Sepotong Kisah Natal

December 24th, 2010 § 0 comments § permalink

Tadi malam, hujan tanpa lelah mengguyur genting rumah. Aku terjaga dari proses hibernasi sejenak saat mataku memandangi si kecil tidur meringkuk. Kepalanya menyurung ke dalam bantal. Sementara, kedua tangannya mengenggam erat selimut tebal yang sedikit terbuka. Rasa haru menyembul perlahan. Malam larut begitu dingin. Gemercik air di luar menguarkan memoriku pada saat penantian Natal di awal tahun ini. Ini bukan Natal yang dirayakan di setiap penghujung Desember. Tapi, ini detik-detik kelahiran anak pertamaku, si peri kecil. Berikut sepotong tulisan di saung putih yang pernah kutulis pada Desember 2007:

TIDAK ada bintang berkelip di langit timur. Tidak ada nubuat para nabi. Tidak ada malaikat menampakkan diri di dalam mimpi. Tidak ada cerita-cerita tentang sinterklas dan pit hitam. Tidak ada pohon cemara berhias kelap-kelip lampu gantung. Tidak ada boneka salju. Tidak ada kaos kaki berisi batangan cokelat. Tidak ada suara Charlotte Church mengalun bersenandungkan kidung Silent Night. Tidak ada melodi Ave Maria ala Franz Schubert atau Johan Sebastian Bach menguar di bilik rumah. Tidak ada lonceng berdentang ditingkahi malam yang dingin selain suara detak teratur dari jam dinding yang menggantung di dekat meja rias. Tidak ada sajak Clement Moore yang dibacakan. Inilah adven di rumah kami.

Penantian Natal ini sungguh nyata. Menurut dokter, Natalku akan tiba pada pertengahan Februari mendatang, bulan di mana peri kecilku akan lahir, memamerkan tangis pertamanya, dan menambah hiruk-pikuknya dunia. Beda sekali dengan Natal kemarin, sebuah hajatan berulang setiap penghujung tahun. Riuh dan meriah diiringi oleh hujan, angin taifun, dan banjir di beberapa daerah di nusantara. Nah, inilah pengalaman pertamaku mempersiapkan kelahiran peri kecil.

Mulai Januari, ada satu kegiatan baru menyelip di papan acara yang terpaku di batok kepalaku, yakni belanja barang-barang buat bayi. Sudah dua kali, aku dan ibu peri menyambangi toko bayi Kemanggisan. Toko ini terkenal lengkap dan harganya pun miring. Sekarang, di kamarku, teronggok barang-barang buat peri kecil. Popok. Baju. Celana. Selimut. Lampin. Tisu. Minyak telon. Bedak. Ember mandi. Tempat sabun. Tas bergambar Winnie the Pooh. Sisir. Pampers. Kapas. Sarung tangan. Sarung kaki. Baby oil. Wash lap. Handuk. Hanger. Termometer.

Tiap pagi, dengan catatan tidak gerimis atau hujan, aku menemani ibu peri jalan-jalan menyusuri gang. Alih-alih senam pagi sambil menanti bola raksasa meloncat di horizon timur. Itu pun kalau awan hitam tidak bergerombol menghadang jalan setapak yang sering dilalui bola raksasa itu. Sementara itu, ibu peri tidak pernah absen menegak dua gelas susu merek Prenagen pagi dan sore. Makan sayur mayur, buah, dan lauk sebisa mungkin ikan. Aku sendiri lagi berpikir bagaimana mengatur interior rumah sebersih dan seindah mungkin. Pekan depan, aku menyewa seorang tukang untuk mengecet langit-langit kamar. Maklum atap yang bocor membuat hujan menetes dan meninggalkan bercak hitam di langit-langit. Aku dan ibu peri juga sedang merenung-renung tentang nama yang baik buat peri kecil. Itulah beberapa persiapan yang kami lakukan. Semua itu kami jalani dalam iringan doa yang tak terucapkan bibir, tapi tertulis tajam di hati kami berdua demi keselamatan dan kebaikan peri kecil. Kami berharap peri kecil bisa lahir dengan sehat dan normal. Semoga semesta juga membuka jalan-jalan berkah bagi kelancaran persalinan dan hidup kami sebagai keluarga muda.

