Epilog Drama The Washington Post

May 10th, 2010 § 14 comments § permalink

Sumber: musafirmuda.blogspot.com

TULISAN INI merupakan tulisan lama. Dalam rangka pindahan ke blog anyar sebagai dokumentasi, saya tulis ulang di sini. Tentu dengan penambahan di sana sini. Sambil menulis ulang artikel, saya sedang mengingat-ingat siapa yang meminjam film “All The President’s Men” milik saya.  Maklum, sudah lama sepasang kepingan VCD itu tidak menempati raknya di kamar saya. » Read the rest of this entry «

Membangun Literasi Media untuk Anak

April 16th, 2010 § 1 comment § permalink

Sumber: Dokumentasi Koran Berani

Demokrasi, politik, hukum, dan HAM bukan wacana milik orang dewasa saja. Koran anak ini membingkainya dalam program literasi media.

Oleh Sigit Kurniawan

DI SELASAR sebuah sekolah di bilangan Jakarta Barat, beberapa anak sibuk membolak-balik sebuah koran. Beberapa sedang membincangkan Ma Xiuxian, nenek umur 102 tahun yang sedang belajar di sekolah dasar di Desa Jinan, Shandong, China. Yang lain sedang membincangkan Le Viaduc de Millau, jembatan tertinggi di dunia yang ada di Prancis. Beberapa anak lelaki sedang berbincang seru tentang Lionel Messi, pemain Barcelona yang baru saja memenangi pertandingan melawan Arsenal dalam Liga Champions.

Begitulah yang terjadi hari itu selama 15 menit. Beberapa sekolah menggelar program membaca selama seperempat jam untuk membiasakan siswa memperluas wawasan dengan bacaan. Bacaannya pun koran yang tak lain adalah Koran BERANI—koran pertama untuk anak di Indonesia yang pada tahun ini genap berusia empat tahun. Koran berukuran kecil ini berisi informasi baru setiap harinya seperti koran biasa yang sering dibaca orang dewasa. Kehadiran koran anak pertama ini seperti mau membongkar cara pandang bahwa koran itu menjadi bacaan orang dewasa saja.

Marginalisasi anak terjadi di berbagai lini. Salah satunya, di ranah pengaksesan informasi. Tema-tema besar seperti politik, hukum, gender, maupun demokrasi sering dianggap tabu untuk anak-anak. Tapi, obrolan siang itu dengan Henny Rahayu Witdarmono, pemimpin perusahaan PT Anugerah Mitra Dharma Grha—pengelola merek Koran BERANI membuncahkan banyak inspirasi. Asal tahu saja, Henny mendirikan Koran BERANI bersama dengan H. Witdarmono—mantan wartawan kawakan KOMPAS pada 8 April 2006. Kebetulan sekali, obrolan bertempat di kantor Korang BERANI di kompleks Sastra Graha, Kebon Jeruk, bertepatan dengan ulang tahun koran in yang ke-4 dan menjelang potong tumpeng. Obrolan ini merupakan obrolan kedua dengannya setelah obrolan pertama pada Januari 2008 saat koran ini masih berkantor di rumah Witdarmono.

Koran setebal 16 halaman dan terbit setiap hari dari Senin sampai Jumat ini lahir dari konsep sederhana. Cinta dunia anak dan pendidikan, kata Henny. Mimpinya juga cuma satu, yakni Indonesia Membaca! “Kami melihat ada kebutuhan mengajak anak membaca setiap hari sejak dini. Anak tidak harus disuguhi sesuatu dalam bentuk dongeng fiktif. Tapi, juga informasi nyata seputar kehidupan mereka,” kata Henny.

Membangun koran anak memang tak gampang. Selain masih anyarnya bacaan anak dalam bentuk koran, juga tingkat baca masyarakat Indonesia yang masih kudu dikembangkan. Hadirnya Koran BERANI, menurut Henny, juga dilandasi hasil riset PISA—Programme for International Student Assesment—pada tahun 2003 yang mengatakan kemampuan membaca anak-anak Indonesia usia 9 s.d. 14 tahun berada di peringkat terakhir dari total 40 negara yang diteliti. “Sebab itu, koran ini hadir menjadi media untuk meningkatkan budaya membaca dan mendidik anak untuk mencintai proses,” cetus Henny.

