Kesunyian Seorang Penulis

December 12th, 2011 § 3 comments § permalink

Nama yang aku tunggu akhirnya muncul. Oktober sudah hampir lewat. Padahal di setiap Oktober, nama pemenang Nobel biasanya diumumkan. Daftar nominasi kandidat sendiri muncul setiap 1 Februari. Minggu pagi, seperti ritual biasanya, aku membuka Koran Tempo Minggu. Seperti biasa juga, aku langsung membuka halaman rubrik sastra dan buku. Nah, di halaman 19, aku menemukan nama Doris Lessing, peraih nobel sastra 2007 itu.

Potret Doris terpampang di samping judul “Kado Manis untuk Doris” (Koran Tempo, 21 Oktober 2007). Parasnya sudah uzur. Keriput menghiasi setiap sudut mata dan lekuk pipinya. Garis-garis lipatan kulit tegas nampak di dahinya. Rambutnya sudah semuanya memutih. Tapi, sorot bola mata yang tenggelam di antara lipatan kelopak matanya, tampak begitu tajam. Tanda betapa perempuan ini sudah banyak makan asam garam. Itulah Doris Lessing.

Doris lahir pada 22 Oktober 1919 di Kermanshah, Iran. Nama lengkapnya Doris May Taylor. Putri dari Alfred Cook Taylor, mantan kapten Inggris pada masa Perang Dunia I, dan Emily Maude Taylor, seorang perawat ini menjadi orang ke-106 yang mendapat anugerah ini.

Nama Lessing ia peroleh dari pernikahan kedua dengan Gottfried Lessing, seorang imigran Jerman-Yahudi yang ia kenal dalam Klub Buku Kiri. Doris beberapa kali terlibat dalam gerakan Kiri, entah di Partai Buruh Rhodesia Selatan maupun British Communist Party. » Read the rest of this entry «

Senja di Bangsal 214

December 4th, 2011 § 3 comments § permalink

[8 September 2006] PASTOR tua itu masih setia duduk di atas kursi roda. Di temani gadis muda, mata sang pastor menerawang jauh ke langit-langit. Langit-langit tempat senja mulai turun dan terkapar di ibukota. Burung-burung pipit mulai pulang kandang di pepohonan yang menjulang di taman rumah sakit. Kicauan burung-burung yang telah lelah mengembara seharian semakin senyap ditelan senja.

Mereka mempersiapkan diri untuk istirahat dalam pelukan malam. Malam yang hangat. Malam yang hening. Tanpa terganggu oleh hiruk pikuk sisa kemacetan ibukota. Senja di St. Carolus itu berjubah kuning keemasan, sebuah simfoni pengantar malam.

Tubuh pastor itu tampak lemah. Tubuhnya yang kelihatan rapuh dibungkus dengan kaos putih berlapis jaket hitam. Telapak tangan kirinya tampak mengembung karena digempur habis oleh jarum infus yang sudah habis delapan botol. Kedua kakinya sudah ditumbuhi bercak hitam dengan motif retak-retak seperti tanah waduk yang kering kerontang dihajar oleh kemarau panjang.

“Pernikahan Thomas bagaimana?” kata pastor itu memecah keheningan senja yang mulai menghitam. Pastor itu menanyakan tentang salah satu orang muda dampingannya yang sehari lalu melepas masa lajangnya. Kata “orang muda”, itulah yang layak dilekatkan pada sosok pastor itu. Meski raga sudah mulai digerogoti senja, dalam bola mata pastor itu tampak kilatan-kilatan cahaya pertanda semangat mudanya tidak bakalan padam diterpa usia.

Pepatah mengatakan di mana ada gula, di situ ada semut. Nah, ia senantiasa seperti gula-gula yang dikelilingi orang muda. Sebut saja lingkaran sahabat-sahabat muda. Puluhan tahun pastor itu mengabdikan energi hidupnya bagi para sahabat muda.

