KEKERASAN dan brutalitas yang dilakukan oleh ormas-ormas kriminal yang berjubah agama belakangan ini sungguh memprihatinkan. Kekerasan demi kekerasan terus terjadi dan aparat seperti macan ompong—entah aparatnya tidak mampu, entah tidak mau, atau entah yang lain. Yang kelihatan, aparat tidak melakukan tindakan tegas pada para pelaku kriminal.
Minggu pagi (8/8), misalnya, saat puluhan jemaat Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Pondoh Indah di Kampung Ciketing Asem, Kecamatan Mustika Jaya, Bekasi sedang beribadah, ratusan massa yang mengatasnamakan Islam menyerang jemaat. Ratusan polisi sudah berjaga mengamankan kebaktian. Tapi, polisi bak macan ompong. Massa merangsek dan menembus barikade polisi, mengejar para jemaat, dan melakukan kekerasan pada mereka—termasuk memukuli seorang ibu (bdk. Tempointeraktif). » Read the rest of this entry «

sumber: http://img.myconfinedspace.com
Internet mengembuskan angin demokrasi tanpa sekat sekaligus anarkisme anyar.
MUNGKIN MENDIANG Robert Furchgott akan bangga pada saya ketika saya ketahuan berjualan viagra. Paras ilmuwan Amerika Serikat penemu pil khusus pria lemah syahwat—viagra pada tahun 1998 itu, juga pasti semringah melihat hasil penelitiannya dipasarkan hingga kini. Jiwa peraih Nobel untuk ilmu kedokteran yang meninggal tahun lalu pada usia 92 tahun itu akan tambah bahagia di alam baka mengingat semakin banyak lelaki yang bisa ia ‘selamatkan’ berkat tablet maupun kapsul ajaib ciptaannya itu. Tapi, sayang sekali, profesi dadakan saya sebagai tukang obat kuat ini hanyalah ulah dari seorang pembobol (hacker). Seorang pembobol yang tidak pernah diketahui siapa nama dan asal usulnya.
Cerita bermula ketika di sebuah sore saya membuka kotak surat Yahoo! saya. Di halaman depan kotak surat itu, muncul nama seorang kawan yang lama sekali telah hilang kontak. Kawan yang juga seorang pastor itu membalas surat elektronik (surel) saya berjudul “eriac gautier”—perasaan saya tidak pernah berkirim surel padanya. Pesan pastor itu cukup singkat: “Git, apa sekarang jualan viagra?” Sontak, kulit dahi saya berlipat. Belum sirna kebingungan saya, muncul di kotak surat, sebuah balasan lain dari seorang yang pernah bekerja di satu perusahaan dengan saya. Balasan berjudul “fatima mahamoudou” itu menyampaikan pesan: “Sigit, mohon jangan kirimi email sampah seperti ini. Tq” Wah, saya semakin dikuatkan akan adanya ketidakberesan pada akun Yahoo! saya.
Usai melakukan investigasi sejenak, betul, akun Yahoo! saya dibobol orang tak dikenal. Dengan menggunakan nama sekaligus alamat email saya, orang ini mengirim tautan yang menjual viagra ke hampir semua teman yang ada di daftar. Termasuk ke seluruh alamat surel narasumber liputan saya. Ulah pembobol ini membuat saya bersibuk ria membuat surel klarifikasi dan mengirimnya ke seluruh alamat yang dikirimi tautan viagra itu. Demi keamanan, saya pun segera mengganti kunci akses akun dengan yang baru. Saya pun undur diri dari keanggotaan dua milis yang disinyalir jadi pintu masuk pembobol itu.
