August 31st, 2010 § § permalink
LELAKI BERKULIT sawo matang itu tampak semringah saat memperagakan diri melukis di sebuah kain batik di rumah produksinya. Tangannya begitu cekatan mengayunkan canting di atas kain. Dialah Sugito—seniman batik lukis dari dusun Gunting, Gilangharjo, Pandak, Bantul, Yogyakarta. Untuk menjangkau rumah produksinya pun tidak gampang. Selain letak yang bersembunyi di balik bukit, orang yang tidak pernah ke sana pun kudu banyak bertanya tentang alamatnya pada orang di jalan.
Tapi, di balik kesederhanaan itu, mungkin banyak orang tak mengira kalau batik-batik besutan Sugito sudah merambah Italia, Prancis, Yunani, dan Amerika Serikat. Batik lukis dengan corak kontemporernya pun sukses menjajaki Singapura, Malaysia, dan Inggris. Belakangan ini, dia juga sering disibukkan dengan pameran berskala nasional dan internasional. Untuk menemui dia pun tak gampang. Saya beberapa kali kudu mengulang janjian ketemu demi sepotong wawancara untuk dimuat di majalah milik pabrik kata-kata tempat saya bekerja. Janjian pertama gagal lantaran dia disibukkan dengan pameran di Shanghai. Saat diwawancara pun, seniman batik beraliran ekspresionis ini baru saja pulang dari pameran batik di Jakarta. » Read the rest of this entry «
August 29th, 2010 § § permalink
SORE TADI, aku menanti Nazruddin. Dia seorang musafir dari negeri yang tak pernah kukenali. Terakhir aku temui saat aku duduk di bangku sekolah dasar. Sekolah yang berada di bawah bayangan dua bukit yang dijejali oleh cemara-cemara dan pohon jati. Dua bukit yang sebenarnya adalah lahan yang dikhususkan untuk menanam orang mati. Sebelah kiri adalah kuburan untuk orang-orang keturunan Tionghoa. Sebelah kanan adalah kuburan untuk orang-orang pribumi. Sebelah kiri, tempat bertengger ayam hutan dan jalak. Sebelah kanan, tempat bersembunyi gagak-gagak hitam. Sebelah kiri dihiasi dengan batu granit berbau gaharu. Sebelah kanan berhias cungkup berbau kemenyan. Satu indah. Satu lagi angker. » Read the rest of this entry «
August 21st, 2010 § § permalink
MUNGKIN, hari-hari ini menjadi hari-hari paling berat yang kudu dilakoni oleh blogger Eko Ramaditya Adikara. Nama blogger ini kembali menjadi wacana seru di kalangan para netter dan pelaku media. Kali ini, bukan puja-puji yang dilontarkan padanya seperti waktu sebelumnya. Sebaliknya, caci maki dan kekecewaan. Maklum saja, blogger tunanetra dengan gelimang prestasi ini mengaku telah melakukan pembohongan publik.
Singkat cerita, Rama yang selama ini mengaku sebagai komposer asli musik game Jepang telah berbohong. Ia tidak pernah membuat musik itu. Tapi, ia cuma menamai kembali (rename) file komposisi musik itu. Kebohongan Rama berhasil diendus dan dibongkar dalam diskusi online. Akhirnya, pada 10 Agustus 2010, Rama secara resmi dalam surat bermeterai mengakui kesalahan itu di situs Kotak Game—sebuah portal game Indonesia. (bdk. “Skandal Blogger Ramaditya Adikara” karya Syaifuddin Sayuti, blogger Kompasiana). » Read the rest of this entry «