Blogger dan Plagiat

August 21st, 2010 § 3 comments

MUNGKIN, hari-hari ini menjadi hari-hari paling berat yang kudu dilakoni oleh blogger Eko Ramaditya Adikara. Nama blogger  ini kembali menjadi wacana seru di kalangan para netter dan pelaku media. Kali ini, bukan puja-puji yang dilontarkan padanya seperti waktu sebelumnya. Sebaliknya, caci maki dan kekecewaan. Maklum saja, blogger tunanetra dengan gelimang prestasi ini mengaku telah melakukan pembohongan publik.

Singkat cerita,  Rama yang selama ini mengaku sebagai komposer asli musik game Jepang telah berbohong. Ia tidak pernah membuat musik itu. Tapi, ia cuma menamai kembali (rename) file komposisi musik itu. Kebohongan Rama berhasil diendus dan dibongkar dalam diskusi online. Akhirnya, pada 10 Agustus 2010, Rama secara resmi dalam surat bermeterai mengakui kesalahan itu di situs Kotak Game—sebuah portal game Indonesia. (bdk. “Skandal Blogger Ramaditya Adikara” karya Syaifuddin Sayuti, blogger Kompasiana).

Gayung bersambut. Terbongkarnya kasus plagiat ini mengecewakan banyak pihak. Wartawan Kompas dan admin blog Kompasiana Pepih Nugraha, misalnya, mengaku kecewa sejadi-jadinya usai membaca postingan Syaifuddin Sayuti di Kompasiana. Pepih tak menyangka Rama berbuat bohong. Apalagi Pepih sendiri menjadi korban kebohongannya. Pasalnya, Pepih pernah mewawancara, menulis, dan menurunkan berita tentang Rama di Rubrik Sosok Kompas edisi 8 Juli 2008. Dengan demikian publik pun ikut dibohongi.

Lebih lanjut, banyak pihak pun merasa dibohongi. Rama juga pernah tampil Kick Andy dan dinobatkan sebagai pemuda berprestasi. Sementara, buku “Blind Power: Berdamai dengan Kegelapan” terbitan Grafindo Media Pratama (2008) yang menceritakan kisah inspiratifnya pun segera ditarik dari peredaran. Akhirnya, decak kagum kepadanya sirna sekejap. Pil pahit ini memang kudu ia telan. Ini sudah menjadi risiko atas perbuatannya.

Korupsi Intelektual

Kasus Rama jadi bahan pembelajaran menarik. Mengingat belakangan ini kasus plagiat yang terbongkar kian marak. Virus plagiarisme telah menghinggapi semua kalangan. Tak hanya dilakukan oleh khalayak biasa, tapi juga dari kalangan pejabat maupun akademisi. Plagiat di kalangan akademisi sempat membuat syok banyak pihak. Ada profesor yang menjiplak karya ilmiah mahasiswanya. Ada mahasiswa yang kopi paste karya almamaternya. Ada kolumnis surat kabar yang menjiplak kolumnis berbahasa asing. Bahkan, penjiplakan naskah pidato pun bisa terjadi. Patton Oswalt, misalnya, menjiplak sebagian isi pidato senator Barrack Obama saat berjuang menjadi anggota DPR AS. Dan banyak lagi.  Ujungnya, integritas intelektual pun rusak.

Saya setuju bila tindakan plagiat sebagai dosa besar bagi kaum inletektual. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan plagiat sebagai pengambilan karangan (opini dsb) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (opini dsb) sendiri. Saya senang menyebutnya dengan korupsi intelektual. Logikanya sama dengan korupsi, yakni mengambil milik orang lain untuk memperkaya dirinya sendiri. Menjiplak karya dan mengakuinya menjadi buah karyanya sama saja merampas kekayaan dan peluang-peluang dari pencipta aslinya.

Bila tindakan plagiat ini terbongkar, sang plagiator biasanya mendapat hukum sosial yang tidak ringan. Bisa jadi orang itu akan kehilangan kepercayaan dari publik lagi.Bisa jadi media-media pun tidak sudi lagi menerbitkan tulisan-tulisan dia—sekalipun karya itu merupakan karya aslinya. Dia akan menjadi orang yang paling kesepian. Kalau begitu, hati-hatilah dengan plagiat. Plagiat bisa menjadi pintu gerbang bagi kematian karakter kita di publik.