Problem di ranah internet macam tadi bukanlah barang anyar. Saya sendiri tak terlalu kaget dengan kebobolan akun surel saya. Hal itu sudah jamak terjadi di dunia maya. Mengingat ada kasus yang lebih parah dan lebih payah ketimbang alamat surel didompleng untuk jualan viagra. Kebobolan akun menjadi risiko dari ‘mainan’ anyar orang-orang modern ini. Modernitas memang aneh. Zygmunt Bauman menyebut sebagai ambiguitas modernitas. Modernitas—dengan segala ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk internet—memang menyuguhkan beragam kemudahan yang tidak bisa dinikmati oleh orang-orang zaman sebelumnya. Dengan internet, saya bisa terhubung dengan orang-orang di mana pun dalam bingkai kekinian (real time). Jarak dan waktu sudah dimampatkan—David Harvey menyebutnya time-space compression. Tapi, sembari menyuguhkan aneka kemanjaan, modernitas juga memberi beragam risiko—termasuk risiko yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
Kasus pembobolan akun Yahoo! tadi juga belum seberapa. Ada yang lebih parah dari itu, seperti pembobolan akun kartu kredit, pembobolan sistem keamanan bank, penebar virus, dan sebagainya. Kevin Mitnick, misalnya, merupakan pembobol kelahiran 1963 yang menghebohkan Amerika. Ia pun dicap sebagai kriminal komputer yang paling dicari dalam sejarah AS. Ia pernah membobol sistem transportasi di Los Angeles dengan membongkar sistem pembacaan kartu langganan bus. Alhasil, dia bisa naik bis ke mana saja tanpa bayar. Ia juga pernah membobol sistem telepon yang membuatnya bisa menelepon jarak jauh dengan gratis. Tak tanggung-tanggung, Kevin membobol juga sistem DEC, IBM, Motorola, Nokia, dan menipu FBI. Ia tertangkap dan dipenjara lima tahun. Cerita hidupnya diangkat dalam layar lebar dalam film Takedown dan Freedom Downtime. Ada juga Jonathan James, pria umur 16 tahun, berhasil membobol sistem jaringan NASA dan mencuri perangkat lunaknya seharga US 1,7 juta dolar. Ia dihukum cuma enam bulan lantaran masih di bawah umur.
Internet memang seperti sebuah pisau. Pisau bisa digunakan sebagai alat berbuat kebaikan untuk mengupaskan apel bagi orang yang dicintai. Tapi, bisa juga bisa menjadi senjata tajam untuk membunuh. Internet bisa digunakan sebagai alat berbuat kebaikan sekaligus kejahatan. Gordon Graham dalam bukunya “Internet: Philosophical Inguiry” (Routledge, 1999), menggali kedua karakter internet tersebut. Gordon dalam bab pertamanya melihat adanya pertentangan antar-dua kubu, yakni mereka yang takut dan menolak semua kemajuan teknologi (Neo-Luddites) dengan mereka yang menerimanya sebagai kemutlakan (Technophiles).
Selanjutnya, Gordon Graham mengatakan bahwa kehadiran internet bisa mendukung sebuah proses demokratisasi mengingat tidak ada batasan tingkatan di alam internet. Tak ada atasan dan bawahan. Semua orang sederajat dan saling mempengaruhi. Semua orang bisa berbicara apa saja dan tidak memandang kekuasaan. Internet, bagi Gordon, adalah demokrasi itu sendiri. Tentunya, bagi Gordon, bila demokrasi pada dirinya sendiri merupakan suatu hal yang baik—konon, katanya, Gordon tergolong orang yang tidak percaya seratus persen pada demokrasi. Saya sendiri lebih senang menyebutnya sebagai ruang publik baru—tempat orang-orang lintas negara bercakap-cakap satu sama lain dan memberikan pengaruhnya.
Tapi, internet juga merupakan anarki. Anarki oleh Gordon dipandang dari dua sisi, positif dan negatif. Secara positif, anarki dipahami seperti yang dikatakan Proudhon dan Kropotkin sebagai absennya negara. Lebih tepatnya, bebasnya dari kekuasaan yang memaksa dari negara. Secara negatif, anarki tetap dipahami tidak berkutiknya negara atas masyarakat. Lebih tepatnya, terjadi situasi tanpa supremasi hukum dan muncullah kekacauan. Nah, internet punya sifat anarki di mana para penghuninya bisa saling terhubung tanpa harus izin dan diatur oleh negara masing-masing atau terhubung karena identitas kewarganegaraan. Internet telah membongkar sekat-sekat antarnegara. Gordon menyebutnya dengan internasionalisme. Pada titik inilah, internet mengandung unsur subversif. China dan Myanmar adalah pengalaman konkret pergulatan antara kekuasaan negara yang hegemonik dan internet ini. Sekali lagi, baik dan buruknya tergantung pada bingkai niat penggunanya—untuk kebaikan atau kejahatan.
Kian waktu internet pun menjadi medan pertarungan baru, baik perang politik, bisnis, dan sebagainya. Sekarang, perang yang terjadi tidak sekadar perang fisik dengan menggunakan perkakas perang, seperti tank, pesawat tempur, aneka senapan, dan sebagainya. Melainkan perang di dunia cyber. Sebagian menyebutnya dengan Perang Dunia III yang sesungguhnya.
