Gerimis belum selesai di subuh hari. Langit Yogyakarta masih terbungkus gelap. Taman yang dipenuhi tanaman anggrek dan dipagari pohon pinus itu tampak basah mengkilat oleh temaram lampu-lampu bercahaya redup. Suara titik-titik air dari langit yang jejingkrakan di atas genting rumah itu membuat kerinduanku pada papa semakin membuncah. Tempias pun membuat kaca jendela sedikit buram oleh serbuk cair itu. Sejak tadi malam aku gelisah di sini. Aku tidak bisa tidur. Mungkin sudah ratusan kali aku pandangi langit di kaca jendela. Aku berjaga agar pagi cepat tiba. Pagi di mana matahari terbang mengiringi kepulangan papaku dari Amsterdam.
Aku heran mengapa aku dilanda kerinduan begitu besar. Padahal sejak kecil aku sudah biasa ditinggal papa pergi ke luar kota atau ke luar negeri untuk sementara waktu. Tapi, kali ini, rasa rindu seperti bola salju yang tergelincir dari pucuk gunung menuju lembah. Semakin dirasakan, semakin besar. Padahal, aku hanya ditinggal papa selama dua minggu untuk urusan dosen tamu sebuah kampus di Negeri Kincir Angin itu. Rasa rindu ini benar-benar menikam dada.
» Read the rest of this entry «
ADA sepotong kisah dari negeri antah berantah. Di sana, hiduplah sebuah keluarga besar yang terkenal seantero negeri. Keluarga besar ini tinggal di rumah tua yang besar. Halamannya sangat luas. Mereka juga memunyai perkebunan. Dari tanah itu, dihasilkan apel, anggur, pir yang sangat terkenal manisnya dan beragam tanaman bunga seperti tulip, bakung, aster yang sangat terkenal indahnya. Ada sebagian petak tanah digunakan untuk peternakan sapi, babi, ayam, dan domba. Untuk menjaga dari serangan binatang buas seperti serigala hutan maupun ular beludak, dipeliharalah sekawanan anjing penjaga. Anjing-anjing ini ditempatkan di setiap sudut halaman rumah mereka. Mereka tidak pernah tidur sekalipun bola raksasa yang terbang di langit telah melarut dalam gelap. Keluarga itu hidup dengan gembira dan penuh persaudaraan.
Keluarga itu dipimpin oleh seorang lelaki tua yang sering disapa dengan Bapa. Ia disegani sampai negeri seberang. Tugasnya tak lain adalah menjaga kelangsungan hidup rumah tua itu beserta seluruh isinya. Orang asing sering menyebutnya dengan Si Penjaga Tradisi.
Asal tahu saja, rumah tua itu merupakan rumah warisan yang usianya sudah ribuan tahun. Konon katanya, rumah itu didirikan di atas sebongkah batu karang raksasa. Menurut kitab tak pernah tertulis, rumah itu tidak boleh dirombak. Renovasi masih dimungkinkan sejauh tidak mengubah struktur bangunan yang sudah ribuan tahun berdiri. Rumah itu diyakini sebagai rumah Dios, sang penguasa siang malam, sosok tidak kasat mata yang diimani tinggal di langit-langit rumah itu. Dios diyakini hadir saat lonceng-lonceng di menara rumah itu menari-nari digoyang angin dan menimbulkan suara dentang parau yang meningkahi malam dingin tak berkabut. [...]
» Read the rest of this entry «