Setiap orangtua bermimpi anaknya kelak menjadi manusia mengagumkan seperti kupu-kupu. Tapi, tak jarang, mereka lupa bahwa untuk menjadi kupu-kupu membutuhkan proses metamorfosis.
TAK GAMPANG menjadi orangtua. Apalagi menjadi orangtua yang mampu memberikan edukasi yang tepat kepada anak. Pengalaman ini saya rasakan sebagai seorang ayah dari seorang bocah laki umur dua tahun yang menggemaskan. Belajar dari pengalaman sendiri saya rasakan masih kurang. Batok kepala ini kudu diisi dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman orang lain.
Maklum di tengah keterbatasan waktu, ada panggilan untuk terus memperhatikan perkembangan fisik dan psikis si kecil. Si Kecil yang sekarang doyan merengek minta diajak naik motor keliling kampung setiap pagi. Si Kecil yang sudah mau belajar gosok gigi. Si Kecil yang sudah pintar buang sampah sendiri. Si Kecil yang doyan bersenandung lagu “Cicak-cicak di Dinding” maupun “Ada Seekor Rusa” dengan lafal yang belum jelas benar. Si Kecil yang senang membolak-balik buku. Tapi, juga Si Kecil yang suka marah-marah bila dilihat anak kecil sebayanya. Si Kecil yang mulai kecanduan nonton Baby TV. Si Kecil yang mulai suka menirukan atraksi dari karakter TV, seperti jungkir balik, salto di kasur, dan tak jarang menangis usai kepalanya membentur tembok. Juga Si Kecil yang tiba-tiba sensitif bila ada orang lain sedang membincangkan dirinya. Nah, hal-hal inilah yang kudu aku pahami sebagai orangtuanya.
Hari ini, 22 April 2010, di Four Season Hotel, Jakarta, aku bertemu dengan Gobin Vashdev. Sepotong perjumpaan ini memberi saya banyak inspirasi tentang mendidik anak. Lelaki yang lebih dikenal sebagai motivator dari Bali ini bertutur banyak bagaimana mendidik anak untuk menghargai proses. Termasuk orangtua yang kudu menghargai proses dalam mendidik anaknya sendiri.
Gobin bilang setiap orang punya mimpi agar anaknya kelak menjadi manusia yang mengagumkan seperti kupu-kupu. Tapi, orangtua sering lupa kupu-kupu kudu melewati proses metaformosis dari ulat dan kepompong. Dunia yang serba instan dan menuntut gerak serba cepat sering membuat orangtua juga terlena berkeinginan anaknya cepat menjadi apa yang mereka inginkan. “Orangtua harus sadar mereka memegang peranan penting untuk perkembangan anak. Sebab itu, orangtua perlu membekali diri banyak pengetahuan lebih lengkap tentang bagaimana caranya memotivasi anak, menolong anak membangun konsep diri dan menghargai diri sendiri. Harapannya, anak bisa tumbuh secara utuh dan optimal,” cetus Gobin.
Cara memotivasi anak yang paling mumpuni, kata Gobin, adalah dengan teladan. Anak lebih mudah mengerti dan memahami bila ada contoh. Bila orangtua mengharapkan anaknya doyan membaca buku tapi kalau mereka sendiri tidak pernah dilihat oleh anak sedang membaca buku, hanya akan menjadi harapan yang susah digapai.
Seorang kawan bertanya padanya bagaimana mendorong anak agar mau minum susu. Di dunia anak, menurut Gobin, dikenal dengan asosiasi. Anak belajar melalui proses asosiasi. Saat anak bermain, misalnya, tiba-tiba orangtua menghentikan mereka dengan dalih waktu minum susu sudah dekat. Mungkin pertama anak akan menurut. Tapi, kalau itu dilakukan secara rutin, di batok kepala anak akan tertanam asosiasi bahwa minum susu berarti berhenti bermain. Nah, pada titik inilah, anak tidak mau minum susu. Bukan lantaran susunya tidak enak. Tapi, asosiasi bahwa minum susu identik dengan terhentinya kegiatan bermain mereka. “Cari waktu sampai mereka puas bermain lebih dulu dan baru diundang untuk minum susu. Demikian juga saat mau merangsang anak-anak agar mau belajar,” imbuh Gobin.
Mengenal tipe anak menjadi laku wajib bagi orangtua. Perlakuan dan komunikasi orangtua disesuaikan dengan tipe anak tersebut. Anak yang suka tantangan, kata Gobin, biasanya tak suka bila disuruh. Di suruh mandi, malah jawabnya mau makan. Disuruh makan, malah jawabnya mau mandi. Solusi yang ditawarkan Gobin, yakni dengan memberi pilihan baik kepada anak agar anak sendiri yang memutuskan. “Beri pilihan si anak mau mandi sekarang atau mandi sepuluh menit. Dua pilihan ini sama-sama baik dan memenangkan kita. Anak pun tak perlu merasa terganggu dan berujung pada asosiasi tadi sehingga malah kelak susah untuk disuruh mandi,” kata Gobin.
Gobin juga bicara soal bagaimana memuji anak. Suatu saat, misalnya, anak mendapat angka 10 untuk nilai ulangannya. Sebaiknya, orangtua memuji anak bukan karena nilainya sepuluh. Tapi, memuji karena ketekunan dan keuletan mereka belajar. Orientasinya bukan pada hasil. Tapi, pada penghargaan akan proses. “Kalau dipuji karena hasilnya, suatu saat anak berupaya mengulanginya lagi dengan menghalalkan segala cara. Yang penting ulangannya dapat angka 10. Ini pujian yang salah,” katanya.
Semua ini akhirnya berpulang pada orangtua sendiri. Orangtua kudu berubah lebih dulu sebelum mengubah anaknya. Salah satunya mengubah paradigma orangtua pada anak. Persis apa yang dikatakan pepatah, bila paradigma kita seperti palu, semua hal akan kita anggap sebagai paku.
