Ecce Homo!

February 4th, 2009 § 2 comments § permalink

eccehomo

INI bukan kata-kata Pontius Pilatus saat jari telunjukknya mengarah sosok lelaki lusuh bersimbah darah. Isa, putera Maryam. Penuh luka. Kesepian. Siap meregang nyawa di pucuk bukit tengkorak. Golgota. Ini juga bukan judul buku karangan Friedrich Wilhelm Nietzsche, sang filsuf ateis binal. Ecce homo, artinya lihatlah lelaki itu! Nah, aku mau berkisah tentang seorang laki-laki. Bayangannya tidak pernah hengkang dari pikiranku. Berikut ceritanya:

Senin, 29 Mei 2006, Bintaran, Jogjakarta. Malam baru saja larut dalam beku. Sebentar lagi pagi. Lelaki itu masih saja duduk menemaniku. Aku sibuk mengetik di depan komputer. Mengetik kisah pedih masyarakat yang dua hari sebelumnya diterjang gempa. Gempa dini hari itu menewaskan lebih 6000 warga Jogja. Seharian setelah keliling di antara puing-puing rumah di Bantul, aku harus mengirim sepotong berita untuk Jakarta. Tapi, tidak ada komputer di sini. Listrik pun padam. Sebagian Jogja pun menggelap. Hanya ada kilatan lampu teplok dan lilin menyala di tenda-tenda. Diiringi suara tangisan orang-orang yang kehilangan kerabatnya. Tapi, rumah lelaki itu tetap terang. Listrik masih mengalir di pusat kota. Sesekali mati. Lelaki itu baik hati meminjamiku komputernya. Barang sejenak. Kebetulan ia punya usaha kursus komputer yang namanya sudah cukup ternama di kota ini.

 

» Read the rest of this entry «

Maria Tanpa Kaki

February 4th, 2009 § 0 comments § permalink

MARIA_tanpa_kaki

Malam telah larut. Beberapa waktu lagi, malam akan runtuh, diganti pagi. Hawa dingin menyapu pelan seluruh tubuh. Sesekali terdengar gonggongan anjing kampung saat perempuan tua itu duduk tersimpuh di atas tikar yang sudah usang dan bolong di sana-sini. Wajahnya yang mulai keriput tampil samar-samar karena pendaran cahaya lilin yang sudah tidak utuh lagi lantaran di makan api. Sementara itu, tangannya yang sudah tidak sekuat dulu, memilin pelan satu persatu butir rosario. Rosario yang terbuat dari kayu cendana dan menebar bau wangi itu digenggamnya erat. Seolah tidak ingin ia lepaskan demi sebuah pengharapan yang tiada habis.

Perempuan tua itu bernama Sumijati. Nama permandiannya, Veronica. Di depan perempuan yang akrab dipanggil mbak Sum itu, ada sebuah patung Maria yang sudah tidak utuh lagi berdiri condong di atas meja. Patung itu pemberian anak laki-lakinya 10 tahun silam saat ia berada di seminari dan ia beli saat berziarah ke Sendang Sono. Badan patung Maria telah patah dan pecah sehingga bagian kaki yang menginjak ular sudah tidak ada lagi. Konon, katanya, patung itu pernah jatuh dari almari. Tapi, mbak Sum tidak mau membuang dan menggantinya dengan yang baru. Anak perempuannya yang kini tinggal di Jakarta karena ikut suami, membelikannya patung Maria yang utuh, ukurannya lebih besar, dan menarik. Tapi, mbak Sum tetap berdoa dengan patung Maria yang sudah tidak ada kakinya itu. […]

 

» Read the rest of this entry «

Where Am I?

You are currently browsing the Tak Berkategori category at Air Kata-Kata.