Ada yang bisa diingat di senja itu. Bayangkan saja 2000 tahun lalu, saat Orang Muda dari kampung Nazaret di pagi hari yang cerah dan angin pantai sedang sejuk-sejuknya, ia memanggil Petrus dan Andreas. Tatapan tajam Pemuda dari Nazaret itu menusuk hati kedua bersaudara itu. Tak lama, kedua orang itu melangkah, meningalkan jala mereka yang urung ditata, dan menuruti undangan Pemuda itu saat mengatakan, “Ikutlah Aku.” Dua orang mengikuti Dia. Lalu, disapalah Yakobus dan Yohanes saat mereka sibuk memperbaiki jala di atas perahu bersama ayahnya.

“Ikutlah Aku!” Sapaan itu seakan mengikat dan menarik kedua bersaudara itu pergi meninggalkan ayahnya sendirian di atas perahu. Empat orang mengikutinya. Jumlah itu semakin lama semakin banyak. Lingkaran para sahabat itu semakin lama semakin besar.  Dan Pemuda Nazaret itu menjadi pusat lingkaran. Mereka berjalan, mereka bergerak. Sesekali diam, tapi tidak untuk menetap. Mereka bergerak, terus bergerak. Menembus malam, menyisir senja. Menyusur kota-kota dan desa-desa. Bergerak dan bergerak. Mewartakan Kabar Baik bagi orang miskin, keadilan, pembebasan bagi para tawanan, penglihatan bagi orang buta, pembebasan orang tertindas, dan datangnya tahun rahmat Tuhan.

Sampai akhirnya di sebuah siang yang gelap, mendung bergulung-gulung, panas membakar bumi, dan burung-burung enggan terbang, Pemuda dari Nazaret itu melepaskan jiwanya terbang ke langit-langit. Ia mati di tangan orang-orang takut dan orang-orang bodoh yang tidak pernah paham apa yang telah mereka lakukan. Ia mati dengan segenggam cita-cita bahwa langit dan bumi yang baru benar-benar akan terwujud di muka bumi ini. Dia mati sebagai orang muda.

Tapi, kematian tidaklah abadi. Ia hanyalah lorong gelap nan pendek menuju kehidupan baru. Pemuda itu bangkit. Kemenangan yang dibayar dengan luka, sakit, dan kematian. Di mega-mega ia memberi perutusan pada sahabat-sahabat- Nya. Mengutus mereka untuk tidak berhenti bergerak. Tidak pernah lelah. Ia sudah memberi contoh. Dan ia berjanji akan menyertai mereka sampai akhir zaman. Perutusan ini pula yang diterima oleh pastor itu.

Pastor itu masih terus memandangi senja yang kian menghitam. Lampu-lampu di taman dan di sepanjang koridor rumah sakit sudah menyala. Kilatan-kilatan cahaya yang terpancar dari kedua bola matanya seolah seperti matahari yang tak pernah mengenal malam. Sudah dipastikan, pastor itu tidak mau duduk terkulai di kursi roda atau tertidur lemah di ranjang rumah sakit. Kilatan-kilatan cahaya dari bola matanya seakan membisikan kepada senja: “Saat orang lain istirahat dan duduk-duduk, aku akan bangkit berdiri dan meneruskan perjalanan.”

Pastor itu harus sujud sejenak di depan realitas. Tapi, jiwa mudanya tidak pernah berhenti bergerak seperti yang dilakukan Gurunya yang tidak pernah lelah berjalan. Ia juga membisikan pada senja bahwa dirinya ingin menjadi ikan-ikan kecil yang berani melawan arus. Arus zaman yang menggilas dan memasung orang-orang di dalamnya. Dan inilah yang selalu ia sampaikan pada sahabat-sahabat mudanya. Orang muda mampu melakukan sesuatu. Mampu membangun budaya tanding yang sudah memorak-porandakan keadaban dan martabat manusia. Budaya tanding melawan kultur yang tidak lagi menghormati dan sujud pada kehidupan.

Ia menaruh harapan besar pada orang muda. Ia sangat mencintai orang muda. Ia dekat dan terjun dalam alam orang muda. Ia senantiasa berpesan seperti yang pernah diucapkan Dom Helder Camara: “Jangan pernah menjadi tua, tanpa harus menjadi muda.” Jiwa muda yang merdeka, punya mimpi-mimpi masa depan, dan energi segar untuk bertindak. Ia juga seperti pemuda asal Loyola yang mendapatkan vision di kapel La Storta. Ia dipanggil untuk ikut memanggul salib di dunia ini bersama Pemuda dari Nazaret itu. Ia telah menyerahkan seluruh kemerdekaan, akal budi, hati, kehendak, demi kemuliaan Allah yang lebih besar. Satu yang ia mohon adalah rahmat dan cinta Tuhan menjadi satu-satunya harta yang tidak pernah usang dan raib dimakan ngengat.

