JENDELA taksi biru itu mulai buram. Hujan turun. Kami bertolak dari Bogor. Si Kecil duduk termangu di bangku belakang. Membelakangi langit yang sudah lama menghitam. Tubuhnya tenggelam dalam jaket biru tua yang membungkusnya. Ia bergeming. Sesekali melempar pandangan ke luar jendela. Jalanan di Kota Hujan membasah. Kami terdiam lama dalam mobil Limo itu. Hanya suara hujan yang terdengar samar. Beradu dengan suara klakson yang sesekali terdengar. Nyaris hening. Lalu, “Huekk!!” Si Kecil muntah.
***
Itulah epilog. Epilog dari cerita liburan dua hari kami. Iya, kami. Kami sekeluarga: aku, istriku, dan anakku. Liburan kali ini sangat istimewa. Bukan karena menepi ke Bogor—Kota Hujan dengan serangkaian objek wisata bersejarah itu. Bukan. Tapi, karena kami berhasil membungkus waktu bersama-sama. Membungkus waktu bersama keluarga—sebuah kesempatan langka bagiku belakangan ini. Mungkin sejak kelahiran Si Kecil—Jagad Cleva Nitisara—tiga tahun lebih tiga bulan silam, ini kesempatan pertamakali bagi kami liburan secara utuh. P-r-i-h-a-t-i-n.
Hotel Pangrango menjadi ‘kemah’ sementara untuk menghabiskan malam. Tak ada acara istimewa. Kami biarkan mengalir seperti anak sungai. Sebuah pantha rei—demikian Herakleitos pernah berceloteh ribuan tahun silam. Kami menyetel televisi. Membuka bungkusan ayam McD yang kami beli dari depan hotel. Bersantap kentang panas. Mengasup cokelat. Melompat-lompat di atas kasur superempuk. Bermain air di bathup. Memandangi lampu-lampu kendaraan yang mengerjap bak kunang-kunang. Membaca sepotong cerpen. Menarik selimut. Tidur berpelukan. Sabtu, 7 Mei 2011.
Tempias gerimis di kaca jendela. Sudah pagi. Jalanan di bawah di depan McD mengkilap. Sisa hujan. Pagi hadir tanpa matahari. Kami pun berkemas. Mandi. Mengasup sup buntut, sphageti, dan sepotong omelet di resto hotel. Menyeruput secangkir kopi tanpa krim.
Maria della Strada
Katedral Santa Perawan Maria. Katedral yang menjulang di jalan Kapten Muslihat no. 22 ini menjadi stasi pertama perjalanan hari itu. Minggu, 8 Mei 2011. Kami membungkus waktu untuk Tuhan dalam sepotong misa. Kami kebagian bangku di luar karena datang telat. Matahari mulai muncul mengantar bayangan bangunan tua yang berdiri pada tahun 1889 itu. Orang-orang tampak khusyuk mendengarkan kotbah dari mimbar. Si Kecil tidak jenak. Memilih bermain di pelataran katedral yang padat oleh mobil-mobil terparkir.
Sungguh, katedral menyuguhkan kedamaian yang tak terlukiskan dalam hati ini. Pekarangan ini mengantar kedamaian yang bukan kedamaian biasa. Ada sesuatu yang dekat. Rasa rindu yang bukan rindu biasa membuncah. Ingin ditumpahkan di sana. Bukan pada siapa-siapa. Hanya pada yang ada di atas sana.
Ada Maria di dinding katedral—tepatnya patung Maria. Maria sedang membobong bayi Yesus. Matanya memandang ke bawah. Mungkin sedang memandang diriku.Memandang si kecil yang berjalan naik turun anak tangga. Memandang istriku yang duduk di bangku bakso. Aku bergeming dalam diam. Melambungkan sepotong seruan dalam batin: Maria della Strada—Maria Bunda Pejiarah. Doakan kami dalam pejiarahan sebagai keluarga kecil ini.
Misa usai. Rosario baru diberkati Monsinyur. Kami bertolak membelakangi katedral. Gerobak kuda dipanggil. Kami mengelilingi Kebon Raya—kebon berpohon superbesar dan menyimpan cerita sejarah itu. Kembali ke Pangrango. Berkemas. Memanggil taksi biru. Meluncur ke Taman Safari.
***
Jendela taksi biru itu mulai buram. Hujan turun. Kami bertolak dari Bogor. Si Kecil duduk termangu di bangku belakang. Membelakangi langit yang sudah lama menghitam. Tubuhnya tenggelam dalam jaket biru tua yang membungkusnya. Ia bergeming. Sesekali melempar pandangan ke luar jendela. Jalanan di Kota Hujan membasah. Kami terdiam lama dalam mobil Limo itu. Hanya suara hujan yang terdengar samar. Beradu dengan suara klakson yang sesekali terdengar. Nyaris hening. Lalu, “Huekk!!” Si Kecil muntah.
