Senja di Bangsal 214

[8 September 2006] PASTOR tua itu masih setia duduk di atas kursi roda. Di temani gadis muda, mata sang pastor menerawang jauh ke langit-langit. Langit-langit tempat senja mulai turun dan terkapar di ibukota. Burung-burung pipit mulai pulang kandang di pepohonan yang menjulang di taman rumah sakit. Kicauan burung-burung yang telah lelah mengembara seharian semakin senyap ditelan senja.

Mereka mempersiapkan diri untuk istirahat dalam pelukan malam. Malam yang hangat. Malam yang hening. Tanpa terganggu oleh hiruk pikuk sisa kemacetan ibukota. Senja di St. Carolus itu berjubah kuning keemasan, sebuah simfoni pengantar malam.

Tubuh pastor itu tampak lemah. Tubuhnya yang kelihatan rapuh dibungkus dengan kaos putih berlapis jaket hitam. Telapak tangan kirinya tampak mengembung karena digempur habis oleh jarum infus yang sudah habis delapan botol. Kedua kakinya sudah ditumbuhi bercak hitam dengan motif retak-retak seperti tanah waduk yang kering kerontang dihajar oleh kemarau panjang.

“Pernikahan Thomas bagaimana?” kata pastor itu memecah keheningan senja yang mulai menghitam. Pastor itu menanyakan tentang salah satu orang muda dampingannya yang sehari lalu melepas masa lajangnya. Kata “orang muda”, itulah yang layak dilekatkan pada sosok pastor itu. Meski raga sudah mulai digerogoti senja, dalam bola mata pastor itu tampak kilatan-kilatan cahaya pertanda semangat mudanya tidak bakalan padam diterpa usia.

Pepatah mengatakan di mana ada gula, di situ ada semut. Nah, ia senantiasa seperti gula-gula yang dikelilingi orang muda. Sebut saja lingkaran sahabat-sahabat muda. Puluhan tahun pastor itu mengabdikan energi hidupnya bagi para sahabat muda.

Ada yang bisa diingat di senja itu. Bayangkan saja 2000 tahun lalu, saat Orang Muda dari kampung Nazaret di pagi hari yang cerah dan angin pantai sedang sejuk-sejuknya, ia memanggil Petrus dan Andreas. Tatapan tajam Pemuda dari Nazaret itu menusuk hati kedua bersaudara itu. Tak lama, kedua orang itu melangkah, meningalkan jala mereka yang urung ditata, dan menuruti undangan Pemuda itu saat mengatakan, “Ikutlah Aku.” Dua orang mengikuti Dia. Lalu, disapalah Yakobus dan Yohanes saat mereka sibuk memperbaiki jala di atas perahu bersama ayahnya.

“Ikutlah Aku!” Sapaan itu seakan mengikat dan menarik kedua bersaudara itu pergi meninggalkan ayahnya sendirian di atas perahu. Empat orang mengikutinya. Jumlah itu semakin lama semakin banyak. Lingkaran para sahabat itu semakin lama semakin besar.  Dan Pemuda Nazaret itu menjadi pusat lingkaran. Mereka berjalan, mereka bergerak. Sesekali diam, tapi tidak untuk menetap. Mereka bergerak, terus bergerak. Menembus malam, menyisir senja. Menyusur kota-kota dan desa-desa. Bergerak dan bergerak. Mewartakan Kabar Baik bagi orang miskin, keadilan, pembebasan bagi para tawanan, penglihatan bagi orang buta, pembebasan orang tertindas, dan datangnya tahun rahmat Tuhan.

Sampai akhirnya di sebuah siang yang gelap, mendung bergulung-gulung, panas membakar bumi, dan burung-burung enggan terbang, Pemuda dari Nazaret itu melepaskan jiwanya terbang ke langit-langit. Ia mati di tangan orang-orang takut dan orang-orang bodoh yang tidak pernah paham apa yang telah mereka lakukan. Ia mati dengan segenggam cita-cita bahwa langit dan bumi yang baru benar-benar akan terwujud di muka bumi ini. Dia mati sebagai orang muda.

Tapi, kematian tidaklah abadi. Ia hanyalah lorong gelap nan pendek menuju kehidupan baru. Pemuda itu bangkit. Kemenangan yang dibayar dengan luka, sakit, dan kematian. Di mega-mega ia memberi perutusan pada sahabat-sahabat- Nya. Mengutus mereka untuk tidak berhenti bergerak. Tidak pernah lelah. Ia sudah memberi contoh. Dan ia berjanji akan menyertai mereka sampai akhir zaman. Perutusan ini pula yang diterima oleh pastor itu.