Itulah Natal menanti kelahiran peri kecil. Anakku, mungkin tidak ada bintang berkelip di langit mengiringi kelahiranmu lantaran hujan sedang girang membasahi tanah. Tapi, bintang itu berkelip terang di hati ayah dan ibumu. Mungkin tidak ada cemara berhiaskan lampu, bola kristal, dan patung malaikat. Tapi, biarlah suplir-suplir yang menggantung di dekat jendela kamar menari digoyang angin bersama pohon mangga milik tetangga yang pucuknya menjuntai sampai di halaman rumah kita. Mungkin tidak ada lagu Silent Night, Ave Maria, menguar di bilik kecil rumah kita. Tapi, biarlah senandung parau dari mulut ayah ibumu menguar bersama iringan gerimis yang meloncat-loncat di atas genting maupun aspal depan rumah kita. Aku juga minta doamu anakku agar Tuhan memberikan energi yang berlipat-lipat di jari-jari ayahmu ini untuk terus menulis, menari-nari di atas keyboard untuk melahirkan kata-kata ajaib. Natal sudah di ujung jalan.

Aha, tak terasa ada gelembung cair mengembang di kedua sudut mataku. Dalam gelap kamar itu, kedua bola kristal cair itu tersurung. Jatuh dan menganak sungai di kedua pipiku. Sementara, bola-bola air dari langit masih terus jejingkrakan di atas atap rumah. Angin pun masih menyelinap lewat lobang kunci mengantar dingin. Si kecil bergeming dengan kepala masih tersurung di bawah bantal bersarung gambar the pooh itu.

“Aku sayang kamu, anakku.”

Malam hari, 23 November 2008

NB: kisah ini sengaja aku posting di blog ini sebagai dokumentasi dengan judul anyar. Sepotong cerita Natal, the real Christmas!

#ilustrasi diambil dari sini

Para NetAdvocate dan Pembangun Tribe

December 24th, 2010 § 0 comments § permalink

Saat membuka internet, blog siapa yang pertama Anda baca atau akun Twitter siapa yang pertama  Anda komentari atau Anda retweet? Biasanya, kita—termasuk saya ini—selalu ‘berlanggan’ terhadap beberapa nama. Nama-nama di media sosial ini tidak pernah absen, minimal saya baca, di internet. Ya, mungkin karena saya merasa ada sesuatu yang bisa saya ambil dari sana dan itu berguna bagi saya.

Memang, tak disangkal di dunia internet, kita mengenal beberapa orang yang punya pengaruh bagi para netter lainnya. Biasanya, mereka bisa diindikasikan dengan nama yang sudah “kondang” di kalangan netter. Selain itu, ia biasanya mempunyai banyak  follower di Twitter atau banyak teman di Facebook. Kemudian, blognya boleh dibilang banyak dikunjungi, dikomentari, dan dikutip oleh banyak orang, dan sebagainya. Beberapa  blogger menyebutnya sebagai “seleb blogger” atau “seleb narablog”. Biasanya, para netter lain cukup menaruh “hormat” dan “mendengarkan” ide-ide sang seleb tersebut.

Nah, beberapa saat lalu, Marketeers merilis sembilan profil pengguna internet. Kesembilan profil ini dikupas dengan disertai data riset dari MarkPlus Insight dan dimuat di Majalah Marketeers edisi teranyar edisi November yang mengupas tuntas tentang “NETIZEN”. Profil yang pernah dibahas adalah NetTerrorist yang merujuk pada netter yang doyan membuat aura negatif di internet dengan menyebarkan konten yang mengusung kebencian, permusuhan, SARA, di internet. Kali ini, kebalikan dari NetTerrorist, ada profil yang bernama NetAdvocate.

Menurut Marketeers, NetAdvocate merupakan para pemberi pengaruh (influencer), pejuang sejati internet, memiliki idealisme tentang keterbukaan, persamaan, kebebasan berbicara, sekaligus semangat besar untuk menyampaikan gagasan dan ide-ide positif kepada khalayak.

