<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Air Kata-Kata</title>
	<atom:link href="http://www.katakataku.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.katakataku.com</link>
	<description>when writing the story of your life, don&#039;t let anyone else hold the pen [Femi Adi Soempeno]</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 05:29:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Fe</title>
		<link>http://www.katakataku.com/2012/05/14/fe-2/</link>
		<comments>http://www.katakataku.com/2012/05/14/fe-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 05:21:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Friends from Heaven]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.katakataku.com/?p=1973</guid>
		<description><![CDATA[Ini tulisan lawas di blog lawas juga tentang sosok sahabat dekat &#8220;Femi Adi Soempeno.&#8221; Aku unggah kembali di halaman putih ini untuk mengenang sosoknya usai terbang bersama pesawat Sukhoi Super Jet 100 yang menabrak gunung Salak. Fe, tunggu ya, aku pasti membungkuskan satu tulisan  lagi untukmu. Banyak hal menggudang ingin aku bagikan.  Ini kisah tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://www.katakataku.com/wp-content/uploads/2012/05/Femi-Adi.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1974" title="Femi Adi" src="http://www.katakataku.com/wp-content/uploads/2012/05/Femi-Adi.jpg" alt="" width="277" height="225" /></a>Ini tulisan lawas di blog lawas juga tentang sosok sahabat dekat </em>&#8220;Femi Adi Soempeno.&#8221;<em> Aku unggah kembali di halaman putih ini untuk mengenang sosoknya usai terbang bersama pesawat Sukhoi Super Jet 100 yang menabrak gunung Salak. Fe, tunggu ya, aku pasti membungkuskan satu tulisan  lagi untukmu. Banyak hal menggudang ingin aku bagikan.  Ini kisah tentang masa lalu. Sekarang, Fe ada di sana. Celotehnya tidak hanya terdengar samar, tapi senyap&#8230;kamulah </em>friend from heaven<em> itu!</em></p>
<p><em>Jakarta, 22 Maret 2007</em></p>
<p>Aku pernah mengirim pesan pendek pada gadis ini saat ia berada di perut kereta yang menjalar dengan tujuan stasiun Tugu. Pesanku tidak ditanggapi. Sejak saat itu, ia menghilang tanpa jluntrung. Berbulan-bulan. Sampai akhirnya, di sebuah sore, aku mengajaknya bertemu sekadar melepas rindu sambil menikmati mendoan panas di ujung jalan kawasan Blok B.</p>
<p>Fe begitu aku sering menyapa gadis itu. Dia seorang jurnalis muda sama sepertiku. Aku suka dengan gadis ini. Sosoknya cerdas, tegas, plus melankolis. Lebih-lebih, ketika ia menjentikkan jari untuk sekadar menulis sepotong narasi hidupnya di tengah kesibukannya menulis berita. Tulisannya bagus, mengalir, berisi, dan beraroma sastra. Hampir tidak pernah absen, setiap pagi aku memulai menghidupkan komputer, kukunjungi blognya.</p>
<p>Dulu, aku tampak begitu akrab dengan dirinya. Tak jarang, perjumpaan pun digelar. Kami sering mengadakan perjumpaan di kedai mendoan ujung jalan itu. Biasanya, aku menjemput di kantor redaksinya dengan motor hondaku saat senja beringsut pelan. Pernah, kami mengunyah malam basah dengan menikmati Burger Blenger di Blok M atau Gultik di Bulungan. Serpihan perjumpaan juga terjadi di kosnya di bilangan Palmerah. Kos yang seluruh kamar dihuni oleh mahkluk berkelamin perempuan. Sebuah kos yang unik. Setiap Fe mengajak cowok masuk ke kamarnya, dari kejauhan Fe sudah melempar peringatan dengan meneriakkan kata “permisi!”. Pasalnya, lorong menuju kamar Fe harus melewati ruang nonton TV di mana para bidadari itu memanjakan mata mereka menonton sinetron, film, atau kuis setelah seharian digempur urusan kantor. Tak jarang, ketika aku mau lewat, para perempuan itu sibuk menata gaya duduknya, merapikan rok, kutang, dan sebagainya. Ah, sebuah peluang cuci mata yang menarik.</p>
<p>Fe menyukai ornamen katak. Di kamarnya, terdapat aneka barang, boneka, stiker, rumbai-rumbai yang digantung di pintu kamarnya, semua berornamen katak. Aku tidak tahu kenapa ia menyukai ornamen katak. Samar juga filosofi di kepalanya tentang katak. Aku alpa menanyakannya. Dulu, di kamar itu, ia berbagi banyak cerita. Ia berencana membuat buku. Ia berencana mengambil S2 Budaya dan Religi di Sanata Dharma. Ia bercerita tentang ayahnya. Ibunya. Kakaknya. Tapi, itu dulu sebelum kereta malam menculiknya dan pesan pendekku tiada terbalas dan sosoknya raib di balik kelam.</p>
<p>Sekarang, aku menemuinya hanya di dalam blognya. Usaha untuk sebuah sua pun belum kesampaian juga. Kopi darat di kedai mendoan ujung jalan itu pun belum terlaksana. Sepotong-sepotong saja aku menemukan jejaknya. Gadis ini laksana bayangan di balik gundukan ilalang tersaput kabut pagi. Mungkin, ia sedang ke Jogja untuk mengirim dua buket aster merah marun buat bapak ibunya. Mungkin, sedang berceloteh dengan kakaknya dalam sebuah pesan pendek, telepon, atau email. Mungkin sedang berselingkuh dengan si abang. Sedang sibuk menghapus warna biru yang membekap hatinya. Sedang berbagi gelak, berbagi api untuk sebatang rokok, berbagi sebotol red wine. Sedang menunggu bola raksasa amblas pukul lima sore. Sedang sibuk memenuhi cetak biru hidupnya. Dan sebagainya.</p>
<p>Dua lagi yang aku ingat. Di Megaria, kita pernah nongkrong bareng di sebuah bioskop untuk memelototi film Soe Hok Gie garapan Riri Reza. Di ruas jalan kawasan Tebet, bersama kawan lain, kita pernah beria-ria menghabiskan malam dengan dua teko besar berisi Marina. Marina adalah oplosan Vodka dengan Crush hijau. Marina hanyalah satu pilihan di samping Zombie, Blitz Orange, Apolonia Slink, Pletok, Valentine, dan Pink Lady. Ditemani camilan kacang goreng asin, kami merayakan keruntuhan malam.</p>
<p>Itu dulu. Sekarang, Fe ada di sana. Celotehnya pun terdengar samar&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.katakataku.com/2012/05/14/fe-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat dari Sahabat</title>
		<link>http://www.katakataku.com/2011/12/20/surat-dari-sahabat-2/</link>
		<comments>http://www.katakataku.com/2011/12/20/surat-dari-sahabat-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2011 04:44:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Friends from Heaven]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.katakataku.com/?p=1948</guid>
		<description><![CDATA[Sigit, aku nulis e-mail ini dengan air mata yang menggenang-genang di pelupuknya. Tampaknya kata &#8216;sahabat&#8217; terlalu dangkal untuk dilekatkan padamu. Tapi tak kutemukan kata yang lebih daripada itu; barangkali karena bahasa menemui keterbatasannya, dipermalukan oleh ketidakmampuannya melambangkan rasa. Apa yang sudah kita alami bersama? Banyak, cukup banyak untuk membuat rasa kehilangan itu begitu nyata. Kehilangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.katakataku.com/wp-content/uploads/2011/12/reading_letter.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1949" title="reading_letter" src="http://www.katakataku.com/wp-content/uploads/2011/12/reading_letter-300x198.jpg" alt="" width="300" height="198" /></a>Sigit,</p>
<p>aku nulis e-mail ini dengan air mata yang menggenang-genang di pelupuknya. Tampaknya kata &#8216;sahabat&#8217; terlalu dangkal untuk dilekatkan padamu. Tapi tak kutemukan kata yang lebih daripada itu; barangkali karena bahasa menemui keterbatasannya, dipermalukan oleh ketidakmampuannya melambangkan rasa.</p>
<p>Apa yang sudah kita alami bersama? Banyak, cukup banyak untuk membuat rasa kehilangan itu begitu nyata. Kehilangan yang tak tergantikan, karena nggak ada yang bisa menggantikan. Semua orang punya tempat, dan ketika tempat itu menjadi kosong ketika ditinggalkan, aku akan meletakkan selembar kertas bertuliskan &#8216;ke toilet&#8217; atau semacamnya, sehingga orang yang melihatnya akan beranjak pergi dan memilih tempat lainnya.</p>
<p>Git, tampaknya ini akan menjadi sepucuk surat yang buruk. Kamu pasti tertawa, dan aku rindu untuk menertawaimu juga. Begitu sering kita berbeda pendapat, saling tuduh, saling memojokkan, saling kritik&#8230; dan betapa kita bisa menikmati semuanya. Inilah kesejatian persahabatan. Nggak gampang membangun kesejatian semacam ini dengan orang-orang yang kita kenal, Git&#8230; mereka yang bersama-sama dengan kita, berani melintasi batas-batas antara konflik dan kenyamanan, risiko dan rasa aman&#8230;</p>
<p>Selamat ulang tahun, Git&#8230; Semoga sepucuk surat yang tolol ini sampai kepadamu. Semoga juga, aku nggak terlalu berat membebani kata-kata dalam surat ini, sehingga mereka nggak tenggelam di sungai ketika berusaha untuk mencapaimu.</p>
<p>Salam buat Nat &amp; Jagad, ya. Sayangku selalu.</p>
<p>sahabatmu yang tolol,<br />
hdj &#8211; th aq 2, w 12</p>
<p><em>*Diambil dari email, 9 November 2009</em><button title="Like this item" name="like" type="submit" data-ft="{&quot;type&quot;:22}"></button></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.katakataku.com/2011/12/20/surat-dari-sahabat-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Dua Sahabat</title>