Pastor itu masih terus memandangi senja yang kian menghitam. Lampu-lampu di taman dan di sepanjang koridor rumah sakit sudah menyala. Kilatan-kilatan cahaya yang terpancar dari kedua bola matanya seolah seperti matahari yang tak pernah mengenal malam. Sudah dipastikan, pastor itu tidak mau duduk terkulai di kursi roda atau tertidur lemah di ranjang rumah sakit. Kilatan-kilatan cahaya dari bola matanya seakan membisikan kepada senja: “Saat orang lain istirahat dan duduk-duduk, aku akan bangkit berdiri dan meneruskan perjalanan.”

Pastor itu harus sujud sejenak di depan realitas. Tapi, jiwa mudanya tidak pernah berhenti bergerak seperti yang dilakukan Gurunya yang tidak pernah lelah berjalan. Ia juga membisikan pada senja bahwa dirinya ingin menjadi ikan-ikan kecil yang berani melawan arus. Arus zaman yang menggilas dan memasung orang-orang di dalamnya. Dan inilah yang selalu ia sampaikan pada sahabat-sahabat mudanya. Orang muda mampu melakukan sesuatu. Mampu membangun budaya tanding yang sudah memorak-porandakan keadaban dan martabat manusia. Budaya tanding melawan kultur yang tidak lagi menghormati dan sujud pada kehidupan.

Ia menaruh harapan besar pada orang muda. Ia sangat mencintai orang muda. Ia dekat dan terjun dalam alam orang muda. Ia senantiasa berpesan seperti yang pernah diucapkan Dom Helder Camara: “Jangan pernah menjadi tua, tanpa harus menjadi muda.” Jiwa muda yang merdeka, punya mimpi-mimpi masa depan, dan energi segar untuk bertindak. Ia juga seperti pemuda asal Loyola yang mendapatkan vision di kapel La Storta. Ia dipanggil untuk ikut memanggul salib di dunia ini bersama Pemuda dari Nazaret itu. Ia telah menyerahkan seluruh kemerdekaan, akal budi, hati, kehendak, demi kemuliaan Allah yang lebih besar. Satu yang ia mohon adalah rahmat dan cinta Tuhan menjadi satu-satunya harta yang tidak pernah usang dan raib dimakan ngengat.

Senja sudah hengkang dari kaki langit. Malam sudah menyempurnakan dirinya. Tapi, matahari di bola mata pastor itu tidak pernah tenggelam. Meskipun senja menyelimuti raganya. Meskipun seperti Petrus yang disapa Pemuda Nazaret itu: “Ketika kamu masih muda, kamu biasa mengencangkan ikat pinggangmu, dan pergi kemana pun yang kamu inginkan. Tetapi ketika kamu menjadi tua, kamu akan merentangkan tanganmu dan seorang yang lain akan mengencangkan ikat pinggangmu dan membawamu kemana kamu tidak mau pergi.” (Yoh 21:18).

Untuk sementara pastor itu harus setia duduk di kursi roda atau berbaring di bangsal 214 Xaverius. Mungkin ini yang tidak ia kehendaki. Tapi, ini demi pemulihan kesehatan. Memulihkan energi yang telah dirong-rong penyakit diabet dan sudah merambah ke fungsi ginjalnya. Pulih untuk berjuang.

Sementara itu, sahabat-sahabat muda masih setia menemani dan melingkarinya. Dan matahari di dalam bola matanya itu seakan mau mengatakan sebuah optimisme. Meskipun raganya sudah memasuki senja, tapi ia yakin bahwa orang-orang muda di sekelilingnya ini akan menjadi fajar-fajar baru. Mereka akan menjadi matahari-matahari yang akan menerangi dan melintasi bumi dari berbagai arah mata angin. Dan pastor itu yakin bahwa langit dan bumi yang baru akan terwujud di muka bumi ini. Itu karena perjuangan yang terus dilakukan oleh matahari-matahari baru yang tak lelah berziarah.

Sudah malam….

