Pesawat Telat Terbang

Foto: Sigit Kurniawan

Jadwal di tiket tak ada artinya lagi. Manajemen maskapai sering tak bersikap transparan. Pesawat bagai angkot.

KESIBUKAN MEMBUNUH waktu di ruang tunggu Bandara Ahmad Yani, Semarang, sedikit terusik. Senja yang membungkus seluruh bandara itu menyuguhkan sepotong kegusaran. Bukan oleh padatnya isi ruang tunggu. Tapi, oleh tulisan di papan iklan rokok yang tergantung di atas pintu masuk ruang boarding. Persis di depan pandangan saya yang merebahkan diri di bangku dekat kafe Kopi Luwak. Tulisan itu berbunyi: “Selama-lamanya delay, akhirnya pasti terbang juga.”

Saya tidak tahu persis maksud tulisan itu. Mungkin si pembuatnya ingin melawak. Mungkin maksudnya ingin menghibur. Mengajak santai para penumpang yang jadual terbangnya tertunda. Tapi, bisa juga meledek para penumpang burung-burung besi tersebut. Saya sendiri tak menganggapnya sebagai lelucon. Pernerbangan tertunda adalah masalah. Saya jadi merasa ada gelagat bahwa pesawat yang akan saya tumpangi akan tertunda terbang karena alasan tertentu. Iklan itu seperti mau menyampaikan pesan bahwa di sini sering terjadi keterlambatan pesawat.

Benar, pesawat saya tertunda terbang. Saya tahunya bukan dari petugas bandara. Saya tahunya dari seorang ibu dan bapak yang duduk di depan saya. Ibu bersetelan warna hitam dengan kain songket dikalungkan di leher itu tampak gelisah. Berkali-kali ia berceloteh dengan seseorang di ujung telepon untuk memberitahu pesawatnya ditunda. Sementara, lelaki tua berpeci dan berjaket hitam itu duduk sambil pandangannya menyapu kanan kirinya. Dari tiketnya, ibu itu diketahui bernama Elisabeth Tedu.

Saya bertanya tentang pesawatnya. Ternyata, mereka naik pesawat yang sama dengan saya. Pesawat Batavia Air dengan nomer penerbangan 7P-316 menurut jadwal yang tertera di tiket akan terbang pada Rabu, 7 April 2010 pukul 18.00 WIB. Mengetahui ini saya sadar iklan rokok tadi tidak sekadar iklan tapi juga pesan bahwa pesawat saya bakal tertunda terbang. Untuk membunuh waktu, saya kembali membuka laptop, mencolokkan modem, dan berselancar ria di alam maya. Ibu itu masih tampak gelisah. Mungkin ada urusan mendesak di Jakarta. Sementara, tas cangking besar warna merah, bergambar pesawat, bertuliskan Ahmad Yani Airport, dan diduga isinya oleh-oleh itu bergeming di sampingnya.

Kawan saya mengkonfirmasi alasan keterlambatan. Tapi, belum mendapat jawaban jelas. Saya merasa tak begitu kaget. Agenda terbang tertunda sudah biasa. Saya masih terusik dengan tulisan yang ada di papan iklan itu. Sepertinya, papan itu mau melakukan pembenaran bahwa penerbangan tertunda itu biasa dan kita sebaiknya santai menyikapinya. Toh, akhirnya nanti terbang juga.

Tak lama, kemudian dua orang berseragam cokelat menghampiri kami sambil menyapa dengan pertanyaan, “Batavia Air?” “Iya,” jawab saya. Petugas berseragam itu kemudian mengulurkan sekotak nasi sembari berkata,”Untuk makan malam.” “Terimakasih,” sahut saya. Sekotak nasi bertuliskan “Umi, Ayam Bakar dan Garang Asem” itu segera mendarat di pangkuan. Sesuai bungkusnya, betul, isinya adalah ayam bakar. Kawan saya mengkonfirmasi lagi alasan keterlambatan. Kata petugas bandara, ada persoalan teknis di Jakarta—lagi-lagi sebuah alasan yang kurang jelas dan multitafsir.