		<link>http://www.katakataku.com/2011/12/19/tentang-dua-sahabat/</link>
		<comments>http://www.katakataku.com/2011/12/19/tentang-dua-sahabat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 14:34:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Friends from Heaven]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.katakataku.com/?p=1936</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu malam. Aku bongkar satu kardus Aqua gelas. Tergolek di pojok kamar. Jarang kujamah. Kutemukan lagi empat buku catatan harianku. Masing-masing berangka tahun 1993, 1996, 1997, dan 2001. Dengan begitu, total jumlah buku harian yang kutemukan menjadi 11 buku. Dokumentasi menarik ketika dibaca ulang. Di antara catatan-catatan kumal itu, kutemukan satu lembar kertas yang empat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.katakataku.com/wp-content/uploads/2011/12/Men_fishing_off_reclamation_Wellington_Harbour.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1937" title="Men_fishing_off_reclamation_Wellington_Harbour" src="http://www.katakataku.com/wp-content/uploads/2011/12/Men_fishing_off_reclamation_Wellington_Harbour-300x216.jpg" alt="" width="300" height="216" /></a>Sabtu malam. Aku bongkar satu kardus Aqua gelas. Tergolek di pojok kamar. Jarang kujamah. Kutemukan lagi empat buku catatan harianku. Masing-masing berangka tahun 1993, 1996, 1997, dan 2001. Dengan begitu, total jumlah buku harian yang kutemukan menjadi 11 buku. Dokumentasi menarik ketika dibaca ulang.</p>
<p>Di antara catatan-catatan kumal itu, kutemukan satu lembar kertas yang empat tahunan ini aku cari. Satu lembar. Kumal. Membekas empat garis penuh daki. Huruf-huruf sudah dikaburkan usia. Nyaris luntur. Kertas fotokopi ini memuat puisi seorang sahabat. Sahabat di asrama selama empat tahun, 1992-1996 di Magelang.</p>
<p>Puisi itu pernah dibaca dua kali. Pertama kali oleh Sang Penulis sendiri, Martinus Jogie Putranto pada malam keakraban di pelataran kampus. Yang kedua kali dibacakan oleh Alexander Tamtomo untuk mengenang 1000 hari kematian Sang Penulis.</p>
<p>&#8220;Mungkin ini kata-kata terakhir sahabat kita Jogie. Puisi yang ia buat dan ia baca sendiri di malam akrab di kampus,&#8221; kata Alex, sejauh aku mengingat, di rumah ibunda Jogie, Jl. Pulo Mas Barat IX/8 Jakarta.</p>
<p>Puisi itu begitu menusuk ulu. Kematian itu tak punya mata. Menimpa siapa saja. Tidak punya hati. Jogie masih sangat muda. Jogie yang di asrama dijuluki sapi ini lahir di Jakarta, 12 November 1976. Maut menjemputnya pada 11 Maret 2000. Kematian tak diundang. Tanpa tanda-tanda lumrah. Jogie yang waktu itu sedang menonton bola tiba-tiba membeku. Jantungnya mandeg saat langit Jogja mulai menggelap. Tidak ada suara dag-dig-dug di rongga dada kirinya. Warna biru perlahan merambati sekujur tubuhnya yang jangkung. Ia mati. Sementara tabung ajaib masih terus berceloteh.<span id="more-1936"></span></p>
<p>Tapi, puisi itu seolah menjadi pertanda. Seperti burung dandang yang hinggap pada nok bubungan rumah dan meninggalkan sosok tanpa nyawa di dalam rumah itu keesokan harinya. Seperti juga binatang yang berlarian ke kaki gunung tanda Merapi mau meletus. Puisi itu adalah pertanda.</p>
<p><em>Ketika waktu mulai berjalan</em><br />
<em>Merambati setiap batasan duniawi</em><br />
<em>Tak sadar pintu gerbang kebebasan ada di depan mataku</em><br />
<em>Kebebasan yang tak senilai dengan hidupku</em><br />
<em>Langkah demi langkah berjuang melawan nafsu</em><br />
<em>Hingga tertinggal hati yang damai dan penuh cinta</em><br />
<em>Tuhan kadang aneh dan menjengkelkan</em><br />
<em>Namun tak ada yang lebih susah daripada tidak punya hati dan cinta</em><br />
<em>Hari ini, bulan keempat di penghujung milenium</em><br />
<em>Aku bertemu Tuhanku</em><br />
<em>dan memandang sejenak wajah agung-Nya</em><br />
<em>Seakan Ia tahu apa yang kualami</em><br />
<em>Keterbatasan-keterbatasan itu harus kubuka dan kubuang selama-lamanya</em><br />
<em>Dan perlahan-lahan, namun pasti, hatiku yang dulu beku kini berkembang dalam lautan cinta dan kedamaian. Terimakasih Tuhan. Amin.</em></p>
<p>Itulah puisi terakhir Jogie. Puisi itu seperti lukisan The Last Supper karya Leornado Da Vinci. Puisi perpisahan dari seseorang yang sangat aku kenal. Orangnya supel. Perawakannya tinggi. Doyan gaya rambut pelontos. Berkacamata minus ala John Lenon. Ceplas-ceplos dengan logat ibukota. Dandanannya trendi. Pintar.</p>
<p><em>&#8220;&#8230;Pengalaman manis en pahit udah gue lewatin bareng temen-temen yang suka ketawa-ketiwi, yang imut-imut dan amit-amit. Gue jadi inget waktu klas 0 dikejar-kejar Sipir dan Menir. Klas I kepala benjol-benjol kejatuhan kates (untung bukan duren!). Klas II kedinginan &amp; pegel kebanyakan begadang. At last klas III mentang-mentang udah punya kamar sendiri, tidurnya ngebluk melulu&#8230;&#8221;</em></p>
<p>Itulah salah satu rekaman kata-kata Jogie di buku kenangan tahun 1995-1996. Buku yang belum lama aku temukan di tumpukan kardus. Asal tahu saja, ada 1001 pengalaman unik, lucu, dan mengharubiru di asrama yang dikelilingi pohon pinus dan dihuni oleh mahkluk berkelamin lelaki itu.</p>
<p><em>&#8220;Wah, pokoknya asyik deh. Sulit ngelupain semua kebersamaan kita selama ini. Apalagi bareng temen-temen yang bagi gue udah kayak saudara sendiri. Tapi mo’ gimana lagi, gara-gara kucing tetangge hamil, kita emang kudu pisah en ngelanjutin perjalanan yang fana ini. So, jangan pernah lupa dengan kekompakan &amp; kebersamaan kita selama ini&#8230;&#8221;</em></p>
<p>Sebenarnya kita sudah kehilangan 2 sahabat. Dua-duanya mati muda. Jogie dan Waris. Waris, sahabat kelahiran Magelang 6 Februari 1977 ini mati karena otaknya aus. Lelaki ini bertubuh ramping. Berkulit hitam kopi susu ini. Rambutnya jadul seperti kepunyaan Chairil Anwar. Suka memakai celana kasual dan sesekali jeans. Jalannya membungkuk. Leluconnya garing. Tapi, ia dikenal paling pintar di asrama. Di batok kepalanya sering menari-nari angka-angka. Dia adalah Stephen Hawking-nya asrama. Pelajaran Matematika, Fisika, dan Kimia baginya renyah seperti camilan. Padahal, bagi yang lain, ketiganya seperti sosis yang dimasukkan lemari pendingin. Beku. Keras. Bikin linu di gigi.</p>
<p>Sosoknya unik bin ajaib. Bayangkan, saat temannya rekreasi dengan jalan-jalan, main ping pong, baca koran, ngrumpi, mojok di lapangan dengan pepaya curian, ia lebih doyan memecahkah teka-teki soal cerita. Bahkan, ia mempunyai buku kumpulan soal cerita yang ia karang sendiri. Ia begitu terkesiap pada waktu. Ia berusaha memecahkan misteri tentang waktu. Ia juga gandrung dengan santet. Santet baginya adalah fenomena ilmiah, di mana terjadi transformasi materi ke energi dan energi ke materi. Itulah sosok kerempeng dengan ingus yang doyan maju mundur dari lobang hidungnya. Angka-angka dan rumus-rumus itu tiba-tiba berubah menjadi seperti ular-ular kecil. Mereka mengelana di sekujur tubuhnya. Menyedot habis daya tahan tubuhnya. Menghisap tuntas seluruh sumsum kepalanya. Lalu ia pun mati. Satu kata yang ia tuliskan di buku kenangan itu: Aku lahir, aku hidup, aku bahagia.</p>
<p>Selamat jalan sahabat. Sudah lama aku ingin menuliskan ini. Tapi kertas itu baru saja aku temukan. Doakan kita-kita yang masih mengelana di kehidupan yang sarat dengan tawa, canda, airmata, darah, benci, dendam, kasih, kecewa, sepi, tak pasti, pengkhianatan, dan sebagainya. Masih ingatkah kalian akan kata-kata perpisahan dari kepala asrama kita? Aku ketikkan ulang buat kalian berdua. Mumpung aku masih menyimpannya.</p>
<p><em>&#8220;&#8230;Perjalanan pejiarahanmu masih sangat panjang. Namun, jangan takut sebab Dia tak pernah tidur. Hanya waspadalah terhadap ilusi dan fatamorgana padang gurun yang tercipta ketika jiwa letih dan semangat luruh bak jerami kering. Sebab pada saat-saat seperti itu kilau dunia kan mampu membutakan nuranimu. Tetapi, pandanglah kilau abadi yang terpancar dari puncak gunung suci, di mana Ia telah setia menunggumu di sana&#8230;&#8221;</em></p>
<p>Aku yakin kalian berdua sudah tenteram di pucuk gunung suci itu. Memandangi lautan daun-daun pinus penuh kenangan. Dan jangan lupa tunggu aku di sana. Aku teruskan pengembaraan ini!</p>
<p>Sumber gambar: http://upload.wikimedia.org</p>
<p>*diunggah lagi dari blog lawas <a href="http://musafirmuda.blogspot.com/2007/09/tentang-dua-sahabat.html">musafirmuda.blogspot.com</a>, 23 September 2007</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.katakataku.com/2011/12/19/tentang-dua-sahabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesunyian Seorang Penulis</title>
		<link>http://www.katakataku.com/2011/12/12/kesunyian-seorang-penulis/</link>
		<comments>http://www.katakataku.com/2011/12/12/kesunyian-seorang-penulis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 12:21:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[On Writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.katakataku.com/?p=1931</guid>
