar kisah tentang nenek sihir? Saya pastikan Anda pernah mendengar atau membacanya. Kalau tidak pernah, mohon maaf saja, Anda orang yang sungguh sial di dunia ini. Sosok nenek sihir cukup mewarnai masa kecil saya. Penyihir tua ini hadir dalam bacaan maupun dongeng-dongeng yang dilontarkan mbak Rus – nama lengkapnya Rusmiyati – teman kakak saya yang suka bermain ke rumah kala petang dan mendongeng untuk saya.

Sudah puluhan tahun saya tidak menjumpai mbak Rus. Mungkin ia sedang berada di negeri orang. Mungkin sedang mengelana ke tempat entah. Mungkin pula diculik oleh penyihir jahat yang selama ini ia dongengkan kepada saya.

Konon, demikian dia bercerita, penyihir tua ini hidup di dalam hutan. Sosoknya ditakuti oleh orang-orang seantero perkampungan di tepi hutan. Katanya, penyihir renta ini berkeliaran dengan sapu terbangnya saat senja turun dan hutan menjadi sunyi dalam sepuhan cahaya keemasan. Penyihir itu memburu anak-anak saat matahari menua dan sembunyi di balik gelap.

Continue reading

Finding God on Train

I got an insightful experience when I was riding the commuter line from Palmerah to Serpong. The story is like this. After boarding, I sat down near the door. During the trip, the carriage I was riding was quite festive. Why was it so quite festive?

There were two children, a boy and a girl, who were singing some children’s songs. Every now and then, I heard sounds of adult joining them in singing. I think they were their parents. They sang together.

The position of their seat rows with my seat. The distance was about three meters apart from me and by the train door. Then I gazed into them. “A cheerful family!” I said.

Continue reading

Memilah Kata-Kata, Menyembuhkan Luka-Luka

komunikasi

Saat ini, kita hidup di era komunikasi. Kita disuguhi banyak media untuk berkomunikasi, dari telepon, email, hingga aneka aplikasi di telepon pintar. Kita disibukkan dengan menatap layar smartphone kita. Tetapi, apakah kita sudah benar-benar berkomunikasi dengan baik satu sama lain?

Hari ini, Gereja memperingati Minggu Komunikasi Sosial Sedunia. Pada hari ini, melalui pesan komunikasi sosialnya, Paus Fransiskus menegaskan pentingnya semangat kerahiman dalam berkomunikasi itu. Ini dikemas dalam pesan Paus berjudul “Komunikasi dan Kerahiman: Perjumpaan yang Memerdekakan.”

Paus prihatin, komunikasi di era sekarang jauh dari semangat kerahiman itu. Orang lebih senang saling menghujat, mengkambinghitamkan, memfitnah, marah-marah, dan penuh serapah. Media sosial, misalnya, bukan lagi mengusung nilai sosial tetapi justru sering bermuatan antisosial. Misalnya, prasangka, dendam, dan provokasi yang memecah belah. Continue reading

Tuhan di Gerbong Kereta

train

Sepotong pengalaman yang menggugah saya alami di gerbong kereta komuter jurusan Palmerah-Serpong,  Kamis pagi (28/4/2016).

Ceritanya begini. Begitu naik kereta,  saya langsung dapat tempat duduk dekat pintu. Selama perjalanan,  gerbong yang saya tumpangi terasa cukup meriah. Pasalnya,  ada dua anak,  laki-laki dan perempuan, sedang mendendangkan lagu-lagu anak-anak. Sesekali ditimpali oleh suara laki-laki dan perempuan dewasa yang saya rasa itu bapak dan ibunya. Mereka menyanyi bersama. Continue reading

Saat Kita Lebih Senang Membangun Tembok

Tembok Orang Miskin Jakarta

Manusia adalah sahabat bagi sesamanya. Ungkapan ini dipopulerkan oleh seorang pastor Jesuit dan filsuf bernama Nicolaus Driyarkara dengan istilah Homo Homini Socius. Namun, di Indonesia yang beragam, mewujudkan sahabat bagi sesama tampaknya tidak mudah.

Kita lebih senang dan merasa nyaman mengeksklusifkan diri dalam keluarga maupun kelompok masing-masing. Entah eksklusif dengan komunitas seiman, seprofesi, sehobi, selingkungan, dan sebagainya. Namun, dalam satu komunitas pun, tidak mudah juga mewujudkan spirit sahabat tersebut. Apalagi pada orang-orang yang tidak dikenal, orang asing, atau orang di luar kelompok kita. Kita lebih senang membangun tembok.

Continue reading

Percaya dan Kemudian Melihat

thomas

Kisah Thomas yang tak percaya Yesus bangkit sebelum melihat sendiri dan meraba bekas luka-lukas Yesus selalu menarik untuk direnungkan. Pasalnya, sikap Thomas tersebut juga sering menjadi sikap kita. Kita ingin bukti lebih dahulu dan baru percaya. Apalagi kita hidup di dunia modern yang memuja materialisme dan bukti fisik.

Tak gampang, memang, menemukan Tuhan dalam keseharian hidup kita. Khususnya, ketika kita terperangkap dalam situasi batin seperti yang dialami para murid paska penyaliban dan kematian Yesus. Murid-murid itu terpenjara oleh kesedihan, keputusasaan, kegalauan, dan hilangnya harapan. Saking sedihnya, murid-murid kesulitan mengenali kehadiran Yesus yang sudah bangkit. Demikian juga, kegalauan batin dan persoalan hidup juga sering membutakan hati kita untuk melihat Tuhan.

Continue reading