Merindu Nazruddin

August 29th, 2010 § 4 comments

SORE TADI, aku menanti Nazruddin. Dia seorang musafir dari negeri yang tak pernah kukenali. Terakhir aku temui saat aku duduk di bangku sekolah dasar. Sekolah yang berada di bawah bayangan dua bukit yang dijejali oleh cemara-cemara dan pohon jati. Dua bukit yang sebenarnya adalah lahan yang dikhususkan untuk menanam orang mati. Sebelah kiri adalah kuburan untuk orang-orang keturunan Tionghoa. Sebelah kanan adalah kuburan untuk orang-orang pribumi. Sebelah kiri, tempat bertengger ayam hutan dan jalak. Sebelah kanan, tempat bersembunyi gagak-gagak hitam. Sebelah kiri dihiasi dengan batu granit berbau gaharu. Sebelah kanan berhias cungkup berbau kemenyan. Satu indah. Satu lagi angker.

Sampai sekarang, aku tak tahu kenapa harus ada dua kuburan untuk dua etnis yang berbeda itu. Ah, tak tahulah. Yang jelas, kini, aku sedang merindukan Nazruddin. Sosok Nazruddin selalu membawa ingatanku pada masa lampu. Masa kecilku. Masa saat aku meringkuk kedinginan di sebuah desa di malam hari di bawah tempias cahaya lampu teplok. Maklum, kedua bukit itu doyan menggelindingkan dingin ke desa yang belum disengat listrik itu.

Petang selalu membawa Nazruddin dan mengantarnya di teras rumah. Ia datang saat kunang-kunang melintas di rerimbunan tanaman ceplok piring di taman. Saat sepasang bola mata burung hantu mulai berkilat-kilat di dahan pohon asem. Ia datang membawakanku segepok cerita dari negeri entah yang hangat. Ia pernah bercerita tentang seorang pertapa  di bukit bersalju yang kesepian. Pertapa yang bersahabat dengan angin, hutan, cerpelai, dan bebatuan. Pernah juga bercerita tentang seorang nenek pencari kayu bakar yang melindungi cucunya dari terpaan badai gunung dan incaran serigala hutan.

Ah, Nazruddin adalah sepotong romantisme masa lalu. Seandainya jam dinding di atas meja rias ini bergerak terbalik dan membawaku ke masa lalu, o, betapa indahnya. Aku akan duduk di atas tikar pandan. Tubuhku terbungkus selimut hangat. Kedua ujung kakiku bersembunyi di balik kaus kaki ukuran tanggung. Di luar, hujan mendera. Badai mengibas-ibaskan pohon nyiur samping rumah. Langit mengeluarkan bunyi gelegar. Aku mendekap kedua lututku lebih erat. Dan, Nazruddin terus berceloteh. Parasnya samar oleh tempias lampu teplok. Malam selalu mengaburkan wajahnya. Aku belum pernah melihat wajahnya dengan jelas.  Tapi, ceritanya selalu bergelora, membakar hati, dan menyisakan hening.

Sore tadi, aku menanti Nazruddin. Roti bakar dengan selai pisang kesayangannya sudah siap di meja makan. Kopi hitam pun siap diseduh. Di atas rak lemari, ada sebotol anggur tua. Aku siap mengajaknya mabuk untuk sepotong malam saja. Tapi, sayang sekali, matahari kian melorot di ujung Barat. Petang tak kunjung membawa Nazruddin ke teras rumah. Baiklah, mungkin kita tunda pesta berbagi gelak malam ini. Mungkin Nazruddin sedang di perjalanan, istirahat untuk sepotong dahaga, singgah ke kota, atau sedang di bawah pohon menanti hujan reda.

Matahari pun padam. Malam jatuh di teras rumah. Tanpa Nazruddin. Sepertinya, aku kudu menulis surat buatnya malam ini…

* sumber foto: di sini

Tagged , , ,

§ 4 Responses to Merindu Nazruddin"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

What's this?

You are currently reading Merindu Nazruddin at Air Kata-Kata.

meta