Mungkin para NetAdvocate ini merupakan orang-orang yang dalam istilahnya Seth Godin mampu membangun tribe. Godin melihat di era digital ini sebuah kelompok hanya memerlukan dua faktor untuk bisa menjadi sebuah tribe, yakni kesamaan minat dan sarana komunikasi. Nah, dalam konteks inilah, seorang pemimpin dibutuhkan. Tentunya, bukan pemimpin yang mengusung konsep top down, tapi pemimpin yang mengusung pola komunikasi horizontal.

Di dunia maya, bertebaran komunitas berbasis minat maupun ide ini. Mereka yang minat fotografi, misalnya, membuat kelompok fotografi sendiri, entah dalam sebuah blog bersama maupun di media sosial seperti Facebook. Yang minat traveling membentuk komunitas traveling dengan membangun blog bersama, milis, dan sebagainya. Termasuk mereka yang minat kuliner, musik jazz, android, pecinta sampah, olahraga, games, otomotif, sepeda onthel, dan sebagainya. Di komunitas itu, pasti ada orang yang berfungsi sebagai pemimpin.

Bagaimana membangun tribe? Sederhana saja, mulailah dengan gagasan. Namun, gagasan hanya tinggal gagasan kalau tidak ada yang berani mengeksekusi gagasan dan membuat orang lain mengikuti gagasannya. Usai membangun minat dan mendapatkan banyak pengikut, penggagas tadi tinggal mengoptimalkan peran komunikasi di dalamnya.

Godin menawarkan tiga cara berkomunikasi di dalam tribe. Pertama, ubahlah minat dan ide menjadi target dan kehendak kuat akan perubahan. Kedua, sediakanlah sarana untuk memudahkan komunikasi antaranggota. Ketiga, buatlah pencapaian agar tribe berkembang dan bertambah anggotanya.

Di kalangan netter Indonesia, kita mempunyai Ndoro Kakung. Blogger satu ini berhasil membangun tribe di kalangan para blogger. Dia berhasil menciptakan ruang diskusi di blognya di mana satu artikel yang ia posting rata-rata mendapat 70 sampai 100-an komentar dari blogger lain. Di Twitternya pun ia punya banyak follower (ada 23.683 follower sampai tulisan ini dibuat). Posisi Ndoro sebagai salah satu “selebriti” di dunia blog cukup powerful. Buktinya, saat ada kasus Prita, ia termasuk orang yang punya daya pengaruh besar yang menggerakkan orang terlibat dalam gerakan “koin keadilan.”

Selain Ndoro Kakung, ada contoh lagi Pandji. Saat Indonesia sedang babak belur oleh terorisme, Panji melempar ide Indonesia Unite. Sambutnya pun sangat positif. Ide ini pun akhirnya menjadi sebuah gerakan bersama. Nah, masih banyak pencipta-pencipta tribe di dunia maya lainnya yang sukses mempengaruhi dan menggerakkan banyak netizen.

Apa hubungannya dengan marketer? Marketer kudu bisa belajar dari ide Seth Godin ini. Marketer harus bisa menjadi menciptakan dan memimpin tribe. Cara ini yang mungkin efektif untuk mendekatkan merek dengan pelanggan netizen. Apalagi, netizen sekarang ini diyakini sebagai satu dari tiga subkultur yang mendominasi dunia sekarang selain youth dan women. Sepertinya, menarik sekali ketika marketer mampu membuat tribe yang mencintai mereknya. Ini tantangan bagaimana merek bisa menggerakan orang untuk membangun tribe.

Nah, di Era New Wave ini, marketer kudu bisa memimpin para netizen kalau mau mereknya tetap eksis. Tentunya bukan pemimpin bergaya vertikal, tapi horisontal alias pemimpin yang mau  terlibat secara setara dalam percakapan dengan sesama anggota tribe.

Pada intinya, menurut saya, para NetAdvocate berhasil membangun komunitas yang saling terhubung satu sama lain (tribe). Mereka terhubung dengan seorang pemimpin maupun dengan sebuah ide maupun kesamaan minat. Selain Ndoro Kakung dan Pandji, di dunia virtual kita mengenal banyak nama  yang berperan sebagai NetAdvocate ini. Paling tidak, dengan kehadiran para advokat-advokat internet tersebut, belantara mayapada yang tak terbatas ini tidak lagi menjadi tempat sampah digital mahabesar. Kita bisa menjumput banyak kebaikan dari para “pendekar-pendekar” internet tersebut.