Mulai dari Blog

Sebagai seorang blogger atau sebagian menyebutnya dengan narablog, saya menjadikan halaman putih digital ini sebagai ruang latihan menghasilkan karya-karya tulis saya sendiri. Blog, bagi saya, bisa menjadi tempat kita berlatih jujur di depan publik. Lebih baik tulisan di blog ini masih awut-awutan, tapi bukan hasil curian dari tulisan orang lain.

Nah, ada banyak cara berlatih menghindari kecenderungan plagiat di dalam blog. Pertama, selalu mencantumkan referensi—entah menyebut nama media, nama orang—atau tautan dari opini yang kita cuplik dalam tulisan kita di blog. Kedua, gambar atau foto yang kita tampilkan di blog sebagai ilutrasi sebaiknya diberi sumber yang jelas. Bisa berupa alamat situs web tempat foto itu diunduh atau nama pembuat foto maupun ilustrasi tersebut. Ketiga, disiplin mencantumkan beberapa sumber referensi—entah judul buku, majalah, artikel koran, dan sebagainya. Keempat, selalu percaya diri terhadap hasil karya sendiri.

Buat Rama, saya pribadi sebagai  sesama blogger masih percaya bahwa Anda masih bisa menyumbangkan karya-karya kreatif hasil kerja keras sendiri. Dan, biarkan nantinya, karya-karya asli Anda itu yang akan  membela Anda.

Mari belajar menjadi seorang penulis dan bukan plagiator!

Sumber foto: http://pharmainfo.net

Tagged , , , , , , ,

§ 3 Responses to Blogger dan Plagiat"

  • admin says:

    Saya tertarik dengan tulisan dari Wicak Hidayat,Redaktur Pelaksana DetikiNET berjudul “Ramaditya dan Sisi Gelap Seorang Jedi.” Tautannya bisa dibaca di http://www.detikinet.com/read/2010/08/20/125417/1424259/398/ramaditya-dan-sisi-gelap-seorang-jedi/

    Satu hal yg menarik adalah kutipan surel Rama yg bunyinya: “”Maka, kalau diizinkan, saya harap kasus ini selesai sampai di sini. Jujur teman-teman, saya merasa lelah sekali fisik maupun mental karena kasus ini, apalagi kalau menyadari bahwa selama ini saya sudah banyak berbuat kesalahan. Mohon izinkan saya untuk istirahat dan melanjutkan kehidupan saya,” tandas Rama dalam emailnya.

    Buat Rama, sekali lagi, saya masih percaya Anda bisa berbagi karya Anda lagi. Teruslah berkarya! Pengalaman pahit ini jadikan sebagai kekuatan positif untuk hidup lebih baik. Kita semua juga tak luput dari kejatuhan. Ini bukan akhir dari segalanya, Bung!

  • Rna says:

    Jujur, dengan maraknya FB (agak melenceng nih komen), makin banyak plagiator, baik yang tidak sengaja atau yang disengaja.
    Sekdar status saja, hasil dr plagiat.
    Entah itu sempalan dari kirik lagu, kalimat bijak dan juga puisi-puisi saduran.
    Saya menamakan plagiator karena di status itu tidak dicantumkan sumbernya.
    Yang unik lagi, ketika status itu di comen oleh FBookers, si pembuat status itu dengan mantap menanggapinya…hehehhe, miris memang.
    Belum lagi kalau kita menengok “note”..waaahhh..ini juga sumber virus plagiator.

  • Dunia digital memang riskan dengan praktik plagiarisme macam ini. Apalagi dengan teknologi kopi paste. Butuh kejujuran sekaligus kedisiplinan untuk mencantumkan sumber saat mencuplik opini atau tulisan orang dalam laman tulisan kita. Tak usah berharap banyak dari jutaan netter untuk melakukan ini.Kita mulai dari kita sendiri, melalui blog kita, melalui status FB kita, laman Twitter, dan sebagainya. Sekalian kampanye stop plagiarism! Gitu…btw, terimakasih komennya di blog ini. Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

What's this?

You are currently reading Blogger dan Plagiat at Air Kata-Kata.

meta