		<description><![CDATA[Nama yang aku tunggu akhirnya muncul. Oktober sudah hampir lewat. Padahal di setiap Oktober, nama pemenang Nobel biasanya diumumkan. Daftar nominasi kandidat sendiri muncul setiap 1 Februari. Minggu pagi, seperti ritual biasanya, aku membuka Koran Tempo Minggu. Seperti biasa juga, aku langsung membuka halaman rubrik sastra dan buku. Nah, di halaman 19, aku menemukan nama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.katakataku.com/wp-content/uploads/2011/12/lonely.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1932" title="lonely" src="http://www.katakataku.com/wp-content/uploads/2011/12/lonely-265x300.jpg" alt="" width="265" height="300" /></a>Nama yang aku tunggu akhirnya muncul. Oktober sudah hampir lewat. Padahal di setiap Oktober, nama pemenang Nobel biasanya diumumkan. Daftar nominasi kandidat sendiri muncul setiap 1 Februari. Minggu pagi, seperti ritual biasanya, aku membuka <em>Koran Tempo</em> Minggu. Seperti biasa juga, aku langsung membuka halaman rubrik sastra dan buku. Nah, di halaman 19, aku menemukan nama Doris Lessing, peraih nobel sastra 2007 itu.</p>
<p>Potret Doris terpampang di samping judul “Kado Manis untuk Doris” (<em>Koran Tempo</em>, 21 Oktober 2007). Parasnya sudah uzur. Keriput menghiasi setiap sudut mata dan lekuk pipinya. Garis-garis lipatan kulit tegas nampak di dahinya. Rambutnya sudah semuanya memutih. Tapi, sorot bola mata yang tenggelam di antara lipatan kelopak matanya, tampak begitu tajam. Tanda betapa perempuan ini sudah banyak makan asam garam. Itulah Doris Lessing.</p>
<p>Doris lahir pada 22 Oktober 1919 di Kermanshah, Iran. Nama lengkapnya Doris May Taylor. Putri dari Alfred Cook Taylor, mantan kapten Inggris pada masa Perang Dunia I, dan Emily Maude Taylor, seorang perawat ini menjadi orang ke-106 yang mendapat anugerah ini.</p>
<p>Nama Lessing ia peroleh dari pernikahan kedua dengan Gottfried Lessing, seorang imigran Jerman-Yahudi yang ia kenal dalam Klub Buku Kiri. Doris beberapa kali terlibat dalam gerakan Kiri, entah di Partai Buruh Rhodesia Selatan maupun British Communist Party.<span id="more-1931"></span></p>
<p>Jalan kepenulisannya ia mulai dengan novel <em>The Grass is Singing</em> (1950). Novel ini berkisah tentang relasi istri petani kulit putih dengan budak kulit hitamnya. Konflik rasial menjadi konteks dari seluruh plot cerita. Berlanjut dengan antologi cerita dalam <em>This was The Old Chief’s Country</em> (1951), cerita pendek <em>Five</em> (1953), <em>The Children of Violence Series</em> (1952-1959). Novel fenomenal Doris adalah <em>The Golden Notebook</em> (1962). Novel ini berkisah tentang Anna Wulf, karakter cerita yang memunyai buku catatan untuk menumpahkan ide-idenya tentang Afrika, politik, komunisme, relasi dengan pria, dan seks. Ia menggunakan pisau analisis psikolog Carl Gustav Jung untuk mengeksplorasi mimpi, seni, mitologi, agama, dan filsafat. Tema-tema perempuan bisa ditemukan dalam karyanya <em>African Laughter: Four Visits to Zimbabwe</em> (1992), <em>Under My Skin</em> (1994), <em>The Summer Before the Dark</em> (1973), <em>The Fifth Child</em> (1988), dan <em>Walking in the Shade</em> (1997). Novel terbarunya adalah <em>The Cleft</em> (2007).</p>
<p>Aku mereka-reka apa yang akan Doris katakan pada hari penganugerahan 10 Desember nanti. Ia akan mendapatkan piagam dan medali bergambar Alfred Nobel berlapis emas 24 karat. Raja Swedia Carl XVI Gustaf akan memberi kado ulang tahun berupa uang 10 juta kron atau Rp 14 miliar.</p>
<p>“Pembaca bebas melakukan apa pun, bebas menilai, dan penulis hanya bisa mengikuti,” kata Doris dalam sepotong wawancara dengan Adam Smith, panitia penghargaan itu. Bagiku, itulah wujud kerendahan hati Doris. Meski demikian, tidak bisa dipungkiri dari karya-karyanya, Doris seorang yang menyuarakan keprihatinannya atas dunia sosial tempat ia hidup. Seperti hanya banyak penulis lain, Doris pun mengalami masa-masa kesendirian, asketik (mati raga), konflik, ditinggalkan, sepi. Aku senang menyebutnya sebagai soliter bagi penulis. Sepertinya, jalan-jalan kesunyian adalan jalan keharusan bagi para penulis.</p>
<p>Lihat saja para penulis lain. Gabriel Garcia Marquez, peraih Nobel Sastra 1982, tanpa letih berjuang dalam sayap Kiri dan mengkritik habis kediktaktoran Kolumbia, Laureano Gomez dan penggantinya, Jendral Gustavo Rojas Pinilla. Ia harus bersembunyi di Meksiko dan Spanyol. Dari tangannya lahirlah novel tentang refleksi mendalam atas sejarah Amerika Latin. Novel berjudul <em>One Hundred Years of Solitude</em> (1970) telah mengantarnya menjadi maestro realisme magis dunia. Novel ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Penerbit Bentang dengan judul <em>100 Tahun Kesunyian</em>. “Kita hanya sedikit sekali berimajinasi, sebab kita kekurangan alat-alat konvensional untuk lebih memercayai hidup. Inilah kawan, inti terdalam dari kesunyian kita,” katanya.</p>
<p>Di Asia, muncul nama Gao Xingjian. Peraih Nobel Sastra 2000 ini, pernah bermain ‘petak umpet’ dengan pemerintah China. Lelaki kelahiran Ganzhou ini baru bisa menerbitkan tulisannya lima tahun setelah Revolusi Kebudayaan berakhir tahun 1976. Kritikan pedas pada kebijakan represif pemerintah membuatnya pergi sementara ke Prancis pada tahun 1990. Ia juga mengkritik habis pembantaian berdarah di Lapangan Tiananmen tahun 1989. Naskah dramanya <em>Tauwong</em> (1992) membuat pemerintah China melarang semua tulisannya. Novel <em>Ling Shan</em> (Soul Mountain) menjadi karya terbesar Gao. “Saya mulai menulis novel saya, Soul Mountain, untuk mengusir kesepian jiwa saya di sepanjang waktu ketika karya-karya yang telah saya tulis dengan sensor diri yang ketat pun dilarang,” katanya pada saat pidato.</p>
<p>Ada lagi Nadine Gordimer dari Afrika Selatan. Perempuan peraih Nobel Sastra 1991 dipuji karena cara berceritanya yang sangat alami dan gaya menulisnya yang memukau. Tulisan-tulisannya diwarnai dengan keprihatinan atas rasialisme yang menghinggapi sistem sosial politik Afrika Selatan. Puncak pemikirannya tercermin pada <em>Writing and Being</em> (1995). Nadine menegaskan penulis mengada lewat karyanya dan bagaimana proses mengada itu dijelaskan oleh manusia melalui ragam cara, seperti agama, filsafat, ilmu pengetahuan, dan mitos.</p>
<p>Kenzaburo Oe dari Jepang dikenal sebagai kritikus bangsanya sendiri melalui novel-novelnya. Ia merupakan sastrawan pasca-Perang Dunia II. Karyanya bercerita seputar lingkungan hidup, antinuklir, dan antiperang. Novel termasyurnya berjudul <em>Man’en gannen no futtoboru</em> (The Silent Cry, 1967). Novel ini merupakan refleksinya mendalam atas peristiwa Hiroshima dan Nagasaki. Ia dianugerahi Nobel Sastra pada tahun 1994.</p>
<p>Lain lagi dengan Naguib Mahfouz dari Mesir. Ia dikejar-kejar lantaran karyanya terlalu banyak mengkritik otoritas agama. Bahkan, ia nyaris mati oleh tikaman dari penyerang gelap. Ia memenangi Nobel Sastra tahun 1988. Tidak ketinggalan juga Imre Kertesz dan Gunter Grass. Kertesz, novelis Hungaria, adalah seoarang Yahudi yang berhasil lepas dari kamp Auschwitz. Ia menyikapi holokaus itu dengan arif dan jauh dari kesumat. Tulisannya mengalir. Oleh karenanya, seperti dikatakan saat pidato, ia menulis untuk dirinya sendiri. Bukan untuk pembaca atau untuk memengaruhi orang lain. Grass, penulis Jerman, dikenal lantaran perannya menghidupkan sastra Jerman paskaperang. Ia seorang pecinta damai dan pengkritik kebijakan menjelang Jerman bersatu. Kertesz mendapat Nobel Sastra pada tahun 2002 dan Grass pada tahun 1999.</p>
<p>Sekali lagi, kesepian, asketisme, pengekangan diri, penindasan, hampir senantiasa mengiringi kehidupan para penulis itu. Boleh dibilang, situasi sosial semacam itu, ikut merangsang syaraf-syaraf kreatif mereka untuk bersastra. Di Tanah Air, kita tidak boleh melupakan sosok Pramoedya Ananta Toer. Sebagian karya-karyanya lahir di pembuangan di Pulau Buru. Siksa dan derita pun tidak luput mengunjungi sang penulis. Lebih-lebih kesepian, di mana banyak orang memalingkan muka darinya.</p>
<p>Tapi, penulis dan kesepian (soliter) tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Marguerite Duras menegaskan keberanian untuk kesepian dan terasing mutlak diperlukan oleh penulis. GP Sindhunata dalam sepotong tulisannya di internet, mengatakan kesepian bukan berarti isolasi. Itu menjadi semacam keberadaan diri yang sadar, yang justru terus bergulat untuk menemukan kontak. Tapi, juga menolak kontak.</p>
<p>Soal kesepian ini, aku ingat potongan catatan harian Soe Hok Gie. Berikut lima kalimat ungkapan kegelisahan yang pernah aku posting juga di blogku. &#8220;Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang. Makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan. Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian,&#8221; katanya.</p>