Foto: Sigit Kurniawan

Kawan saya mengatakan kotak nasi berisi ayam bakar itu adalah bentuk penegasan dari keterlambatan sang maskapai yang mulai beroperasi pada 2002 itu. Kotak itu juga sebagai bentuk permohonan maaf dan tanggung jawab dari Batavia. Harapannya, mungkin, sekotak nasi ayam bakar ini mampu meredakan kegelisahan para penumpang karena pesawatnya telat. Tapi, nasi paket ayam bakar, nasi, lalapan, dan segelas plastik mineral seharga Rp 11.500 itu—harga menurut petugas Resto Umi yang berdiri di Jl. Simongan Raya no. 18, Semarang saat dihubungi melalui ponsel— tak mampu mengusir kegusaran dari paras ibu yang duduk di depanku. Pesawat baru terbang pukul 19.30 WIB—terlambat satu setengah jam. Saya pun menegakkan antena kecurigaan saya.

Pikiran saya masih terpaku pada papan iklan tadi. Saya masih tak terima pesawat yang tertunda itu dianggap biasa dan bahan guyonan. Untuk saat itu, mungkin saya tak begitu gusar karena sedang tak terikat komitmen pada agenda atau seseorang yang membutuhkan kehadiran saya dengan cepat. Tapi, mungkin ibu di depan saya yang tak sanggup menyembunyikan kegusarannya itu sedang buru-buru dan kehadirannya dibutuhkan seseorang di suatu tempat.

Ada beberapa alasan pesawat, menurut standar operasionalnya, diwajibkan menunda penerbangannya. Pertama, alasan utama (force majeure) sebagai sebuah kejadian yang tak terelakkan dan diperhitungkan sebelumnya di luar kekuasaan manusia. Misalnya, cuaca buruk, banjir, gempa bumi, kabut asap, badai, dan sebagainya. Demi alasan keselamatan, alasan utama ini saya sangat menerimanya.

Alasan lain tak lain alasan teknis dan komersial. Teknis, misalnya, terkait dengan kerusakan komponen, seperti baling-baling, mesin, roda, dan sebagainya. Sedangkan alasan komersial, misalnya, ketika pesawat kecil diganti dengan pesawat besar yang membutuhkan waktu untuk perpindahan penumpang. Alasan berikutnya, alasan keamanan, seperti bila ada hal yang mencurigakan dan berpotensi mengganggu keamanan penumpang.

Untuk alasan teknis dan komersial, menurut saya, itu bisa diminimalisir oleh manajemen pesawat dari masing-masing maskapai. Khususnya, bagaimana mereka melakukan perawatan sekaligus membangun sistem keamanan di pesawatnya. Tapi, alasan teknis ini sering dijadikan alasan latah untuk menutupi alasan yang lain—khususnya terkait dengan kepentingan komersial. Misalnya, sepi penumpang. Kalau sudah seperti ini, pesawat seperti halnya angkutan kota, yang lebih tega memanggang penumpangnya di dalam kendaraanya di bawah terik matahari dan debu jalanan untuk mencari penumpang lebih banyak lagi. Pesawat bak metromini yang bisa dengan tiba-tiba memindahkan penumpangnya ke metromini yang lain dengan alasan komersial—sepi penumpang.