@ 2006

 

3 thoughts on “Senja di Bangsal 214

  1. Tulisan ini sengaja saya unggah kembali sambil mendoakan Romo Adi Wardaya SJ yang kini kembali terbaring di rumah sakit. Saya belum sempat menjenguknya. Rencananya bersama Awigra besok. Hari ini, Sabtu 3 Desember 2011 di Pesta Nama Santo Fransiskus Xaverius, teman saya Felix Iwan Wijayanto mengirim pesan di BBM:

    (Update JAW 03/12/2011):

    Hr ini pagi pk 10 kondisi stabil, sempt terima bbrp pembesuk, tp pk 11-an kembali labil, shg pembesuk sgt dibatasi. Sthlhnya ia cuci darah. Sore sblm pk 18 sdh bnyk pembesuk antri, tp krn kondisi msh labil tak semua pembesuk boleh msk ruang rawat. Aku aalnya cm ingin lihat dr luar ruang (jendela kaca), tp diminta msk krn ada bbrp pesan yg ingin disampaikan.

    Kondisinya saat aku temui: sadar penuh, kenali org2 dg baik, ingatan normal, komunikasi lancar, tp artikulasi kurang jelas krn pernafasan lemah. Sejak awal Rm Kris SJ yg jaga fulltime3 pesan spy Rm Adi tidak diajak berbicara lama, agar tdk makin menyultikan pernafasan. Sebaiknya pembesuk yg berbisik kpdnya & tdk bertanya/minta ia bicara. Dr sedikit pesan2 yg Rm Adi sampaikan, tampak semangatnya msh besar, meski fisik melemah.

    Pesan2 (umum) Rm Adi utk kita brsm:
    1. Jaga persaudaraan antar kita lintas komunitas (yg bertemu krn pendampingan Rm Adi), brsm klg msg2.
    2. Lanjutkan gerakan2 apa saja yg slm ini sdh kita bangun bersama (mis kaderiasi & pendampingan org muda, aktif tanpa kekerasan, anti korupsi, peduli lingkungan, refleksi spiritualitas dlm hdp sehari2, dsb).
    3. Dokumentasikan & publikasikan catatan2/bukti2/hasil pembelajaran gerakan2 yg pernah kita bangun bersm, agar bs dibagikan kpd semakin bnyk org.

    Utk smtr itu dulu Updtae JAW hr ini. Mari terus mendoakan yg terbaik utk Rm Adi. Sebarkan jg kpd teman2 yg lain. Thx (Felix)

  2. Awigra, murid Romo Adi dan sahabat baik saya, pada 8 September 2006 pukul 07:49 PM membalas email saya yang berisi cerita “Senja di Bangsal 214″. Berikut aku kopikan:

    Dalam temaram senja yang lain, anak-anak senja
    berlari-lari di tepi pantai (Seno: dalam Sepotong
    Senja untuk Pacarku). Anak-anak itu lepas bebas
    mengejar rekan-rekannya yang melihat sosok jingga
    berlari-larian di bibir pantai. Mereka bermain dalam
    riang dan tawa. Seperti umumnya anak-anak.

    Semua orangtuanya khawatir kala anak-anak mereka
    mengikuti sang anak senja. Karena, sebuah mitos
    mengatakan: “Barangsiapa mengikuti sang anak senja,
    anaknya tiada akan pernah pulang ke rumah”.

    Ketika senja tiba, semua orangtua yang rumahnya di
    tepi pantai dan memiliki anak kecil, mereka buru-buru
    mengunci pintu rumahnya. Mereka khawatir, jangan
    sampai anak mereka melihat sang anak senja yang
    berwarna jingga itu. Bahkan, ada satu keluarga yang
    mengikat anak-anaknya di kursi.

    Berpuluh-puluh mil dari pantai itu, seorang terbaring
    dalam kamar 214. Ia sungguh mencintai anak-anak.
    Ketika penulis berkunjung ke 214 bersama dua orang
    anak kebahagiaan orang itu jelas terlihat walau dalam
    perjuangan melawan rasa sakitan dalam tubuhnya. Ia
    peluk erat-erat dua anak itu dengan tatapannya.
    Anak-anak itu merasa aman dalam pelukannya. Justru
    seperti kebanyakan anak-anak, mereka menggoda dengan
    tawa dan canda tanda ia merasa aman dan diterima.

    Tentang anak-anak dan orang itu, aku ingin bersaksi
    tentang satu hal…. Orang itu adalah orang yang
    selalu mengobarkan keberanian dalam segala hal. IA
    mirip dengan anak-anak di pinggir pantai dalam temaram
    senja yang tidak percaya dan tidak pernah takut akan
    mitos-mitos. Walau orangtua mereka mengancam akan
    mengikat mereka di kursi.

    Salam,

    Awi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>