<p>Sindhunata menegaskan, dalam kesepian itu orang bisa menjadi liar. Menulis memang membuat orang menjadi liar. “Seorang penulis tiba-tiba mendapati dirinya liar seperti di hutan, dan selalu liar sepanjang hidupnya. Untuk menulis, orang harus menggigit bibir, bergulat dengan keliarannya. Untuk itu ia harus menjadi lebih kuat dari tubuhnya. Ia juga harus lebih kuat daripada apa yang hendak ditulisnya. Kalau tidak, ia akan menyerah dan kalah. Maka menulis itu sebenarnya bukan hanya menulis, tapi mengalahkan kelemahan dirinya, menundukkan apa yang dihadapinya,” kata seorang Jesuit yang baru saja menerbitkan novel anyarnya <em>Putri Cina</em> (2007).</p>
<p>Menurutnya, orang yang tidak berani sepi, dia tak mungkin jadi penulis yang baik. Tapi, kesepian bukanlah saat untuk beromantisme. “Kesepian itu adalah suasana, yang menantang kita untuk berani bergulat dengan seluruh realitas, yang ternyata tidak mudah kita taklukan. Tak jarang orang menyerah dalam pergulatan itu, karena ia merasa tidak kuat dan tidak mampu. Menulis akhirnya adalah suatu askese, matiraga, suatu kebertapaan di tengah keramaian,” katanya.</p>
<p>Aku sendiri membutuhkan waktu lama untuk menimbang-nimbang dalam menjatuhkan pilihan di jalan penulisan ini. Menulis sebagai sebuah matiraga sudah aku rasakan. Meski hanya karya-karya kecil saja yang baru aku hasilkan. Menulis membutuhkan jiwa besar dan hati rela berkorban. Menulis membutuhkan kedisiplinan yang besar. Menulis dekat dengan rasa sakit. Sepi. Ditinggalkan. Kemampuan bertahan. Godaan untuk segera menutup laptop, mematikan komputer, membuang pena jauh-jauh, merobek kertas berisi coretan, dan sebagainya. Lebih-lebih logika pasar memasang standarnya sendiri. Tapi, bagiku, godaan paling besar adalah kemalasan untuk duduk dan menulis. Ini sebuah perjuangan besar!</p>
<p>Benar apa yang dikatakan Pater Greg Soetomo SJ, di sebuah wisma skolastik para Jesuit muda di Kampung Ambon pada sepotong senja. Ia mengatakan banyak orang pintar tapi tidak bisa menulis. Seorang yang bertekad menjadi penulis harus membuktikan hidupnya sebagai seorang penulis. Ia mengumpamakan seorang penulis harus berani menjadi <em>the prodigal son</em>, anak hilang. Aku suka dengan metafor anak hilang ini. Ia benar-benar memunyai komitmen dan disiplin tinggi pada apa yang dicintai. Mungkin ia akan hilang dari komunitasnya. Bahkan, komunitas (keluarga)-nya pun merasa kewalahan, sedikit uring-uringan, menilainya nyeleneh (menyimpang dari umum) sebelum akhirnya memahami sikap dan komitmen dari orang yang bertekad menjadi penulis ini. Ia benar-benar mengalokasikan waktu untuk banyak membaca, menulis, lebih senang menyendiri, merenung, dan sebagainya. Mungkin inilah bahasa lain dari jalan-jalan sunyi yang harus ditempuh oleh seorang penulis.</p>
<p>Aku sendiri mengamini itu semua. Lebih-lebih, sudah banyak penulis telah mengalaminya. Menulis itu seperti berjalan di padang pasir kesunyian. Mungkin Robert Frost lebih tepat menggambarkannya. Ia mengatakan di hutan, ia menjumpai dua jalan. Satu jalan besar, mulus, lurus, dan sering dilalui orang. Satu jalan lain kecil, berkelok, penuh belukar, dan jarang dilalui orang. Frost dengan besar hati akhirnya memilih jalan yang jarang dilewati orang itu.</p>
<p>Aku juga memilih jalan itu!</p>
<p>[refleksi atas berbagai sumber]</p>
<p><em>*Artikel ini pindahan dari blog lawas <a href="http://musafirmuda.blogspot.com/2007/10/nobel-sastra-dan-kesunyian-seorang.html">musafirmuda.blogspot.com</a> dengan judul yang ubah.</em> Sumber foto: http://artblart.files.wordpress.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.katakataku.com/2011/12/12/kesunyian-seorang-penulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senja di Bangsal 214</title>
		<link>http://www.katakataku.com/2011/12/04/senja-di-bangsal-214/</link>
		<comments>http://www.katakataku.com/2011/12/04/senja-di-bangsal-214/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 17:11:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Friends from Heaven]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.katakataku.com/?p=1911</guid>
		<description><![CDATA[[8 September 2006] PASTOR tua itu masih setia duduk di atas kursi roda. Di temani gadis muda, mata sang pastor menerawang jauh ke langit-langit. Langit-langit tempat senja mulai turun dan terkapar di ibukota. Burung-burung pipit mulai pulang kandang di pepohonan yang menjulang di taman rumah sakit. Kicauan burung-burung yang telah lelah mengembara seharian semakin senyap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.katakataku.com/wp-content/uploads/2011/12/oldmandua.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1912" title="oldmandua" src="http://www.katakataku.com/wp-content/uploads/2011/12/oldmandua-219x300.jpg" alt="" width="219" height="300" /></a><strong>[8 September 2006]</strong> PASTOR tua itu masih setia duduk di atas kursi roda. Di temani gadis muda, mata sang pastor menerawang jauh ke langit-langit. Langit-langit tempat senja mulai turun dan terkapar di ibukota. Burung-burung pipit mulai pulang kandang di pepohonan yang menjulang di taman rumah sakit. Kicauan burung-burung yang telah lelah mengembara seharian semakin senyap ditelan senja.</p>
<p>Mereka mempersiapkan diri untuk istirahat dalam pelukan malam. Malam yang hangat. Malam yang hening. Tanpa terganggu oleh hiruk pikuk sisa kemacetan ibukota. Senja di St. Carolus itu berjubah kuning keemasan, sebuah simfoni pengantar malam.</p>
<p>Tubuh pastor itu tampak lemah. Tubuhnya yang kelihatan rapuh dibungkus dengan kaos putih berlapis jaket hitam. Telapak tangan kirinya tampak mengembung karena digempur habis oleh jarum infus yang sudah habis delapan botol. Kedua kakinya sudah ditumbuhi bercak hitam dengan motif retak-retak seperti tanah waduk yang kering kerontang dihajar oleh kemarau panjang.</p>
<p>“Pernikahan Thomas bagaimana?” kata pastor itu memecah keheningan senja yang mulai menghitam. Pastor itu menanyakan tentang salah satu orang muda dampingannya yang sehari lalu melepas masa lajangnya. Kata “orang muda”, itulah yang layak dilekatkan pada sosok pastor itu. Meski raga sudah mulai digerogoti senja, dalam bola mata pastor itu tampak kilatan-kilatan cahaya pertanda semangat mudanya tidak bakalan padam diterpa usia.</p>
<p>Pepatah mengatakan di mana ada gula, di situ ada semut. Nah, ia senantiasa seperti gula-gula yang dikelilingi orang muda. Sebut saja lingkaran sahabat-sahabat muda. Puluhan tahun pastor itu mengabdikan energi hidupnya bagi para sahabat muda.</p>
<p>Ada yang bisa diingat di senja itu. Bayangkan saja 2000 tahun lalu, saat Orang Muda dari kampung Nazaret di pagi hari yang cerah dan angin pantai sedang sejuk-sejuknya, ia memanggil Petrus dan Andreas. Tatapan tajam Pemuda dari Nazaret itu menusuk hati kedua bersaudara itu. Tak lama, kedua orang itu melangkah, meningalkan jala mereka yang urung ditata, dan menuruti undangan Pemuda itu saat mengatakan, “Ikutlah Aku.” Dua orang mengikuti Dia. Lalu, disapalah Yakobus dan Yohanes saat mereka sibuk memperbaiki jala di atas perahu bersama ayahnya.</p>
<p>“Ikutlah Aku!” Sapaan itu seakan mengikat dan menarik kedua bersaudara itu pergi meninggalkan ayahnya sendirian di atas perahu. Empat orang mengikutinya. Jumlah itu semakin lama semakin banyak. Lingkaran para sahabat itu semakin lama semakin besar.  Dan Pemuda Nazaret itu menjadi pusat lingkaran. Mereka berjalan, mereka bergerak. Sesekali diam, tapi tidak untuk menetap. Mereka bergerak, terus bergerak. Menembus malam, menyisir senja. Menyusur kota-kota dan desa-desa. Bergerak dan bergerak. Mewartakan Kabar Baik bagi orang miskin, keadilan, pembebasan bagi para tawanan, penglihatan bagi orang buta, pembebasan orang tertindas, dan datangnya tahun rahmat Tuhan.</p>
<p>Sampai akhirnya di sebuah siang yang gelap, mendung bergulung-gulung, panas membakar bumi, dan burung-burung enggan terbang, Pemuda dari Nazaret itu melepaskan jiwanya terbang ke langit-langit. Ia mati di tangan orang-orang takut dan orang-orang bodoh yang tidak pernah paham apa yang telah mereka lakukan. Ia mati dengan segenggam cita-cita bahwa langit dan bumi yang baru benar-benar akan terwujud di muka bumi ini. Dia mati sebagai orang muda.</p>
<p>Tapi, kematian tidaklah abadi. Ia hanyalah lorong gelap nan pendek menuju kehidupan baru. Pemuda itu bangkit. Kemenangan yang dibayar dengan luka, sakit, dan kematian. Di mega-mega ia memberi perutusan pada sahabat-sahabat- Nya. Mengutus mereka untuk tidak berhenti bergerak. Tidak pernah lelah. Ia sudah memberi contoh. Dan ia berjanji akan menyertai mereka sampai akhir zaman. Perutusan ini pula yang diterima oleh pastor itu.</p>
<p>Pastor itu masih terus memandangi senja yang kian menghitam. Lampu-lampu di taman dan di sepanjang koridor rumah sakit sudah menyala. Kilatan-kilatan cahaya yang terpancar dari kedua bola matanya seolah seperti matahari yang tak pernah mengenal malam. Sudah dipastikan, pastor itu tidak mau duduk terkulai di kursi roda atau tertidur lemah di ranjang rumah sakit. Kilatan-kilatan cahaya dari bola matanya seakan membisikan kepada senja: “Saat orang lain istirahat dan duduk-duduk, aku akan bangkit berdiri dan meneruskan perjalanan.”</p>