Seorang karib, Daniel Awigra, adalah contohnya. Dalam tulisan di blognya berjudul “Keluar Mulut Singa, Masuk ke Rahang Buaya”, ia bertutur bagaimana apesnya naik pesawat. Singkat cerita, pesawat Batavia Air (lagi-lagi Batavia Air) yang akan mengangkutnya dari Banjarmasin ke Jakarta dikabarkan rusak. Petugas Batavia Air menyarankan seluruh penumpang untuk pindah ke pesawat Lion Air. Tapi, anehnya, biaya perpindahan ke Lion Air ini ditanggung penumpang. Batavia Air lepas tangan. Merasa ini sebagai bentuk ketidakadilan, karib saya ini melakukan protes. Bersama dengan seorang penumpang lainnya, ia menuntut pada pihak Batavia Air untuk mengganti seluruh ongkos perpindahan karena kerusakan Batavia Air adalah tanggung jawab maskapai, bukan penumpang. Setelah alot berdebat, Batavia Air pun memenuhi tanggung jawabnya. Sayangnya hanya untuk kedua orang penumpang dan itu pun ditutup-tutupi agar tak diketahui penumpang lain. Apesnya lagi, saat Lion Air sedang berjalan di landasan pacu, mesinnya mati mendadak. Penumpang pun emosi. Lalu, ada saran agar penumpang bisa beralih ke pesawat Garuda.

Kondisi di atas sangat memprihatinkan. Kontras sekali dengan pernyataan Yudiawan Tansari, Direktur Utama Batavia Air seperti dikutip dari koran sore Sinar Harapan. Katanya, Batavia Air memprioritaskan keselamatan penerbangan dan on time performance (OTP) alias tepat waktu. Ketepatan waktu, katanya, kudu menjadi perhatian. Sebab itu, OTP Batavia Air saat ini rata-rata di atas 90 persen. Ya, ucapan memang lebih mudah ketimbang praktik. Saya yakin ini juga terjadi di maskapai lainnya.

Saya sempat mengunggah foto papan iklan di ruang tunggu tadi di laman Facebook. Komentarnya beragam. Ada yang menyatakan kapok naik Batavia Air. Ada yang menyalahkan saya karena memilih maskapai bertiket murah. Lalu, apa salahnya dengan tiket murah. Apakah tiket murah itu identik dengan keterlambatan terbang. Sebenarnya, ada benarnya juga pernyataan kawan di Facebook itu. Selama menunggu pesawat Batavia Air, sudah ada penerbangan selama dua kali pesawat Garuda yang tiketnya tentu lebih mahal.

Tapi, apakah tidak ada sistem yang mengatur sehingga pesawat bisa terbang sesuai dengan jadual yang tertera di tiket pesawat. Keterlambatan pesawat sebagai bentuk pengingkaran hakikat pesawat sebagai moda transportasi yang cepat bagi orang-orang yang mobil. Pesawat ibarat jalan tol yang seharusnya lancar dan memenuhi kebutuhan akan kecepatan tetapi sebaliknya, macet.

Jadwal di tiket pesawat seperti tak ada artinya lagi. Maskapai lebih senang ingkar janji alias bohong dengan menghalalkan banyak cara. Nilai disiplin waktu yang selama ini ditanamkan di sekolah sebagai bentuk keberadaban manusia telah dilecehkan dengan telanjang oleh maskapai penerbangan kita. Motif komersial yang sering ditutupi dengan alasan teknis sering terjadi. Demi mengejar keuntungan komersial, maskapai penerbangan kita telah melanggar etikanya, pembohongan publik. Ini terjadi karena sering persoalan tidak diungkapkan secara transparan oleh pengelola. Akibatnya, yang menjadi korban adalah konsumen sendiri. Tapi, sudah saatnya, kini konsumen pesawat kudu bersikap kritis dan berani melawan dengan aneka cara praktik ketidakadilan yang dilakukan para manajemen maskapai penerbangan itu.

Masih terusik dengan tulisan di papan iklan itu. Jangan-jangan, iklan itu mencerminkan mentalitas manajemen maskapai penerbangan yang masih sering merendahkan konsumen. Konsumen sebagai raja pun sekadar pemanis mulut. Merasa tidak bersalah bila tidak mematuhi jadual terbang. Merasa konsumen gampang dipengaruhi. Merasa benar sendiri bila bebas memperlakukan konsumen seturut kepentingannya—apalagi kepentingan komersial.