KEINGINAN menulis kembali membuncah. Bukan sekadar menulis serius. Tapi, menulis kisah remeh temeh. Sungguh, aku merindukannya. Kemarin, aku membolak-balik halaman digital blog lawas, Musafir Muda. Keinginan menulis seperti di blog lawas ini pun menguat. Aku juga lebih senang dengan template blognya: simpel, minimalis, artistik—begitu kata salah seorang narablog dalam komentarnya.
Sebab itu, aku berburu lagi desain rumah buat kata-kata ini. Googling template wordpress dilakukan bak memilih produk-produk di toko swalayan. Tentu cari yang gratisan. Targetnya adalah rumah sederhana, bersih, bening, rapi, dan artistik. Akhirnya, kutemukan rumah Mediteranian ini. Simpel. Meski kudu dipermak dan didandani sana-sini agar lebih artistik. Aku pun suka. Terimakasih buat Rumah Web—penyedia jasa hosting—yang telah menambah kapasitas rumah ini agar memuat lebih banyak kata-kata.
Rumah ini mungkin akan menjadi rumah kata-kata di mana hatiku diam di dalamnya. Bersanding hangat dengan budiku. Dan semoga di rumah ini menyembulah sebuah mata air. Mata air kata-kata. Air kata-kata yang menyegarkan. Rumah aneka cerita. Tentang Tuhan. Tentang daun. Tentang sariawan. Tentang darah. Tentang hujan. Tentang kaus kaki. Tentang lumut. Tentang dunia.
Aku menulis lagi.
Sumber gambar: http://rivertext.smugmug.com
this was a very entertaining read. i enjoyed it very much!
itulah kenapa…. Cogito Ergo Sum – ku hampir bergeser menjadi Scribo Ergo Sum – mu
sangat mudah tetap konsisten berpikir dan beranalisa…tp sangat sulit untuk tetap konsisten menuliskannya