<p>Pastor itu harus sujud sejenak di depan realitas. Tapi, jiwa mudanya tidak pernah berhenti bergerak seperti yang dilakukan Gurunya yang tidak pernah lelah berjalan. Ia juga membisikan pada senja bahwa dirinya ingin menjadi ikan-ikan kecil yang berani melawan arus. Arus zaman yang menggilas dan memasung orang-orang di dalamnya. Dan inilah yang selalu ia sampaikan pada sahabat-sahabat mudanya. Orang muda mampu melakukan sesuatu. Mampu membangun budaya tanding yang sudah memorak-porandakan keadaban dan martabat manusia. Budaya tanding melawan kultur yang tidak lagi menghormati dan sujud pada kehidupan.</p>
<p>Ia menaruh harapan besar pada orang muda. Ia sangat mencintai orang muda. Ia dekat dan terjun dalam alam orang muda. Ia senantiasa berpesan seperti yang pernah diucapkan Dom Helder Camara: “Jangan pernah menjadi tua, tanpa harus menjadi muda.” Jiwa muda yang merdeka, punya mimpi-mimpi masa depan, dan energi segar untuk bertindak. Ia juga seperti pemuda asal Loyola yang mendapatkan vision di kapel La Storta. Ia dipanggil untuk ikut memanggul salib di dunia ini bersama Pemuda dari Nazaret itu. Ia telah menyerahkan seluruh kemerdekaan, akal budi, hati, kehendak, demi kemuliaan Allah yang lebih besar. Satu yang ia mohon adalah rahmat dan cinta Tuhan menjadi satu-satunya harta yang tidak pernah usang dan raib dimakan ngengat.</p>
<p>Senja sudah hengkang dari kaki langit. Malam sudah menyempurnakan dirinya. Tapi, matahari di bola mata pastor itu tidak pernah tenggelam. Meskipun senja menyelimuti raganya. Meskipun seperti Petrus yang disapa Pemuda Nazaret itu: “Ketika kamu masih muda, kamu biasa mengencangkan ikat pinggangmu, dan pergi kemana pun yang kamu inginkan. Tetapi ketika kamu menjadi tua, kamu akan merentangkan tanganmu dan seorang yang lain akan mengencangkan ikat pinggangmu dan membawamu kemana kamu tidak mau pergi.” (Yoh 21:18).</p>
<p>Untuk sementara pastor itu harus setia duduk di kursi roda atau berbaring di bangsal 214 Xaverius. Mungkin ini yang tidak ia kehendaki. Tapi, ini demi pemulihan kesehatan. Memulihkan energi yang telah dirong-rong penyakit diabet dan sudah merambah ke fungsi ginjalnya. Pulih untuk berjuang.</p>
<p>Sementara itu, sahabat-sahabat muda masih setia menemani dan melingkarinya. Dan matahari di dalam bola matanya itu seakan mau mengatakan sebuah optimisme. Meskipun raganya sudah memasuki senja, tapi ia yakin bahwa orang-orang muda di sekelilingnya ini akan menjadi fajar-fajar baru. Mereka akan menjadi matahari-matahari yang akan menerangi dan melintasi bumi dari berbagai arah mata angin. Dan pastor itu yakin bahwa langit dan bumi yang baru akan terwujud di muka bumi ini. Itu karena perjuangan yang terus dilakukan oleh matahari-matahari baru yang tak lelah berziarah.</p>
<p>Sudah malam&#8230;.</p>
<p>@ 2006</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.katakataku.com/2011/12/04/senja-di-bangsal-214/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu Pulang</title>
		<link>http://www.katakataku.com/2011/11/28/ibu-pulang/</link>
		<comments>http://www.katakataku.com/2011/11/28/ibu-pulang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 12:12:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celotehan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.katakataku.com/?p=1881</guid>
		<description><![CDATA[HANYA 10 hari ibu berada di Jakarta. Senin pagi kemarin, ular besi menelan ibuku. Membawanya kembali ke Jogja. Sepotong rasa sedih tertinggal di hati. Belum puas maksud hati mengenyam kangen. Tapi, apa boleh buat. Kerabat di Jogja lebih membutuhkan kehadiran ibu. Ibu tampak lebih tua. Garis-garis putih semakin banyak menghiasi mahkotanya. Kerutan-kerutan di kulitnya semakin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.katakataku.com/wp-content/uploads/2011/11/mother_child.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1882" title="mother_child" src="http://www.katakataku.com/wp-content/uploads/2011/11/mother_child-232x300.jpg" alt="" width="232" height="300" /></a>HANYA 10 hari ibu berada di Jakarta. Senin pagi kemarin, ular besi  menelan ibuku. Membawanya kembali ke Jogja. Sepotong rasa sedih  tertinggal di hati. Belum puas maksud hati mengenyam kangen. Tapi, apa  boleh buat. Kerabat di Jogja lebih membutuhkan kehadiran ibu.</p>
<p>Ibu  tampak lebih tua. Garis-garis putih semakin banyak menghiasi  mahkotanya. Kerutan-kerutan di kulitnya semakin tegas. Langkahnya juga  tidak sekokoh dulu. Semut-semut tidak kasat mata pun berkoloni di setiap  persendiannya. Membuatnya berlobang. Rapuh. Gejala osteoporosis. Tapi,  ada yang tidak berubah dalam diri ibu. Pancaran matanya memperlihatkan  sebuah ketegaran, keuletan, dan pengharapan tanpa batas. Tekadnya kuat.  Kalau sudah melakukan pekerjaan, ia tidak mau berhenti meski rasa capek  menggerayangi tubuhnya. Semua harus beres. Tanpa ada penundaan.</p>
<p>Selama  10 hari itu, ibu harus berbagi malam dengan dua rumah. Rumah kakak  perempuanku di mana cucu pertamanya berada dan rumah ibu di mana aku  tinggal. Kehadiran ibu membuat tugas-tugas domestikku cukup terbantu.  Menyapu. Mengepel. Membersihkan gudang. Belanja ke pasar. Memasak.  Menyirami suplir. Mencuci. Kalau ada jeda, ibu mengantar keponakan ke  sekolah. Menyuapinya. Berbagi cerita. Memilin rosario. Mengunjungi  kerabat. Menyambangi tetangga. Membaca buku. Tak ketinggalan, ibu  memasak menu favoritku, yakni kering tempe.</p>
<p>Soal buku, tidak  heran, ibuku pun doyan membaca. Di hari pertama kunjungannya ke Jakarta,  ibu memintaku menyediakan buku. Di perpustakaan rumah, terserak banyak  buku. Kusuguhkan 2 buku. Bukan buku filsafat. Bukan novel. Tapi, buku  rohani, pemantik inspirasi. Kusodorkan dua buku kecil. Satu buku  karangan Henri J.M. Nouwen berjudul “Buah Pengharapan” (Kanisius, 1998)  dan “Girisonta: Dari Novisiat Menatap Taman Getsemani, Percikan Kisah  Para Sahabat.” Buku pertama selesai ia baca. Buku kedua hanya ia sortir  saja karena kumpulan kisah.</p>
<p>Pernah sebuah siang, aku dan ibuku  duduk bareng di sofa hijau. Kami duduk bersama tanpa obrolan karena kami  sibuk dengan buku bacaan masing-masing. Sesekali kulihat ibuku mengatur  letak kacamata plusnya. Menarik ulur letak buku untuk mencari fokus  baca. Membasahi jari tengah kanannya dengan sejumput liur untuk membuka  halaman per halaman. Aku berjanji membelikan buku-buku rohani padanya.  Tapi, belum kesampaian juga menebus janji itu. Ular besi bernama Fajar  Utama itu keburu menculik ibu. Membawanya kembali ke kampung halaman.</p>
<p>Sesekali,  aku bisa membaca kecemasan dan kesedihan menghiasi parasnya. Apalagi,  ketika menerima kabar dari Jogja, si bungsu meminta uang untuk sebotol  anggur. Pesta anggur dengan dewa mabuk. Sampai kapan malam-malam seperti  itu akan berakhir. Sudah belasan tahun, ibu menjalani ini dengan tabah.  Tapi, semua itu membuat iman ibu semakin membaja. Kuat. Kekuatan ibu  hanya satu, yakni p-e-n-g-h-a-r-a-p-a-n. Pengharapan akan masa depan  yang lebih baik. Bagi si bungsu. Bagi keluarga. Bagi dirinya sendiri.  Seakan ia mengamini tidak ada rasa sakit yang abadi.</p>
<p>Aku pernah  memberontak pada Tuhan. Aku katakan, ibuku sudah terlalu sabar menjalani  realitas ini. Tak kunjung jugakah Dirimu memberinya sepotong  kebahagiaan di usia tuanya? Ibuku seperti perempuan tua yang  mengetuk-ketuk pintu rumah sahabat untuk meminta pertolongan karena  anaknya sakit. Tapi, sampai tangan perempuan itu berdarah-darah karena  terlalu lama mengetuk pintu kayu itu, pintu juga belum dibukakan. Tapi,  itu dulu. Ibu sendiri tidak protes. Justru, ibu mengenyam semua itu  sebagai bagian dari iman personalnya. Ia selalu menyimpan segala perkara  di dalam hatinya.</p>
<p>Aku pernah membenci ibu. Dulu, saat aku di  asrama. Sejak hari pertama, ibu berjanji akan mengirimiku surat. Tapi,  selama 8 tahun aku berada dan akhirnya keluar dari asrama, ibuku tidak  pernah menulis sepucuk surat pun untuk satu cerita atau satu larik  kalimat atau satu kata pun. Sepertinya hanya teman-temankulah yang  ditakdirkan menerima surat. Sampai sekarang, aku belum menanyakan  mengapa ibu tidak pernah berkirim surat. Itu dulu. Sekarang, kebencian  itu sudah lama tanggal dari hatiku.</p>
<p>Itulah ibu. Satu pesan ibu  sebelum pulang: jangan lupa membersihkan dapur dan gudang setiap malam  sebelum tidur. Tiga hari ini, pesan ini aku penuhi. Maklum, aku tidak  mau trio mickey mouse itu datang lagi. Dapur dan gudang tidak pernah  absen dari sapu, cairan wipol, dan kain pel. Semua barang harus  disterilkan dari binatang pengerat itu. Dan para pengerat berbau tak  sedap itu tidak nongol lagi. Mungkin sudah migrasi ke rumah tetangga.</p>
<p>Pesan  itu diulangi saat tiba di Stasiun Senen. Tepatnya di gerbong 5 nomer 5  A. Pukul 06.20, ular besi itu menjalar. Derit roda-rodanya semakin  kencang. Ibu pun dibawa lari. Akhirnya, ibu pulang juga.</p>
<p><strong>Keterangan:</strong> diambil dari blog lawas, 20 September 2007</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.katakataku.com/2011/11/28/ibu-pulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membungkus Waktu di Kota Hujan</title>
