Mesir tidak pernah absen dari linimasa Twitter saya. Berbagai informasi tentang Revolusi Mesir dari berbagai pekicau—baik pekicau dari dalam maupun luar negeri khususnya dari Mesir—senantiasa mengucur di dalam laman 140 karakter di BlackBerry saya. Sejak membuat list Twitter untuk para jurnalis dan blogger dari Mesir, berita tentang gejolak di Mesir senantiasa mengalir tiada henti. Seolah-olah saya seperti berada di wilayah di mana demonstrasi untuk menggulingkan rezim Hosni Mubarak itu berlangsung. Padahal saya sedang sibuk mengetik di daerah Kuningan, Jakarta Selatan atau makan di warung Mie Jogja di daerah Cirendeu atau sedang berdiri sambil bergoyang-goyang di dalam bus TransJakarta, dan sebagainya. Inilah teknologi!Revolusi yang sedang berkecamuk di Negeri Piramid itu tergolong unik karena terjadi di era teknologi informasi yang boleh dibilang mumpuni. Hal ini tentu sedikit berbeda dengan revolusi saat menggulingkan Diktaktor Soeharto pada tahun 1998. Media dan jejaring sosial menjadi alat untuk menyebarkan ide sekaligus mengorganisir demonstrasi anti Mubarak. Bahkan, banyak jurnalis Mesir pun rajin menulis di Facebooknya dengan lebih lengkap ketimbang di media arus utama tempat ia bekerja. Sebab itu, pemerintah Mesir sekuat tenaga untuk memblokir media sosial seperti Facebook maupun Twitter serta mematikan internet.
Tapi, gelombang demonstrasi tetap tidak bisa dibendung. Lagi-lagi, teknologi berperan cukup signifikan. Hari ini, diberitakan di media sosial, Google mencoba membantu rakyat Mesir untuk keluar dari aksi pemblokiran komunikasi dari pemerintah. Google meluncurkan layanan yang memungkinkan rakyat Mesir berbagi kicauan lagi di Twitter. Layanan ini menggunakan telepon di mana pesan suara akan secara otomatis diterjemahkan dalam pesan di Twitter dengan menggunakan tagar #egypt. Gelombang revolusi ala New Wave ini pun tidak bisa dibendung dan tentunya membuat rezim Mubarak cukup sempoyongan. Ya, era New Wave telah mengubah berbagai lanskap kehidupan manusia—tidak hanya ekonomi, juga politik.
Pagi ini, CEO dan Founder MarkPlus Hermawan Kartajaya (@hermawank) menulis di Twitter: The New Wave “people power” vs The Legacy “established power” in Egypt, who will win? Pertanyaan Bapak Marketing Indonesia ini cukup menggelitik. Hosni Mubarak adalah ikon dari rezim lawas. Ia memerintah Mesir selama 30 tahun. Akhir-akhir ini pemerintahannya dituduh korup dan tidak mampu memecahkan problem sosial di masyarakat Mesir—salah satunya kemiskinan. Sementara, orang-orang muda di Mesir menginginkan perubahan. Mereka mulai mengkritisi pemerintah. Berdiskusi di sana-sini. Membuat gerakan. Mereka diteror, ditangkap, dan sebagainya. Mirip dengan para aktivis di pengujung era Soeharto—rezim lawas yang 32 tahun berkuasa—di Indonesia. Bedanya, aktivis Mesir dimudahkan dan terfasilitasi dengan keberadaan internet dengan segala platform media sosial sekarang ini. Mereka juga berdemonstrasi dan menggalang kekuatan tidak hanya di jalan-jalan, tapi di jalur-jalur digital yang tidak kasat mata yang efeknya jauh lebih luas.
Gelombang New Wave Menyebar
Salah satu alasan Hosni Mubarak dengan mematikan internet adalah meredam gelombang demonstrasi antipemerintah yang semakin besar dan sekarang sudah menjadi perhatian besar dari dunia internasional. Alasan ini juga cukup logis. Dan ini pula yang dicemaskan oleh banyak pemimpin negara lain kalau aksi di Mesir ini menular ke negara lain—termasuk pemimpin Indonesia yang tercermin dari pernyataan menteri pertahanan yang menganggap Twitter bisa menjadi ancaman negara dari non militer. Mesir sendiri, dalam konteks tertentu, adalah imbas dari gelombang revolusi yang terjadi di Tunisia sebelumnya.
Inilah efek yang tidak bisa dihindari di era New Wave di mana telah terjadi horisontalisasi, demokratisasi, sekaligus transparansi di segala bidang. Efek domino maupun gelombang pengaruh pun ini dikhawatirkan akan menyebar tidak hanya di Mesir. Anthony Giddens—sosiolog Inggris pencetus konsep Jalan Ketiga—mengatakan telah terjadi efek dis-embedding dan re-embedding di era serba terkonek ini. Simpelnya, internet telah mencerabut (dis-embedding) informasi, berita, maupun kejadian di sebuah negara lalu menanam kembali (re-embbeding) di negara lain dalam konteks yang baru. Sebab itu, tak heran, bila demonstrasi petani di tembakau di Temanggung bisa saja memengaruhi pergolakan saham di Wall Street, Amerika Serikat. Apalagi gelombang revolusi di Mesir. Apa yang terjadi di Mesir ini tidak tertutup kemungkinan akan dicerabut dan ditanam kembali dalam bentuk baru di negara lain. Revolusi ini bisa menular. Itulah sebabnya banyak pemimpin negara khawatir dengan efek domino maupun bola salju ini.
Menurut saya sebagai salah seorang yang mengamini logika New Wave, para pemimpin negara pun harus berubah dalam memimpin negaranya. Warga negara yang sudah semakin horisontal dan berdaya ini tidak bisa lagi diperintah dengan cara-cara lawas—legacy. Apalagi dengan tangan besi, kediktaktoran, selalu berkomunikasi atas ke bawah, tidak bisa berdialog dengan warganya, apalagi memerintah dengan jalan kekerasan, dan sebagainya. Sepertinya sudah tidak zaman lagi ada pemimpin yang berkuasa sampai puluhan tahun di dalam masyarakat yang dinamis.
Lalu, apa kaitannya dengan bisnis dan marketing? Saya pernah menuliskan hal ini dan bisa dibaca dalam artikel berjudul “Kicauan Revolusioner Netizen dan Kediktatoran Merek” di blog ini juga. Inti artikel ini tak lain, merek pun sama seperti pemimpin negara tidak bisa lagi membangun kediktatoran pada konsumen di era New Wave kalau mau hidupnya terus berkelanjutan.
Sebagai penutup, gelombang New Wave akan terus bergulir, bergelombang ke berbagai negara, ke banyak lini kehidupan masyarakat, dan maupun merombaknya ke hal yang baru. Gelombang ini tidak bisa dihentikan. Ia bagaikan truk raksasa juggernaut yang melaju tanpa kendali. Sekali lagi, there’s no turning back!
Sumber: http://the-marketeers.com (1 Februari 2011)
