October 4th, 2009 § § permalink
Minggu pagi. Tepatnya, usai sarapan nasi goreng, dua telor, roti bakar, dan segelas susu cokelat di resto Hotel Federal, kami memulai lagi plesiran kami. Nonton balap Grand Prix Formula 1 di Sepang Circuit menjadi destinasi utama. Tapi, karena pertandingan baru dimulai sore hari, rombongan mampir dulu ke Beryl’s Chocolate Kingdom dan Putrajaya—kompleks pemerintahan Malaysia.
Sementara itu, langit pagi itu tampak cerah. Biru. Matahari pun menyengat tubuh. Panas. Tapi, udara tetap segar. Steril dari dominasi karbondioksida knalpot kendaraan. Nah, ini waktu yang sangat pas untuk bernarsis diri dengan latar Petronas Towers KLCC. Melompat-membentangkan tangan-duduk bersila. Itulah gaya kami bernarsis diri di depan menara yang berdiri sejak 1992 itu.
» Read the rest of this entry «
October 2nd, 2009 § § permalink
Pada mulanya adalah kelapa sawit. Begitulah pintu masuk menuju jantung kota Kuala Lumpur. Pasalnya, usai pesawat AirAsia yang mengangkutku dari Jakarta mendarat, aku langsung disuguhi hamparan hijau ladang kelapa sawit yang maha luas. Tapi, di balik rerimbunan hijau yang mengingatkanku pada areal transmigrasi di Sumatera, ada sebuah kota megah yang siap memberi kejutan.
Pesawat bernomer penerbangan AK953 ini mendarat mulus di LCCT Airport pada Sabtu pagi, 4 April 2009. LCCT kependekan dari Low Cost Carrier Terminal—tempat penerbangan pesawat bertarif murah. Semua penerbangan AirAsia ke Kuala Lumpur berujung di bandara ini. Untuk kelas di atasnya, Kuala Lumpur menyediakan Kuala Lumpur International Airport (KLIA).
» Read the rest of this entry «
August 28th, 2009 § § permalink
Siang itu cukup terik. Matahari nyaris tepat di atas ubun-ubun saat sepeda motor kami memasuki pemukiman nelayan di Muara Angke, Jakarta Utara. Hawa panas datang menyergap. Sesekali hengkang diterpa angin pantai. Tampak di bibir pantai, perahu-perahu nelayan tertambat rapi. Beberapa bangkai kapal terserak di tepi Sungai Angke—tepat di sisi gapura masuk pemukiman tersebut. Menjadikan suasana pantai menjadi kotor tapi eksentrik. Memacu adrenalin untuk segera menyusuri kawasan yang sudah mulai riuh para pekerja itu. Sumpek dan padat.
Di ruas jalan, mikrolet warna merah jurusan Grogol-Pluit-Angke beradu jalan dengan bajaj, ojek sepeda motor, ojek sepeda, dan pejalan kaki. Tenda-tenda pedagang kaki lima memenuhi sebagian bahu jalan. Berbagai barang, hasil tangkapan, dan jajanan siap makan digelar oleh para pedagang tersebut. Sementara angin pantai bertiup mengantar aroma khasnya.
» Read the rest of this entry «