		<link>http://www.katakataku.com/2011/05/17/membungkus-waktu-di-kota-hujan/</link>
		<comments>http://www.katakataku.com/2011/05/17/membungkus-waktu-di-kota-hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 May 2011 13:38:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.katakataku.com/?p=1838</guid>
		<description><![CDATA[JENDELA taksi biru itu mulai buram. Hujan turun.  Kami bertolak dari Bogor.  Si Kecil duduk termangu di bangku belakang. Membelakangi langit yang sudah lama menghitam. Tubuhnya tenggelam dalam jaket biru tua yang membungkusnya. Ia bergeming. Sesekali melempar pandangan ke luar jendela. Jalanan di Kota Hujan membasah. Kami terdiam lama dalam mobil Limo itu. Hanya suara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.katakataku.com/wp-content/uploads/2011/05/ujan.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1870" title="ujan" src="http://www.katakataku.com/wp-content/uploads/2011/05/ujan.jpg" alt="" width="236" height="200" /></a>JENDELA taksi biru itu mulai buram. Hujan turun.  Kami bertolak dari Bogor.  Si Kecil duduk termangu di bangku belakang. Membelakangi langit yang sudah lama menghitam. Tubuhnya tenggelam dalam jaket biru tua yang membungkusnya. Ia bergeming. Sesekali melempar pandangan ke luar jendela. Jalanan di Kota Hujan membasah. Kami terdiam lama dalam mobil Limo itu. Hanya suara hujan yang terdengar samar. Beradu dengan suara klakson yang sesekali terdengar. Nyaris hening. Lalu, “Huekk!!” Si Kecil muntah.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Itulah epilog.  Epilog dari cerita liburan dua hari kami. Iya, kami. Kami sekeluarga: aku, istriku, dan anakku. Liburan kali ini sangat istimewa. Bukan karena menepi ke Bogor—Kota Hujan dengan serangkaian objek wisata bersejarah itu. Bukan. Tapi, karena kami berhasil membungkus waktu bersama-sama. Membungkus waktu bersama keluarga—sebuah kesempatan langka bagiku belakangan ini. Mungkin sejak kelahiran Si Kecil—Jagad Cleva Nitisara—tiga tahun lebih tiga bulan silam, ini kesempatan pertamakali bagi kami liburan secara utuh. P-r-i-h-a-t-i-n.</p>
<p>Hotel Pangrango menjadi ‘kemah’  sementara untuk menghabiskan malam. Tak ada acara istimewa. Kami biarkan mengalir seperti anak sungai. Sebuah <em>pantha rei</em>—demikian Herakleitos pernah berceloteh ribuan tahun silam. Kami menyetel televisi. Membuka bungkusan ayam McD yang kami beli dari depan hotel. Bersantap kentang panas. Mengasup cokelat. Melompat-lompat di atas kasur superempuk. Bermain air di bathup. Memandangi lampu-lampu kendaraan yang mengerjap bak kunang-kunang. Membaca sepotong cerpen. Menarik selimut. Tidur berpelukan. Sabtu, 7 Mei 2011.</p>
<p>Tempias gerimis di kaca jendela. Sudah pagi. Jalanan di bawah di depan McD mengkilap. Sisa hujan. Pagi hadir tanpa matahari. Kami pun berkemas. Mandi. Mengasup sup buntut, sphageti, dan sepotong omelet di resto hotel.  Menyeruput secangkir kopi tanpa krim.</p>
<p><strong>Maria della Strada </strong></p>
<p>Katedral Santa Perawan Maria. Katedral yang menjulang di jalan Kapten Muslihat no. 22 ini menjadi stasi pertama perjalanan hari itu. Minggu, 8 Mei 2011. Kami membungkus waktu untuk Tuhan dalam sepotong misa. Kami kebagian bangku di luar karena datang telat. Matahari mulai muncul mengantar bayangan bangunan tua yang berdiri pada tahun 1889 itu. Orang-orang tampak khusyuk mendengarkan kotbah dari mimbar. Si Kecil tidak jenak. Memilih bermain di pelataran katedral yang padat oleh mobil-mobil terparkir.</p>
<p>Sungguh, katedral menyuguhkan kedamaian yang tak terlukiskan  dalam hati ini. Pekarangan ini mengantar kedamaian yang bukan kedamaian biasa. Ada sesuatu yang dekat. Rasa rindu yang bukan rindu biasa membuncah. Ingin ditumpahkan di sana. Bukan pada siapa-siapa. Hanya pada yang ada di atas sana.</p>
<p>Ada Maria di dinding katedral—tepatnya patung Maria. Maria sedang membobong bayi Yesus. Matanya memandang ke bawah. Mungkin sedang memandang diriku.Memandang si kecil yang berjalan naik turun anak tangga. Memandang istriku yang duduk di bangku bakso. Aku bergeming dalam diam. Melambungkan sepotong seruan dalam batin: Maria della Strada—Maria Bunda Pejiarah. Doakan kami dalam pejiarahan sebagai keluarga kecil ini.</p>
<p>Misa usai. Rosario baru diberkati Monsinyur. Kami bertolak membelakangi katedral. Gerobak kuda dipanggil. Kami mengelilingi Kebon Raya—kebon berpohon superbesar dan menyimpan cerita sejarah itu. Kembali ke Pangrango. Berkemas. Memanggil taksi biru. Meluncur ke Taman Safari.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Jendela taksi biru itu mulai buram. Hujan turun.  Kami bertolak dari Bogor.  Si Kecil duduk termangu di bangku belakang. Membelakangi langit yang sudah lama menghitam. Tubuhnya tenggelam dalam jaket biru tua yang membungkusnya. Ia bergeming. Sesekali melempar pandangan ke luar jendela. Jalanan di Kota Hujan membasah. Kami terdiam lama dalam mobil Limo itu. Hanya suara hujan yang terdengar samar. Beradu dengan suara klakson yang sesekali terdengar. Nyaris hening. Lalu, “Huekk!!” Si Kecil muntah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.katakataku.com/2011/05/17/membungkus-waktu-di-kota-hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mimpi Ibumu</title>
		<link>http://www.katakataku.com/2011/05/15/mimpi-ibumu/</link>
		<comments>http://www.katakataku.com/2011/05/15/mimpi-ibumu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 May 2011 02:20:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Friends from Heaven]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.katakataku.com/?p=1892</guid>
		<description><![CDATA[TIDAK lama setelah kamu bilang tidak ingin mati di pagi hari, ibumu bermimpi tentang peti mati. Tiba-tiba saja, ibumu didatangi ketakutan luar biasa. Ibumu melihat seonggok peti mati di pojok kamar tidurnya. Peti itu tidak lazim. Ganjil. Ukurannya terlalu longgar. Tidak cocok buat ukuran manusia. Manusia paling besar sekalipun. Ukurannya dua kali lipat dari biasanya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.katakataku.com/wp-content/uploads/2011/12/mimpi-ibumu.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1893" title="mimpi ibumu" src="http://www.katakataku.com/wp-content/uploads/2011/12/mimpi-ibumu-300x221.jpg" alt="" width="300" height="221" /></a>TIDAK lama setelah kamu bilang tidak ingin mati di pagi hari, ibumu bermimpi tentang peti mati. Tiba-tiba saja, ibumu didatangi ketakutan luar biasa. Ibumu melihat seonggok peti mati di pojok kamar tidurnya. Peti itu tidak lazim. Ganjil. Ukurannya terlalu longgar. Tidak cocok buat ukuran manusia. Manusia paling besar sekalipun. Ukurannya dua kali lipat dari biasanya.</p>
<p>Ibumu tercengang dan jantungnya berdegup kencang saat sesuatu mengguncang-guncang peti aneh itu. Seperti ada suara gaduh di dalam peti. Ada yang kegerahan di sana. Ada yang menggeliat. Mungkin roh-roh orang mati yang menginginkan pembebasan. Pembebasan dari lorong gelap atau kubangan hitam tak bertujuan. Mereka memukul-mukul kayu mahoni itu sambil mengeluarkan desisan dan jeritan melengking.</p>
<p>Ibumu membeku dalam rasa takut. Dipilinnya butiran-butiran rosario diiringi komat-kamit mulutnya mengucapkan mantra suci. Kata Tuhan berkali-kali tergelincir dari bibirnya yang tergetar. Tapi, peti itu masih teronggok di pojok kamar. Tidak mau pergi. Seperti menantang dengan arogan. Setan pun tidak takut pada Tuhan. Jemari keriput ibumu terus memilin rosario itu. Berputar berkali-kali. Tidak tahu persis sudah berapakali ibumu memilin butiran kayu cendana itu dan memohon pada Ratu Para Malaikat itu. Lagi-lagi, peti mati itu tetap saja enggan tanggal. Teronggok dan menakutkan. Sampai akhirnya, ibumu terjaga dan menemukan dirinya basah oleh butiran kristal air mengembung dari pori-pori kulitnya.</p>
<p>Saat ibumu bergumul dengan peti brengsek dalam mimpinya, kamu pun disekap oleh kekosongan. Parasmu menegang saat kau mendengar bunyi doa pada Maria keluar dari kamar ibumu. “Ibu pasti mimpi buruk!” katamu dalam hati.</p>
<p>Itu hanya mimpi. Boleh saja orang menafsirkan bunga tidurnya. Orang Jawa juga memunyai kamus penafsir mimpinya sendiri. Lebih-lebih bila dikaitkan dengan permainan angka dalam judi. Angka buntut. Sebuah mimpi ditafsirkan untuk disuguhkan dalam spekulasi. Aneh-aneh saja. Tapi, ini sebuah realitas di depan mata. Realitas yang dihidupi oleh orang-orang modern dengan malu-malu.</p>
<p>Konon, Yusuf di Mesir dikenal orang sebagai tukang tafsir mimpi. Sepotong cerita mengisahkan Raja Mesir meminta Yusuf menafsirkan mimpinya. Raja bermimpi telah melihat tujuh ekor sapi betina gemuk, tujuh ekor sapi betina kurus, dan tujuh tangkai gandum hijau ditambah tujuh tangkai lainnya yang kering. Yusuf menafsirkan itu sebagai pesan agar seluruh negeri bercocok tanam selama tujuh tahun seperti biasa, yang dituai tetaplah melekat di tangkainya, dan sedikit saja yang dimakan. Tak lama, negeri itu dikunjungi musim kemarau panjang. Tujuh tahun yang amat sukar. Lalu, kemarau diganti hujan dan warga bergembira memerah anggur.</p>