Senja sudah hengkang dari kaki langit. Malam sudah menyempurnakan dirinya. Tapi, matahari di bola mata pastor itu tidak pernah tenggelam. Meskipun senja menyelimuti raganya. Meskipun seperti Petrus yang disapa Pemuda Nazaret itu: “Ketika kamu masih muda, kamu biasa mengencangkan ikat pinggangmu, dan pergi kemana pun yang kamu inginkan. Tetapi ketika kamu menjadi tua, kamu akan merentangkan tanganmu dan seorang yang lain akan mengencangkan ikat pinggangmu dan membawamu kemana kamu tidak mau pergi.” (Yoh 21:18).

Untuk sementara pastor itu harus setia duduk di kursi roda atau berbaring di bangsal 214 Xaverius. Mungkin ini yang tidak ia kehendaki. Tapi, ini demi pemulihan kesehatan. Memulihkan energi yang telah dirong-rong penyakit diabet dan sudah merambah ke fungsi ginjalnya. Pulih untuk berjuang.

Sementara itu, sahabat-sahabat muda masih setia menemani dan melingkarinya. Dan matahari di dalam bola matanya itu seakan mau mengatakan sebuah optimisme. Meskipun raganya sudah memasuki senja, tapi ia yakin bahwa orang-orang muda di sekelilingnya ini akan menjadi fajar-fajar baru. Mereka akan menjadi matahari-matahari yang akan menerangi dan melintasi bumi dari berbagai arah mata angin. Dan pastor itu yakin bahwa langit dan bumi yang baru akan terwujud di muka bumi ini. Itu karena perjuangan yang terus dilakukan oleh matahari-matahari baru yang tak lelah berziarah.

Sudah malam….

@ 2006

 

Ibu Pulang

November 28th, 2011 § 0 comments § permalink

HANYA 10 hari ibu berada di Jakarta. Senin pagi kemarin, ular besi menelan ibuku. Membawanya kembali ke Jogja. Sepotong rasa sedih tertinggal di hati. Belum puas maksud hati mengenyam kangen. Tapi, apa boleh buat. Kerabat di Jogja lebih membutuhkan kehadiran ibu.

Ibu tampak lebih tua. Garis-garis putih semakin banyak menghiasi mahkotanya. Kerutan-kerutan di kulitnya semakin tegas. Langkahnya juga tidak sekokoh dulu. Semut-semut tidak kasat mata pun berkoloni di setiap persendiannya. Membuatnya berlobang. Rapuh. Gejala osteoporosis. Tapi, ada yang tidak berubah dalam diri ibu. Pancaran matanya memperlihatkan sebuah ketegaran, keuletan, dan pengharapan tanpa batas. Tekadnya kuat. Kalau sudah melakukan pekerjaan, ia tidak mau berhenti meski rasa capek menggerayangi tubuhnya. Semua harus beres. Tanpa ada penundaan.

Selama 10 hari itu, ibu harus berbagi malam dengan dua rumah. Rumah kakak perempuanku di mana cucu pertamanya berada dan rumah ibu di mana aku tinggal. Kehadiran ibu membuat tugas-tugas domestikku cukup terbantu. Menyapu. Mengepel. Membersihkan gudang. Belanja ke pasar. Memasak. Menyirami suplir. Mencuci. Kalau ada jeda, ibu mengantar keponakan ke sekolah. Menyuapinya. Berbagi cerita. Memilin rosario. Mengunjungi kerabat. Menyambangi tetangga. Membaca buku. Tak ketinggalan, ibu memasak menu favoritku, yakni kering tempe.

