Kicauan Revolusioner Netizen dan Kediktaktoran Merek

January 26th, 2011 § 0 comments § permalink

Sudah tidak zamannya lagi memelihara kediktaktoran merek di era New Wave Marketing.

Boleh dibilang fenomena netizen sekarang ini luar biasa. Dunia ini sekarang benar-benar milik publik. Kekuasaan seorang kepala negara dengan mudah diguncang dengan gerakan di areal percakapan di berbagai media sosial seperti Twitter. Tentu ini bukan kekuatan tunggal. Kombinasi gerakan di ranah daring dengan gerakan di lapanganlah menjadi kekuatan nyata gerakan sosial. Kasus Tunisia dan Mesir menjadi kasus paling aktual sekarang ini. » Read the rest of this entry «

Media Sosial, Branding, dan Tantangan Reputasi

January 19th, 2011 § 1 comment § permalink

Ada yang bilang tahun 2010 adalah tahunnya media sosial. Hal tidak berlebihan mengingat jumlah pengguna media sosial dan tren bermedia sosial melonjak fantastis. Majalah Harvard Business Review pada edisi terakhir di tahun 2010 mengusung cerita sampul tentang branding di media sosial ini. Cerita sampul berjudul “Social Media and The New Rules of Branding” mengupas bagaimana peranan media sosial dalam proses mendongkrak kesadaran orang akan merek. Sebenarnya, ini sudah banyak dibahas. » Read the rest of this entry «

Para NetAdvocate dan Pembangun Tribe

December 24th, 2010 § 0 comments § permalink

Saat membuka internet, blog siapa yang pertama Anda baca atau akun Twitter siapa yang pertama  Anda komentari atau Anda retweet? Biasanya, kita—termasuk saya ini—selalu ‘berlanggan’ terhadap beberapa nama. Nama-nama di media sosial ini tidak pernah absen, minimal saya baca, di internet. Ya, mungkin karena saya merasa ada sesuatu yang bisa saya ambil dari sana dan itu berguna bagi saya.

Memang, tak disangkal di dunia internet, kita mengenal beberapa orang yang punya pengaruh bagi para netter lainnya. Biasanya, mereka bisa diindikasikan dengan nama yang sudah “kondang” di kalangan netter. Selain itu, ia biasanya mempunyai banyak  follower di Twitter atau banyak teman di Facebook. Kemudian, blognya boleh dibilang banyak dikunjungi, dikomentari, dan dikutip oleh banyak orang, dan sebagainya. Beberapa  blogger menyebutnya sebagai “seleb blogger” atau “seleb narablog”. Biasanya, para netter lain cukup menaruh “hormat” dan “mendengarkan” ide-ide sang seleb tersebut.

Nah, beberapa saat lalu, Marketeers merilis sembilan profil pengguna internet. Kesembilan profil ini dikupas dengan disertai data riset dari MarkPlus Insight dan dimuat di Majalah Marketeers edisi teranyar edisi November yang mengupas tuntas tentang “NETIZEN”. Profil yang pernah dibahas adalah NetTerrorist yang merujuk pada netter yang doyan membuat aura negatif di internet dengan menyebarkan konten yang mengusung kebencian, permusuhan, SARA, di internet. Kali ini, kebalikan dari NetTerrorist, ada profil yang bernama NetAdvocate.

Menurut Marketeers, NetAdvocate merupakan para pemberi pengaruh (influencer), pejuang sejati internet, memiliki idealisme tentang keterbukaan, persamaan, kebebasan berbicara, sekaligus semangat besar untuk menyampaikan gagasan dan ide-ide positif kepada khalayak.

Mungkin para NetAdvocate ini merupakan orang-orang yang dalam istilahnya Seth Godin mampu membangun tribe. Godin melihat di era digital ini sebuah kelompok hanya memerlukan dua faktor untuk bisa menjadi sebuah tribe, yakni kesamaan minat dan sarana komunikasi. Nah, dalam konteks inilah, seorang pemimpin dibutuhkan. Tentunya, bukan pemimpin yang mengusung konsep top down, tapi pemimpin yang mengusung pola komunikasi horizontal.