Masih hangat dalam ingatan, misalnya, di tengah ketegangan klaim-klaiman budaya maupun ejekan simbol negara antara Indonesia dan Malaysia, perseteruan pun berlanjut di dunia maya. Pada Agustus 2009—bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Malaysia ke-52, ditengarai ada 116 situs web di negeri jiran itu dibobol oleh orang Indonesia. Ketegangan ini semakin memuncak ketika ada warga Malaysia yang melecehkan lagu kebangsaan Indonesia Raya di internet.
Belum lama ini, dirilis laporan yang menyatakan kota Shaoxing, China, sebagai kota asal serangan cyber terbesar di dunia. Symantec menandaskan total serangan cyber yang berasal dari China, 21,3 persennya berasal dari Shaoxing. Di bawah peringkat pertama China dengan angka 28, 2 persen, ada Rumania dengan 21,1 persen, disusul berurutan oleh Amerika Serikat, Taiwan, dan Inggris.
Yang menarik dari laporan itu, target dominan dari serangan pembobol asal China adalah para aktivis hak asasi manusia. Banyak kalangan mencium serangan ini disponsori oleh pemerintah setempat. Modusnya dengan mengirim surel yang berisi muatan yang bisa menginfeksi perangkat.
Perang daring (online) bisa memicu kerusuhan. Di awal tahun ini, misalnya, Amerika Serikat dituduh menggunakan perang daring untuk menyulut kerusuhan di Iran paskapemilu tahun lalu. Editorial Harian Rakyat dari China menuduh AS merilis brigade pembobol dan memanfaatkan media sosial, seperti Twitter untuk menebar rumor dan polemik. Wang Xiaoyang, penulis editorial tersebut, mengatakan kerusuhan Iran paskapemilu, dipicu informasi AS yang dipasang di Youtube maupun mikroblogging Twitter. Wang melontarkan itu sebagai kritik terhadap undangan kebebasan berinternet dari Amerika—di mana kebebasan di sini tak lain seturut kepentingan Negara Adikuasa itu. Kritik ini juga ditujukan pada keputusan memotong layanan pesan instan Microsoft untuk negara-negara yang terkena sanksi AS, seperti Kuba, Iran, Sudan, Suriah, dan Korea Utara karena dianggap melanggar keinginan Amerika untuk kebebasan arus informasi.
Nah, dari penjalasan tadi, tampak bahwa pengalaman akun Yahoo! dibobol masih belum seberapa dalam dunia internet. Yang jelas, siapa saja yang menerjunkan di samudra web ini harus siap menanggung risiko. Risiko yang ada adalah risiko buatan. Sosiolog Anthony Giddens menyebutnya dengan manufactured risk—risiko yang tercipta sebagai dampak perkembangan pengetahuan kita tentang dunia. Meski berisiko supertinggi, internet sudah menjadi bagian dari identitas dan media dinamika orang modern. Melarang pengaksesan internet dengan cara apa pun—termasuk undang-undang—berlawanan dengan karakter internet itu sendiri, termasuk melawan demokrasi. Cara yang bijak adalah dengan menemukan sistem pertahanan untuk meminimalisir risiko tersebut.
Ngomong-omong, kembali soal viagra, sebenarnya tidak ada masalah dengan tautan toko viagra yang dikirim pembobol itu. Tak perlu menganggapnya sampah. Toh, itu pun promosi obat bagi jutaan lelaki modern. Siapa tahu Anda adalah salah satu pencari tablet atau kapsul ajaib itu. Cuma, caranya berpromosi dengan mendompleng alamat surel orang lain itulah yang tidak bisa dibenarkan.
Biarkan internet terus mengalir dan berkembang. Pertanyaan yang penting kita jawab adalah seberapa jauh penggunaan internet kita selama ini mendukung perkembangan mutu kemanusiaan kita?
“Hidup yang tidak pernah direfleksikan
adalah hidup yang tidak layak dijalani.”
(Socrates)
“JANGAN tiup lilinnya!” Itulah ucapan seorang sobat yang tak pernah tanggal dari ingatanku setiap hari ulang tahun tiba. Ucapan itu selalu berulang seperti sepotong refrein lagu saja. Awalnya, aku tak paham perkataan sobat ini. Mengingat setiap ulang tahun tiba, tiup lilin di atas sebongkah roti sudah menjadi ritual latah di hari istimewa ini. Tapi, waktu bergulir, aku baru paham perkataan sobatku tadi. Maksudnya, tak lain, janganlah aku mematikan api semangat di dalam diriku, meski umur kian melaju dan tubuh kian menyusut.
» Read the rest of this entry «