MUNGKIN, hari-hari ini menjadi hari-hari paling berat yang kudu dilakoni oleh blogger Eko Ramaditya Adikara. Nama blogger ini kembali menjadi wacana seru di kalangan para netter dan pelaku media. Kali ini, bukan puja-puji yang dilontarkan padanya seperti waktu sebelumnya. Sebaliknya, caci maki dan kekecewaan. Maklum saja, blogger tunanetra dengan gelimang prestasi ini mengaku telah melakukan pembohongan publik.
Singkat cerita, Rama yang selama ini mengaku sebagai komposer asli musik game Jepang telah berbohong. Ia tidak pernah membuat musik itu. Tapi, ia cuma menamai kembali (rename) file komposisi musik itu. Kebohongan Rama berhasil diendus dan dibongkar dalam diskusi online. Akhirnya, pada 10 Agustus 2010, Rama secara resmi dalam surat bermeterai mengakui kesalahan itu di situs Kotak Game—sebuah portal game Indonesia. (bdk. “Skandal Blogger Ramaditya Adikara” karya Syaifuddin Sayuti, blogger Kompasiana). » Read the rest of this entry «

Sumber: Google Edu
Penulisan yang belepotan biasanya mengganggu proses pembacaan. Bahasa mencerminkan logika berpikir. Para blogger ditantang untuk memilih.
Oleh Sigit Kurniawan
BANYAK ALASAN mengapa orang menulis blog. Blogger atau sebagian menyebutnya narablog juga punya gaya masing-masing dalam menyampaikan catatannya. Salah satunya, soal berbahasa. Ada yang menyampaikan dengan bahasa gaul, bahasa resmi, bahasa asing, dan sebagainya.
Sering saya jumpai beberapa blog yang kontennya bagus dan inspiratif, tapi tidak diimbangi dengan cara penulisan yang baik. Tulisan yang belepotan biasanya cukup mengganggu proses pembacaan. Ada pula yang cakap di keduanya—baik sisi konten maupun cara penyajian. Lebih ekstrem lagi, sudah kontennya tidak jelas, peyajiannya amburadul. Tapi, saya tidak menyatakan itu salah. Bagi saya, blog tetap menjadi wadah merdeka bagi siapa saja untuk menuangkan apa saja dengan cara apa saja.
Saya sendiri memilih aktivitas ngeblog selain sebagai media kebebasan berekspresi, juga media belajar berbahasa yang baik. Lebih tepatnya, belajar menyampaikan sesuatu—entah itu opini, informasi, refleksi, cerita—dengan cara penyajian yang enak dibaca, mengalir, populer, santai, renyah, dan tetap memakai bahasa yang rapi, baik, dan benar sesuai dengan kaidahnya. Jelas ini sebuah laku tak mudah selain kudu latihan terus.
Mengapa saya senang belajar bahasa karena saya ingin agar apa yang saya tulis bisa dipahami oleh pembaca. Apa gunanya saya menulis tema sangat bagus bila tidak bisa dipahami pastilah akan sia-sia belaka. Selain itu, saya menyakini bahwa berbahasa adalah berlogika. Bahasa mencerminkan logika berpikir. Sementara logika berpikir ini erat sekali dengan cara kita memahami realitas kehidupan—baik di dalam maupun di sekitar kita. Pernyataan di atas juga berarti bila kita tidak bisa berbahasa dengan baik, bisa jadi logika berpikir kita juga bermasalah. Termasuk cara kita memahami realitas di sekitar kita.
Contoh paling gamblang ada di senayan. Lebih tepatnya ketika para anggota DPR merumuskan sebuah undang-undang. Jarang ada rumusan undang-undang yang mulus tanpa perdebatan wacana—khususnya tentang logika bahasanya. Rumusan-rumusan dangkal, tidak cerdas, pilihan kata yang keliru, dan sebagainya jamak mewarnai isi wacana tersebut.
Nah, media murah meriah dan sangat efektif untuk belajar menulis dengan bahasa yang baik adalah blog. Kita mengunggah tulisan di blog dan setiap kali dengan mudah bisa kita perbarui bahasanya. Oya, ada juga yang bilang berbahasa yang baik dan benar biasanya menghasilkan tulisan yang kaku. Menurut saya, tidak juga. Sebaliknya, dengan belajar bahasa saya bisa mengetahui kekayaan Bahasa Indonesia. Tulisan pun tetap populer, mengalir, dan enak dibaca. Termasuk diksi atau pilihan kata yang berjibun yang bisa digunakan dalam tulisan. Tak jarang, kekayaan diksi juga bisa memperindah tulisan.
Banyak ragam cara mempelajari bahasa ini. Selain membaca tulisan-tulisan dari para penulis mahir, saya suka baca rubrik-rubrik bahasa di koran maupun majalah. Sekarang, saya bersyukur, karena ada seorang pecinta bahasa yang mengkliping catatan-catatan tersebut dalam sebuah blog bernama Rubrik Bahasa yang mengambil platform wordpress. Blog yang diasuh oleh Ivan Lanin ini didedikasikan sebagai arsip artikel tentang bahasa Indonesia dari berbagai media massa arus utama alias mainstream mass media, seperti Kompas, Tempo, Intisari, dan sebagainya.
Satu lagi caranya, yakni bergabung dengan milis bahasa, seperti Guyub Bahasa. Saya sudah sekitar enam bulan mengikuti diskusi dalam milis bahasa ini. Lumayan bermanfaat karena di sana ada para pakar bahasa dari berbagai penerbit dan media massa. Soal kosakata, di internet, sudah tersedia Kamus Besar Bahasa Indonesia Online dan Glosarium yang berisi kata-kata asing yang sudah dibakukan dalam bahasa Indonesia. Kamus ini dibuat oleh Pusat Bahasa. Kamus online ini cukup memanjakan penggunanya. Selain tak perlu menguras kocek terlalu dalam untuk membeli buku setebal batu bata itu, kita juga tak usah susah payah membolak-balik halaman. Tinggal tulis kata kunci dan klik tetikusnya.
Para blogger dan penulis pemula tak perlu berkecil hati soal bahasa ini. Pasalnya, media sekelas media arus utama pun tidak luput dari kesalahan penulisan—termasuk penulisan yang tak bunyi alias tak bisa dipahami. Saya kasih contoh dari tulisan Tajuk Rencana Kompas, 11 Maret 2009. Contoh ini pertama dirilis oleh Zulkifli dalam milis Guyub Bahasa. Zulkifli memberi contoh kalimat Kompas yang sungguh membingungkan: “Didasari ideologi, salah satunya pemahaman agama, peledakan bom seiring terus dilakukannya, rekrutmen, pelatihan, organisasi, termasuk pembiayaan” (paragraf 5) atau “Membangun keberagamaan semacam itu tidak otomatis berarti terorisme di Indonesia bersumber atas ajaran agama, semakin mendesak pada saat perhatian terfokus pada praksis perpolitikan” (paragraf 7) atau “Upaya kuratif perlu dibarengi sikap terus ngeh yang diwujudkan memoderasi pemahaman keagamaan secara progresif dan proaktif!” (paragraf akhir). Nah, cukup membingungkan, bukan?
Kembali soal blog, saya juga menyadari tulisan-tulisan saya sampai detik ini pun masih secara kontinu butuh perbaikan. Lebih dari itu, saya menyadari menulis di blog dengan bahasa yang baik, rapi, dan mengalir pastilah lebih banyak manfaatnya. Tapi, siapa saja tetap merdeka untuk menulis apa saja dengan caranya apa saja.