Di dunia maya, bertebaran komunitas berbasis minat maupun ide ini. Mereka yang minat fotografi, misalnya, membuat kelompok fotografi sendiri, entah dalam sebuah blog bersama maupun di media sosial seperti Facebook. Yang minat traveling membentuk komunitas traveling dengan membangun blog bersama, milis, dan sebagainya. Termasuk mereka yang minat kuliner, musik jazz, android, pecinta sampah, olahraga, games, otomotif, sepeda onthel, dan sebagainya. Di komunitas itu, pasti ada orang yang berfungsi sebagai pemimpin.

Bagaimana membangun tribe? Sederhana saja, mulailah dengan gagasan. Namun, gagasan hanya tinggal gagasan kalau tidak ada yang berani mengeksekusi gagasan dan membuat orang lain mengikuti gagasannya. Usai membangun minat dan mendapatkan banyak pengikut, penggagas tadi tinggal mengoptimalkan peran komunikasi di dalamnya.

Godin menawarkan tiga cara berkomunikasi di dalam tribe. Pertama, ubahlah minat dan ide menjadi target dan kehendak kuat akan perubahan. Kedua, sediakanlah sarana untuk memudahkan komunikasi antaranggota. Ketiga, buatlah pencapaian agar tribe berkembang dan bertambah anggotanya.

Di kalangan netter Indonesia, kita mempunyai Ndoro Kakung. Blogger satu ini berhasil membangun tribe di kalangan para blogger. Dia berhasil menciptakan ruang diskusi di blognya di mana satu artikel yang ia posting rata-rata mendapat 70 sampai 100-an komentar dari blogger lain. Di Twitternya pun ia punya banyak follower (ada 23.683 follower sampai tulisan ini dibuat). Posisi Ndoro sebagai salah satu “selebriti” di dunia blog cukup powerful. Buktinya, saat ada kasus Prita, ia termasuk orang yang punya daya pengaruh besar yang menggerakkan orang terlibat dalam gerakan “koin keadilan.”

Selain Ndoro Kakung, ada contoh lagi Pandji. Saat Indonesia sedang babak belur oleh terorisme, Panji melempar ide Indonesia Unite. Sambutnya pun sangat positif. Ide ini pun akhirnya menjadi sebuah gerakan bersama. Nah, masih banyak pencipta-pencipta tribe di dunia maya lainnya yang sukses mempengaruhi dan menggerakkan banyak netizen.

Apa hubungannya dengan marketer? Marketer kudu bisa belajar dari ide Seth Godin ini. Marketer harus bisa menjadi menciptakan dan memimpin tribe. Cara ini yang mungkin efektif untuk mendekatkan merek dengan pelanggan netizen. Apalagi, netizen sekarang ini diyakini sebagai satu dari tiga subkultur yang mendominasi dunia sekarang selain youth dan women. Sepertinya, menarik sekali ketika marketer mampu membuat tribe yang mencintai mereknya. Ini tantangan bagaimana merek bisa menggerakan orang untuk membangun tribe.

Nah, di Era New Wave ini, marketer kudu bisa memimpin para netizen kalau mau mereknya tetap eksis. Tentunya bukan pemimpin bergaya vertikal, tapi horisontal alias pemimpin yang mau  terlibat secara setara dalam percakapan dengan sesama anggota tribe.

Pada intinya, menurut saya, para NetAdvocate berhasil membangun komunitas yang saling terhubung satu sama lain (tribe). Mereka terhubung dengan seorang pemimpin maupun dengan sebuah ide maupun kesamaan minat. Selain Ndoro Kakung dan Pandji, di dunia virtual kita mengenal banyak nama  yang berperan sebagai NetAdvocate ini. Paling tidak, dengan kehadiran para advokat-advokat internet tersebut, belantara mayapada yang tak terbatas ini tidak lagi menjadi tempat sampah digital mahabesar. Kita bisa menjumput banyak kebaikan dari para “pendekar-pendekar” internet tersebut.

Where Am I?

You are currently browsing the Media Sosial category at Air Kata-Kata.