Seperti halnya koran lain yang biasa dibaca orang dewasa, Koran BERANI menyuguhkan berbagai informasi—baik dalam negeri maupun mancanegara. Sebab itu, konten Koran BERANI pun beragam. Dari informasi seputar hukum dan politik, sastra, sampai berita olahraga. Konten dipilih berdasarkan hasil riset atas kebutuhan anak-anak. Ada pula rubrik Bahasa Inggris dan kolom yang bisa diisi dengan karya anak-anak. Desain koran penuh warna dan gambar. Kontennya juga disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan tetap mengusung kaidah Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

“Kami ingin anak-anak yang membaca tak sekadar konsumtif. Berita buat anak juga harus menarik. Pemilihan berita menjadi kepedulian kami hingga kini. Kami tak hanya membangun literasi membaca, tapi juga literasi moral,” tandas dia.

Edukasinya tentu tidak sama dengan edukasi dari merek yang bergerak di consumer goods. Membaca, kata Henny, tidaklah sama dengan mengunyah makanan. Tapi, selama empat tahun berjalan dan meski belum menyeluruh, Henny optimistis idealisme yang dibangun Koran BERANI sudah sampai di masyarakat.

Target utamanya adalah anak usia belajar—umur 7 sampai 14 tahun. Tapi, karena salah satu tempat anak adalah sekolah, Koran BERANI pun mengedukasi melalui jalur sekolah. Sebab itu, sasaran edukasi lain adalah para guru. Guru lebih diutamakan ketimbang orangtua mengingat kesibukan yang membekap orangtua di perkotaan. Tapi, orangtua juga sudah mulai menuai buahnya. Banyak dialog-dialog dalam keluarga menjadi lebih bervariasi dan berbobot.

“Saat menyambangi sekolah, kami tegaskan kami datang bukan untuk jualan koran. Tapi, kami ingin berpartisipasi meningkatkan kualitas sekolah dan anak didiknya. Membaca itu sebuah kebutuhan dasar bagi orang untuk mencapai hidup lebih baik. Kalau itu tak ada, yang terjadi adalah produk-produk instan,” kata Henny.

Satu kegiatan Koran BERANI yang menarik adalah membuat program simulasi berdemokrasi. Pada masa pemilu 2009 lalu, misalnya, Koran BERANI mengadakan simulasi pemilu di beberapa sekolah di Jakarta. Program yang dilakukan bersama Putri Indonesia Pendidikan 2008 Amanda Putri Witdarmono—putri pendiri Koran BERANI bertujuan mengajari anak-anak belajar berdemokrasi. Layaknya di tempat pemungutan suara, anak-anak bersimulasi bagaimana mencontreng dan memasukan kertas suaranya di sana. “Demokrasi bukan melulu milik orang dewasa. Sejak dini, anak-anak perlu diperkenalkan demokrasi ini. Termasuk berdemokrasi di sekolah,” tandas Henny.

Apa yang dilakukan Koran BERANI merupakan sebuah terobosan konkret dalam mewujudkan literasi membaca melalui literasi media di Indonesia. Anak-anak pun mempunyai hak untuk mendapatkan asupan informasi yang baik dan bermutu. Peran media informasi juga kudu melihat segmen anak-anak ini. Termasuk menayangkan program-program yang bermutu, mendidik, dan memberdayakan para pembaca dan pemirsa. Tidak sebaliknya, media lebih senang mengejar keuntungan komersial dengan informasi yang tak bermutu, sarat kebohongan, dan tak mendidik.

Twitter:

Wartawan Malas Verifikasi

March 26th, 2010 § 6 comments § permalink

Investigation Geger kasus Raya berakar pada malasnya wartawan melakukan verifikasi. Padahal, verifikasi adalah esensi jurnalisme.

Oleh Sigit Kurniawan

BILL KOVACH dan Tom Rosenstiel dalam bukunya The Elements of Journalism menandaskan bahwa esensi  jurnalisme adalah disiplin melakukan verifikasi. Tapi, dalam praktiknya, aktivitas melakukan verifikasi bukanlah pekerjaan gampang. Problemnya bukan terletak pada realitas kasus atau info  itu yang susah diverifikasi atau tidak. Melainkan, pada kemalasan para wartawan melalukan verifikasi tersebut.

» Read the rest of this entry «

Where Am I?

You are currently browsing the Kajian Media dan Jurnalisme category at Air Kata-Kata.