December 10th, 2010 § § permalink
Semangat. Ide membuncah. Aha, senang rasanya merengkuh kembali blog ini. Satu hari. Dua hari. Seminggu. Sebulan. Tiga bulan. Blog ini baru terisi lagi hari ini. 10 desember 2010.
Seminggu lalu, aku bertemu dengan seorang kawan. Dia kawan anyar. Baru dua bulan saling kenal. Dia berniat membuat blog pribadi. Dia tanya padaku apakah aku punya blog? Aku jawab, punya. Isinya tentang apa, katanya. Isinya gado-gado, jawabku. Tentang banyak hal. Opini. Cerita pendek. Bualan. Refleksi. Catatan harian. Dan sebagainya. Parasnya mengerut. Sambung bertanya: kenapa tidak segmented saja, biar bisa dijual blognya. Ah, tidak. Aku hanya menulis. Menulis apa yang memang ingin aku tulis. Ini blog personal—sebuah sisi lain.
Iya, ini hanya tempayan air kata-kata. Sebuah wadah karatan yang berisi remah-remah. Remah-remah yang remeh temeh. Tapi, aku sangat nyaman di dalamnya. Bak sebuah kubikel kecil tempatku melepas penat. Istirahat sekaligus tetirah.
“Menulis adalah satu-satunya tempat aku bisa menjadi diriku sendiri dan tidak merasa dihakimi. Aku senang berada di sana.” Itu kata Tery McMillan. Itu juga kataku sekarang.
Kalau mau baca tulisan serius saya, mereka ada di sini, di sini, dan di sini.
December 10th, 2010 § § permalink

Sumber gambar: http://www.myspace.com/amishpeanut
Lama saya tak coret-coret di halaman putih ini. Terakhir ngeblog 5 September 2010. Wow, lama juga. Tapi, apakah saya benar-benar telah berhenti sebagai seorang narablog atau minimal mati suri sebagai penulis? O, tidak juga. Sekarang—tepatnya tiga bulan silam, saya tidak meninggalkan kebiasaan lama—coret-coret!
Namun, coret-coret di halaman kertas digital yang berbeda. Tepatnya di The-Marketeers, sebuah kanal online marketing milik MarkPlus. Itulah pabrik kata-kata tempat saya bekerja. Di halaman anyar itu, saya menulis tentang topik-topik New Wave Marketing. Tentang Media Sosial. Twitter. Facebook. Marketing 3.0. Connect. Dan, sebagainya. Saya cukup menikmati pabrik kata-kata yang anyar ini. Read. Write. Share. Yang anyar telah mengembuskan kesegaran.
Sungguh aku rindu menulis di sini. Di halaman putih ini. Menulis tentang apa saja. Tentang Si Kecil yang kini sudah bisa berkidung lagu “Kasih Ibu” dan selalu merengek minta es krim. Tentang desis parau mesin penyejuk ruangan. Tentang malam. Tentang jemuran yang tidak kering. Tentang Nazruddin. Tentang tetangga baru. Tentang mimpi-mimpi. Tentang apa saja.
Aha, kini, aku memiliki dua halaman putih yang kudu aku isi secara kontinu. Dua halaman putih yang membuncahkan semangat menulis. Satu untuk hati. Satu lagi untuk budi. Kombinasi yang lengkap!
Baiklah. Escribir para siempre! Menulis untuk selamanya. Aku peluk kembali kata-kata ini…