TIDAK lama setelah kamu bilang tidak ingin mati di pagi hari, ibumu bermimpi tentang peti mati. Tiba-tiba saja, ibumu didatangi ketakutan luar biasa. Ibumu melihat seonggok peti mati di pojok kamar tidurnya. Peti itu tidak lazim. Ganjil. Ukurannya terlalu longgar. Tidak cocok buat ukuran manusia. Manusia paling besar sekalipun. Ukurannya dua kali lipat dari biasanya.
Ibumu tercengang dan jantungnya berdegup kencang saat sesuatu mengguncang-guncang peti aneh itu. Seperti ada suara gaduh di dalam peti. Ada yang kegerahan di sana. Ada yang menggeliat. Mungkin roh-roh orang mati yang menginginkan pembebasan. Pembebasan dari lorong gelap atau kubangan hitam tak bertujuan. Mereka memukul-mukul kayu mahoni itu sambil mengeluarkan desisan dan jeritan melengking.
Ibumu membeku dalam rasa takut. Dipilinnya butiran-butiran rosario diiringi komat-kamit mulutnya mengucapkan mantra suci. Kata Tuhan berkali-kali tergelincir dari bibirnya yang tergetar. Tapi, peti itu masih teronggok di pojok kamar. Tidak mau pergi. Seperti menantang dengan arogan. Setan pun tidak takut pada Tuhan. Jemari keriput ibumu terus memilin rosario itu. Berputar berkali-kali. Tidak tahu persis sudah berapakali ibumu memilin butiran kayu cendana itu dan memohon pada Ratu Para Malaikat itu. Lagi-lagi, peti mati itu tetap saja enggan tanggal. Teronggok dan menakutkan. Sampai akhirnya, ibumu terjaga dan menemukan dirinya basah oleh butiran kristal air mengembung dari pori-pori kulitnya.
Saat ibumu bergumul dengan peti brengsek dalam mimpinya, kamu pun disekap oleh kekosongan. Parasmu menegang saat kau mendengar bunyi doa pada Maria keluar dari kamar ibumu. “Ibu pasti mimpi buruk!” katamu dalam hati.
Itu hanya mimpi. Boleh saja orang menafsirkan bunga tidurnya. Orang Jawa juga memunyai kamus penafsir mimpinya sendiri. Lebih-lebih bila dikaitkan dengan permainan angka dalam judi. Angka buntut. Sebuah mimpi ditafsirkan untuk disuguhkan dalam spekulasi. Aneh-aneh saja. Tapi, ini sebuah realitas di depan mata. Realitas yang dihidupi oleh orang-orang modern dengan malu-malu.
Konon, Yusuf di Mesir dikenal orang sebagai tukang tafsir mimpi. Sepotong cerita mengisahkan Raja Mesir meminta Yusuf menafsirkan mimpinya. Raja bermimpi telah melihat tujuh ekor sapi betina gemuk, tujuh ekor sapi betina kurus, dan tujuh tangkai gandum hijau ditambah tujuh tangkai lainnya yang kering. Yusuf menafsirkan itu sebagai pesan agar seluruh negeri bercocok tanam selama tujuh tahun seperti biasa, yang dituai tetaplah melekat di tangkainya, dan sedikit saja yang dimakan. Tak lama, negeri itu dikunjungi musim kemarau panjang. Tujuh tahun yang amat sukar. Lalu, kemarau diganti hujan dan warga bergembira memerah anggur.
Tapi, bagaimana dengan peti mati yang teronggok menakutkan itu? Bisa jadi, rasa letih sedang mengunjungi ibumu. Bisa jadi ada pesan terselip di bunga tidurnya. Bisa jadi itu gunung es persoalan yang belum mendapat rekonsiliasi dan membuncah dalam mimpi dini hari. Kejadian dalam mimpi pada dasarnya bukan realitas yang terjadi secara an sich. Namun, kejadian itu mampu melibatkan emosi dan indera orang yang bermimpi. Takut. Geram. Sedih. Gembira. Tak disangkal, mimpi tentang hal yang menakutkan tidak jarang menguras energi orang-orang yang mengalaminya. Was-was dan kawatir. Yang jelas, menurutku, mimpi tetaplah mimpi. Menjaga kesadaran jauh lebih penting dari memikirkan apa arti sebuah mimpi. Bagiku, hidup adalah kado istimewa bagi orang-orang sadar. Kesalahan terbesar orang-orang zaman ini adalah tidak sadar akan apa yang mereka lakukan.
Mendengar ceritamu tentang mimpi ibumu, aku mencoba mencicipi bayangan itu. Bayangan peti mati yang begemuruh di pojok kamar tidur. Aku juga bisa merasakan aroma horor mengelus bulu kuduk. Tapi, ini cuma bayangan. Santai saja, mimpi itu tidaklah abadi. Sama seperti malam yang tidak pernah abadi. Sama seperti yang pernah aku katakan padamu pada subuh hari, pagi tidak pernah merelakan malam menjadi perawan tua.
Dan peti mati itu masih teronggok di pojok ruangan. Minimal di ruang imajiner dalam batok kepalaku….
*Tulisan ini pindahan dari blog lawas, 22 Maret 2007