Dari Bantul Menuju Roma

August 31st, 2010 § 5 comments § permalink

LELAKI BERKULIT sawo matang itu tampak semringah saat memperagakan diri melukis di sebuah kain batik di rumah produksinya. Tangannya begitu cekatan mengayunkan canting di atas kain. Dialah Sugito—seniman batik lukis dari dusun Gunting, Gilangharjo, Pandak, Bantul, Yogyakarta. Untuk menjangkau rumah produksinya pun tidak gampang. Selain letak yang bersembunyi di balik bukit, orang yang tidak pernah ke sana pun kudu banyak bertanya tentang alamatnya pada orang di jalan.

Tapi, di balik kesederhanaan itu, mungkin banyak orang tak mengira kalau batik-batik besutan Sugito sudah merambah Italia, Prancis, Yunani, dan Amerika Serikat. Batik lukis dengan corak kontemporernya pun sukses menjajaki Singapura, Malaysia, dan Inggris. Belakangan ini, dia juga sering disibukkan dengan pameran berskala nasional dan internasional. Untuk menemui dia pun tak gampang. Saya beberapa kali kudu mengulang janjian ketemu demi sepotong wawancara untuk dimuat di majalah milik pabrik kata-kata tempat saya bekerja. Janjian pertama gagal lantaran dia disibukkan dengan pameran di Shanghai. Saat diwawancara pun, seniman batik beraliran ekspresionis ini baru saja pulang dari pameran batik di Jakarta. » Read the rest of this entry «

Merajut Seribu Mimpi

May 10th, 2010 § 4 comments § permalink

Iwan Firman di rumahnya. Foto: Lui

PRIA BERPOSTUR  gemuk dengan luka bakar di sekujur tubuhnya itu tampak gelisah. Sesekali, ia menatap kalender yang digantung di dinding ruangan berukuran 2X4 meter. Tanggal 14 Mei 2003. Matahari siang masih menghujamkan panasnya di Tanah Tinggi, Kawasan Senen. Patung panglima Tiongkok Kwang Kong dan seekor burung robin dalam sangkar seolah turut merasakan kegelisahan pria itu.

Sejenak mereka hening. Iwan Firman (43), seorang korban Kerusuhan Mei 1998, takkan melupakan tanggal itu. Lima tahun lalu, pada tanggal yang sama, Iwan mengalami kekerasan yang membuat fisiknya cacat, tak senormal dulu. Siang itu juga, Iwan berbagi kisah tentang peristiwa horor Mei kelabu. » Read the rest of this entry «

Prita, We Shall Overcome!

October 24th, 2009 § 2 comments § permalink

pritta Prita Mulyasari—pencari keadilan dalam kasus pencemaran nama baik turut hadir dalam Pesta Blogger yang digelar di Gedung Smesco, Jakarta, 24 Oktober 2009. Undangan ini juga bagian dari dukungan bagi Prita dalam menghadapi kasusnya yang tak kunjung rampung. Usai menjadi pengisi sesi dalam rangkaian Pesta Blogger itu, aku berniat untuk menemui dan ngobrol sejenak. Tapi, tampaknya Prita sedang diburu oleh kegiatan lain. Hanya foto bersama yang bisa aku lakukan. Sebelum pergi, Prita melontarkan pesan padaku, “Minta dukungan doanya, Mas!”

Pesannya sangat singkat, tapi mengena. Kami akan selalu berdoa buat Bu Prita. Semua blogger dan para pecinta keadilan akan selalu mendukung penuh perjuangan Bu Prita. Syair lagi ini, aku persembahkan buat perjuangan Bu Prita. Bu Prita tidak sendirian. Perjuangan Bu Prita juga menjadi perjuangan kami melawan kesewenang-wenangan. We shall overcome!

» Read the rest of this entry «

Where Am I?

You are currently browsing the Citizen Journalism category at Air Kata-Kata.