<p>Tapi, bagaimana dengan peti mati yang teronggok menakutkan itu? Bisa jadi, rasa letih sedang mengunjungi ibumu. Bisa jadi ada pesan terselip di bunga tidurnya. Bisa jadi itu gunung es persoalan yang belum mendapat rekonsiliasi dan membuncah dalam mimpi dini hari. Kejadian dalam mimpi pada dasarnya bukan realitas yang terjadi secara <em>an sich</em>. Namun, kejadian itu mampu melibatkan emosi dan indera orang yang bermimpi. Takut. Geram. Sedih. Gembira. Tak disangkal, mimpi tentang hal yang menakutkan tidak jarang menguras energi orang-orang yang mengalaminya. Was-was dan kawatir. Yang jelas, menurutku, mimpi tetaplah mimpi. Menjaga kesadaran jauh lebih penting dari memikirkan apa arti sebuah mimpi. Bagiku, hidup adalah kado istimewa bagi orang-orang sadar. Kesalahan terbesar orang-orang zaman ini adalah tidak sadar akan apa yang mereka lakukan.</p>
<p>Mendengar ceritamu tentang mimpi ibumu, aku mencoba mencicipi bayangan itu. Bayangan peti mati yang begemuruh di pojok kamar tidur. Aku juga bisa merasakan aroma horor mengelus bulu kuduk. Tapi, ini cuma bayangan. Santai saja, mimpi itu tidaklah abadi. Sama seperti malam yang tidak pernah abadi. Sama seperti yang pernah aku katakan padamu pada subuh hari, pagi tidak pernah merelakan malam menjadi perawan tua.</p>
<p>Dan peti mati itu masih teronggok di pojok ruangan. Minimal di ruang imajiner dalam batok kepalaku&#8230;.</p>
<p>*Tulisan ini pindahan dari blog lawas, 22 Maret 2007</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.katakataku.com/2011/05/15/mimpi-ibumu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Mata Air&#8221; Merapi</title>
		<link>http://www.katakataku.com/2011/05/13/mata-air-merapi/</link>
		<comments>http://www.katakataku.com/2011/05/13/mata-air-merapi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 May 2011 12:41:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celotehan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.katakataku.com/?p=1726</guid>
		<description><![CDATA[Muntilan abu-abu.  Selasa, 16 November 2010. Siang tampil kumuh di kota kecil itu. Debu terus mengepul di jalanan. Pohon-pohon sayu. Dahan-dahan patah. Rumah-rumah tampak serba putih. Pucat. Sepi. Sebagian terkunci. Beberapa orang  beraktivitas dengan masker membungkam mulutnya. Pasir menggunung di kanan kiri jalan. Sementara sosok Merapi tak tampak. Awan pekat membungkusnya. O, Muntilan benar-benar seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.katakataku.com/wp-content/uploads/2011/05/merapi_02.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-1826" title="merapi_02" src="http://www.katakataku.com/wp-content/uploads/2011/05/merapi_02-242x300.jpg" alt="" width="242" height="300" /></a>Muntilan abu-abu.  Selasa, 16 November 2010. Siang tampil kumuh di kota kecil itu. Debu terus mengepul di jalanan. Pohon-pohon sayu. Dahan-dahan patah. Rumah-rumah tampak serba putih. Pucat. Sepi. Sebagian terkunci. Beberapa orang  beraktivitas dengan masker membungkam mulutnya. Pasir menggunung di kanan kiri jalan. Sementara sosok Merapi tak tampak. Awan pekat membungkusnya. O, Muntilan benar-benar seperti Kota Debu.</p>
<p>Terakhir menyambangi Muntilan adalah lima tahun silam. Iya, saat itu di bulan Agustus. Saat ingin menyaksikan Festival Lima Gunung di Desa Petung. Muntilan, kala itu, bersih seperti kota-kota lain. Muntilan jadi kota transit.  Kali ini, saya ke sini lagi. Bukan dengan <a href="http://aureliaclaresta.wordpress.com/">Aurelia Claresta</a> dan mas Gunawan. Tapi dengan teman-teman sekantor. Ah, pengalaman lima tahun silam masih saya bungkus rapat. Bila mau, silakan dibuka saja di <a href="http://www.katakataku.com/2009/08/23/memotret-seni-di-lereng-merbabu-2/">tautan ini</a>.</p>
<p>Mobil kami terus melaju. Menembus tirai debu. Berhenti di halaman parkir pastoran Sanjaya. Di sini, kami mencari Romo Kirjito. Romo Kirjito adalah pastor di Paroki Sumber—empat  kilometer dari pucuk Merapi. Dia mengungsi di sini bersama warganya. Kami bertandang ke sini tidak tanpa sebab. Kami sedang mempersiapkan perayaan ulang tahun dari Guru Marketing Indonesia—Hermawan Kartajaya. Ulangtahunnya bersamaan dengan ulang tahun Romo Kirjito. Ia mau merayakan bersama.  Bukan dengan pesta pora. Tapi, dengan berbagi harapan bersama para pengungsi.</p>
<p>Suasana Pastoran Sanjaya juga abu-abu. Debu dan pasir di mana-mana. Di meja, ada kantung plastik tergeletak. Isinya kerikil. Iya, k-e-r-i-k-i-l. “Itu kerikil yang menghujani Muntilan. Saat awan panas bergerak ke Selatan, kami kebagian hujan kerikil dan abu,” kata Romo Kirjito mulai berbagai celoteh. Romo Kir—sapaan akrab romo—lalu mempertontonkan foto-foto dan video saat Merapi meletus. Debu. Awan bergulung-gulung. Orang riuh mengungsi. Suara kemeresek. Awan pekat. Daun-daun sayu. Pohon-pohon mematung. Matahari suram. Kendaraan berseliweran.</p>
<p>Ada satu video menarik. Minimal buat saya pribadi. Di sebuah kampung yang sepi—aku lupa menanyakan nama kampung itu. Tidak hanya manusia yang kehilangan tempat tinggal. Seekor ayam betina juga. Ayam ini berjalan ke sana ke mari. Paruh dan cekernya mengais tumpukan kayu yang terbungkus debu vulkanik. Dia mencari makan. Tak satu pun beras atau apa pun yang ia temukan untuk dimakan. Ayam betina itu tampak celingukan.</p>
<div id="attachment_1827" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://www.katakataku.com/wp-content/uploads/2011/05/merapi_01.jpg"><img class="size-medium wp-image-1827" title="merapi_01" src="http://www.katakataku.com/wp-content/uploads/2011/05/merapi_01-300x228.jpg" alt="" width="300" height="228" /></a><p class="wp-caption-text">Guntur, Chairul, Ilka, Cicil, Renny, dan Saya</p></div>
<p>Ada satu yang baru di antara dahan-dahan yang patah dan tanaman yang ambruk akibat tak kuat menahan beban debu vulkanik. Sebuah tunas pisang bertumbuh. Daunya hijau muda. Menyala di antara pohon-pohon lain yang ambruk dan berdebu. Kehidupan belum berakhir. Iya, kehidupan masih terus berjalan di lereng Merapi. “Tunas pisang ini adalah tanda masih ada harapan. Pisang adalah tanaman paling rapuh dan lemah di antara tanaman dan pohon di lereng Merapi. Tapi, dia bertahan di sini. Tunas ini memberi kami pengharapan. Kepada tunas pisang saja Tuhan masih mencintai, apalagi dengan kita sebagai manusia,” kata Romo Kirjito. Ah, kata-kata Romo Kir ini bagaikan mata air dari lereng Merapi. Memberi kekuatan. Memberi harapan. M-e-n-y-e-g-a-r-k-a-n.  Hal sederhana tapi sungguh dalam  yang tidak ditangkap oleh orang kebanyakan.</p>
<p>Senja  beringsut dengan muram. Masih di pastoran Sanjaya. Malam datang dan mengantarkan kepada kami seorang lelaki muda berkopiah. Namanya  Sodiq. Sodiq merupakan sahabat Romo Kir. Keduanya bekerja bersama dalam membangun lereng Merapi. Mereka tak peduli soal agama. Begitulah Romo Kir. Meskipun dia pastor yang <em>notabene</em> Katolik, dia punya spirit pluralis. Warga Sumber pun hidup dengan guyup tanpa mempersoalkan perbedaan.  Mereka saling berbagi. Pada Idul Adha lalu, Romo Kir mempersilakan warga Muslim menggelar sholat id di pelataran gereja.  O, sepotong kearifan dari Lereng Merapi.</p>
<div id="attachment_1831" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.katakataku.com/wp-content/uploads/2011/05/merapi_031.jpg"><img class="size-medium wp-image-1831" title="merapi_03" src="http://www.katakataku.com/wp-content/uploads/2011/05/merapi_031-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a><p class="wp-caption-text">Saya, Sodiq, dan Guntur</p></div>
<p>Sodiq banyak membantu kami. Mencarikan kami sapi korban. Mempertemukan kami dengan warga Dusun Tutup Ngisor. Lebih dari itu, ia menceritakan kebajikan hidup warga lereng Merapi. Cara bertuturnya pun membuat kami dengan senang hati mendengarkannya. Cerdas dan penuh kearifan— hal yang jarang  ditemukan di ibukota.  Bahkan, perjumpaan dengan Romo Kir dan Sodiq menyadarkan kami bahwa ternyata Ibukota tak selalu menjadi “kawah candradimuka” untuk menghasilkan orang-orang cerdas dan berbudi—termasuk kami-kami ini. Kawah Candradimuka ini ada nyata di lereng Merapi!</p>
<p>Perjumpaan perdana itu ditutup dengan makan malam. Makan malam dengan menu khas dusun. Setiap kali makan bersama, saya selalu merasakan ada sesuatu yang lebih dari sekadar kebersamaan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.katakataku.com/2011/05/13/mata-air-merapi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Srimulat: Merek Legendaris yang Ingin Rejuvenasi</title>
		<link>http://www.katakataku.com/2011/03/25/srimulat-merek-legendaris-yang-ingin-rejuvenasi/</link>
		<comments>http://www.katakataku.com/2011/03/25/srimulat-merek-legendaris-yang-ingin-rejuvenasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Mar 2011 02:12:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[srimulat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.katakataku.com/?p=1817</guid>