Soal buku, tidak heran, ibuku pun doyan membaca. Di hari pertama kunjungannya ke Jakarta, ibu memintaku menyediakan buku. Di perpustakaan rumah, terserak banyak buku. Kusuguhkan 2 buku. Bukan buku filsafat. Bukan novel. Tapi, buku rohani, pemantik inspirasi. Kusodorkan dua buku kecil. Satu buku karangan Henri J.M. Nouwen berjudul “Buah Pengharapan” (Kanisius, 1998) dan “Girisonta: Dari Novisiat Menatap Taman Getsemani, Percikan Kisah Para Sahabat.” Buku pertama selesai ia baca. Buku kedua hanya ia sortir saja karena kumpulan kisah.

Pernah sebuah siang, aku dan ibuku duduk bareng di sofa hijau. Kami duduk bersama tanpa obrolan karena kami sibuk dengan buku bacaan masing-masing. Sesekali kulihat ibuku mengatur letak kacamata plusnya. Menarik ulur letak buku untuk mencari fokus baca. Membasahi jari tengah kanannya dengan sejumput liur untuk membuka halaman per halaman. Aku berjanji membelikan buku-buku rohani padanya. Tapi, belum kesampaian juga menebus janji itu. Ular besi bernama Fajar Utama itu keburu menculik ibu. Membawanya kembali ke kampung halaman.

Sesekali, aku bisa membaca kecemasan dan kesedihan menghiasi parasnya. Apalagi, ketika menerima kabar dari Jogja, si bungsu meminta uang untuk sebotol anggur. Pesta anggur dengan dewa mabuk. Sampai kapan malam-malam seperti itu akan berakhir. Sudah belasan tahun, ibu menjalani ini dengan tabah. Tapi, semua itu membuat iman ibu semakin membaja. Kuat. Kekuatan ibu hanya satu, yakni p-e-n-g-h-a-r-a-p-a-n. Pengharapan akan masa depan yang lebih baik. Bagi si bungsu. Bagi keluarga. Bagi dirinya sendiri. Seakan ia mengamini tidak ada rasa sakit yang abadi.

Aku pernah memberontak pada Tuhan. Aku katakan, ibuku sudah terlalu sabar menjalani realitas ini. Tak kunjung jugakah Dirimu memberinya sepotong kebahagiaan di usia tuanya? Ibuku seperti perempuan tua yang mengetuk-ketuk pintu rumah sahabat untuk meminta pertolongan karena anaknya sakit. Tapi, sampai tangan perempuan itu berdarah-darah karena terlalu lama mengetuk pintu kayu itu, pintu juga belum dibukakan. Tapi, itu dulu. Ibu sendiri tidak protes. Justru, ibu mengenyam semua itu sebagai bagian dari iman personalnya. Ia selalu menyimpan segala perkara di dalam hatinya.

Aku pernah membenci ibu. Dulu, saat aku di asrama. Sejak hari pertama, ibu berjanji akan mengirimiku surat. Tapi, selama 8 tahun aku berada dan akhirnya keluar dari asrama, ibuku tidak pernah menulis sepucuk surat pun untuk satu cerita atau satu larik kalimat atau satu kata pun. Sepertinya hanya teman-temankulah yang ditakdirkan menerima surat. Sampai sekarang, aku belum menanyakan mengapa ibu tidak pernah berkirim surat. Itu dulu. Sekarang, kebencian itu sudah lama tanggal dari hatiku.

Itulah ibu. Satu pesan ibu sebelum pulang: jangan lupa membersihkan dapur dan gudang setiap malam sebelum tidur. Tiga hari ini, pesan ini aku penuhi. Maklum, aku tidak mau trio mickey mouse itu datang lagi. Dapur dan gudang tidak pernah absen dari sapu, cairan wipol, dan kain pel. Semua barang harus disterilkan dari binatang pengerat itu. Dan para pengerat berbau tak sedap itu tidak nongol lagi. Mungkin sudah migrasi ke rumah tetangga.

Pesan itu diulangi saat tiba di Stasiun Senen. Tepatnya di gerbong 5 nomer 5 A. Pukul 06.20, ular besi itu menjalar. Derit roda-rodanya semakin kencang. Ibu pun dibawa lari. Akhirnya, ibu pulang juga.

Keterangan: diambil dari blog lawas, 20 September 2007