		<description><![CDATA[TAK ADA grup lawak Indonesia selegendaris Srimulat. Kelompok komedian ini ibarat Koes Ploes di sejarah musik Indonesia.“Srimulat adalah merek yang kuat,” kata Eko Saputro, pemimpin Srimulat sekarang sekaligus penerus Srimulat secara genetika—putra Teguh Slamet Rahardjo dan Djudjuk Djuwariyah, generasi pertama Srimulat. Saya sepakat dengan pernyataan mas Koko—panggilan akrab Eko Saputro— yang disampaikan di Obrolan Langsat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.katakataku.com/wp-content/uploads/2011/03/cov_srimulat.png"><img class="alignright size-medium wp-image-1818" title="cov_srimulat" src="http://www.katakataku.com/wp-content/uploads/2011/03/cov_srimulat-223x300.png" alt="" width="223" height="300" /></a>TAK ADA grup lawak Indonesia selegendaris Srimulat. Kelompok komedian  ini ibarat Koes Ploes di sejarah musik Indonesia.“Srimulat adalah merek  yang kuat,” kata Eko Saputro, pemimpin Srimulat sekarang sekaligus  penerus Srimulat secara genetika—putra Teguh Slamet Rahardjo dan Djudjuk  Djuwariyah, generasi pertama Srimulat.</p>
<p>Saya sepakat dengan pernyataan mas Koko—panggilan akrab Eko Saputro—  yang disampaikan di Obrolan Langsat (Obsat), Kamis malam, 3 Maret 2011.  Obsat kali ini mengusung tema “30 tahun Srimulat di TV”. Selain mas  Koko, hadir Sony Adi Setyawan penulis buku “Srimulat, Aneh yang Lucu”  yang akan diluncurkan pada 8 Maret mendatang. Keduanya bercerita banyak  bagaimana merek “Srimulat” terbentuk dan berdinamika sampai sekarang.<span id="more-1817"></span></p>
<p>Singkat cerita, berdasar buku yang ditulis Sony Set, nama “Srimulat”  berasaldari nama pendirinya, yakni Raden Ajeng Srimulat—seorang putri  ningrat yang minggat dari tembok kawedanan untuk menjadi seniman.  Bersama suaminya Teguh Slamet Raharjo, RA Srimulat mendirikan rombongan  kesenian keliling bernama Gema Malam Srimulat. Dengan truk, mereka  memasarkan diri dari daerah satu ke daerah lain. Hiburan mereka ternyata  laku. Sampai pihak keluarga kerajaan Solo kesengsem pada Srimulat  setiap kali manggung di Taman Sriwedari dalam acara Aneka Ria Srimulat.</p>
<p>Bagaikan sebuah produk, banyolan Srimulat dicintai dan ditunggu semua  orang. Menurut saya, hal ini disebabkan karena Srimulat mengusung  kesederhanaan hidup dan kesahajaan. Tak luput, Srimulat pun menjadi  rebutan banyak pihak saat itu, seperti Partai Komunis Indonesia. PKI  melalui Lembaga Kesenian Rakyat (LEKRA) saat itu getolmenggalang massa.  Mengingatbesarnya penggemar Srimulat—katakanlah pangsa pasarnya sudah  besar—Lekra pun membujuk kelompok ini untuk bergabung. Tapi, pihak  pemerintah melalui Kodam melindungi grup ini. Pada tahun 1963, situasi  di Solo memanas dan seluruh kru Srimulat dievakuasi ke Surabaya.<br />
“Bisa dibayangkan sendiri betapa sulitnya bagiSrimulatsaat itu ketika  disuruh melucu di tengah situasi yang memanas demi kesetiaan menghibur  penontonnya,” kata Sony.</p>
<p><strong>Merek Kuat dan Legendaris</strong></p>
<div id="attachment_9619">
<p>Nama Srimulat mulai dikenal secara nasional ketika pertama kalinya  muncul di TVRI pada tahun 1981. Penontonnya tidak lagi puluhan maupun  ratusan setiap kali tampil. Penontonnya menjadi jutaan pemirsa  televisi—apalagi TVRI saat itu masihmelenggang sendiri tanpa pesaing dan  jadi hiburan satu-satunya di rumah. Srimulat semakin dekat dengan  masyarakat ketika Gepeng menampilkan <em>catch phrase</em>—ungkapan yang diulang-ulang—“Untung Ada Saya.” Ungkapan ini seakan menjadi <em>trademark</em> tidak buat personil Gepeng saja tapi grup Srimulat secara umum.</p>
</div>
<p>Acara Srimulat pun menjadi “anak kesayangan” TVRI. Pada tahun 1985,  kru Srimulat menjadi 77 orang. Bila ditambah dengan artis Solo,  Surabaya, dan kru panggung, jumlahnya 300 orang. Saat itu, muncul  personil anyar, seperti Mamiek, Rina, Betet, Bedor, dan Yongky. Sejak  ini, Srimulat menjadi tontonan yang ditunggu-tunggu pemirsa.</p>
<p>Kekhasan lawakan Srimulat menjadi satu kekuatan. Selain karena  mengusung nuansa Dagelan Mataraman, Ludruk Surabaya, dan sedikit nuansa  Betawai (khususnya saat Srimulat mulai merambah Jakarta), kekuatan  Srimulat terletak pada penampilan dan tema yang diangkat—sederhana,  sahaja, dialog-dialog egaliter, dan sebagainya. Selain itu, Srimulat  mampu membangun relasi dekat dengan “pelanggannya” dengan budaya saweran  yang menjadi keunikan Srimulat. Lempar rokok, lempar duit, dan  sebagainya menjadi isi saweran tersebut. Hal ini menjadikan seolah  antara Srimulat dan penonton tidak ada jarak.</p>
<p>Tradisi saweran ini membuat penonton seolah terlibat dalam  pertunjukkan. Sebab itu, faktor penonton menjadi penting bagi para  pemain Srimulat. Ada yang beranggapan ketika Srimulat manggung di studi  televisi tanpa penonton, lawakan Srimulat tidak bisa maksimal.  Selainitu, kekuatan lain Srimulat terletak pada karakter para pemainnya.  Masing-masing pemain mengusung karakter unik dan konsisten.</p>
<p>Srimulat memasuki masa kejayaannya. Selain karena tidak ada grup  lawak lain yang menjadi lawan tangguhnya, Srimulat tampil kuat. Saking  kuatnya, Srimulat pun sering dipinang untuk memeriahkan kampanye  Diktaktor Soeharto. Tidak hanya itu, Srimulat mampu memengaruhi  pengeluaran grasi dari presiden. Kasus Gepeng menjadi contoh unik.  Gepeng pernah ditangkap polisi karena kepemilikan senjata api ilegal.  Kasus ini diekspos habis oleh media massa. Kasus ini pun sempat  mengancam kepopuleran Srimulat. Tapi, aneh bin ajaib, saat mau divonis,  Gepeng mendapat surat grasi. Selidik demi selidik, hal ini dikarenakan  oleh permintaan Arseto—cucu diktaktor Soeharto dari Sigit— yang  menginginkan Gepeng bisa hadir di pesta ulang tahunnya.</p>
<p>Kejayaan Srimulat mulai redup terutama ketika mulai bermunculan  stasiun-stasiun televisi yang menawarkan program-program hiburan yang  tak kalah menarik. Satu per satu personel Srimulat mulai rontok. Pada  tahun 1989, Teguh membubarkan Srimulat. Dua tahun sebelum dibubarkan,  serial Srimulat di TVRI sempat dihentikan. Lama berselang, kerinduan  para personel untuk berkumpul kembali membuncah. Pada tahun 1995, Gogon  mengusulkan reuni Srimulat. Pelaksanaan reuni Srimulat terbilang sukses  dan tetap menyedot banyak penonton. Stasiun Indosiar pun meminangnya dan  Srimulat tampil kembali di layar perak pada tahun 1995-2003. Pada tahun  2004, Srimulat kembali vakum. Pada tahun 2006, Srimulat kembali  mendapat tawaran manggung di Indosiar dalam 36 episode.</p>
<p><strong>Upaya Rejuvenasi </strong><br />
Nama “Srimulat” sudah lama dipatenkan dan sudah ada PT-nya. Impian dari  mas Koko selaku pemimpin Srimulat kali ini—tentu bersama  “veteran-veteran” Srimulat yang tersisa—Srimulat bisa hadir kembali di  dunia sekarang. Tentu saja, penonton dan peminatnya jauh berbeda dengan  generasi sebelumnya. Sebab itu, Srimulat menggelar program Srimulat Next  Generation dengan menjaring para personel anyar—termasuk kalangan  muda—untuk menjalani audisi. Srimulat Next Generation ini direncanakan  akan tampil pada April mendatang.<br />
Menurut saya, ini merupakan langkah berani Srimulat untuk hadir lagi  dengan darah-darah segarnya. Ketika saya tanya apakah Srimulat tidak  takut kehilangan roh-nya, Koko dengan nada optimistis mengatakan,  “Srimulat tidak bakal kehilangan rohnya.”</p>
<p>Pada tahun ini juga, Srimulat akan hadir dalam bentuk Srimulat  Multimedia, yang berupa Srimulat Cyber, Srimulat Android, dan Srimulat  Content Provider. PT XL Axiata pun mulai menggandeng Srimulat multimedia  ini dan mensponsori terbitnya trilogi buku Srimulattersebut. Upaya  memperkenalkan Srimulat dan sejarahnya ini patut didukung. Apalagi,  cerita-cerita di balik panggung—termasuk cerita para personelnya—bisa  membuat kita lebih mengenal dan mencintai Srimulat. Misalnya, RA  Srimulat diduga kuat menjadi anggota intelijen saat itu. Belum lagi  Triman, Bendot, dan Tessy yang berlatarkan militer. Tessy yang tampil  banci ternyata adalah mantan KKO Angkatan Laut dan pernah berjuang untuk  pembebasan Irian Barat tahun 1961-1963. Ditambah dengan suka duka  masing-masing personel dalam berjuang untuk hidup.</p>
<p>Menurut saya, tantangan yang akan dihadapi Srimulat tidak mudah.  Apalagi, saat ini, Srimulat akan bersaing dengan banyak grup komedi  dengan mengusung lawakan khas anak muda kontemporer. Tentu saja, gaya  lawakan pada masa keemasan yang lalu tidak otomatis cocok bagi penonton  generasi sekarang ini. Selain itu, tak mudah juga mempertemukan  sisa-sisa generasi lawas Srimulat dengan generasi anyarnya nanti.</p>
<p>“Kami ingin melahirkan Srimulat baru yang menguatkan budaya lokal dan wacana nasional,” pungkas Koko.</p>
<p>[Tulisan saya ini diambil dari <a href="http://katakataku.com">http://the-marketeers.com</a></p>
<p>*Ilustrasi pertama diambil darihttp://manistebu.wordpress.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.katakataku.com/2011/03/25/srimulat-merek-legendaris-yang-ingin-rejuvenasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

