SUARA batuk kecil dengan nada putus-putus itu menguar dari bilik gelap. Bilik tempat si kecil meringkuk dengan bantal guling kesukaannya. Suaranya sedikit serak ditingkahi desis pelan mesin penyejuk udara. Pada 27 Januari—sebulan persis sebelum ia merayakan ulang tahunnya yang ke-2, demam menghajar tubuh mungil seberat 12 kilogram itu. Kain pengompres kumal menempel di dahinya yang pucat.
Suhu tinggi menyengat tubuhnya. Membuat Si Kecil selalu terjaga. Tidur pun tak pulas. Sesekali mulut mungilnya mengeluarkan rintihan kecil. Seorang dokter di RS Harapan Kita yang kami temui esok harinya memvonis Si Kecil terkena radang tenggorokan. Aku akui cuaca memang lagi tak bersahabat belakangan ini. Mendung bertengger di atas atap rumah membawa gerah. Hujan mengguyur membawa becek dan lembab. Panas pun terasa menyengat sejadi-jadinya. Debu-debu kelihatan dan tak kelihatan berterbangan di udara kamar. Lumrah bila radang menyerang tenggorokan Si Kecil di mana sistem pertahanan tubuhnya sedang melorot.
Resep pun ditulis. Tiga jenis obat tak lama disurungkan keluar dari loket apotek milik rumah sakit pelat merah itu. Sebuah balon warna biru langit bermotif bintang kubeli seharga Rp 10 ribu. Gara-gara balon ini aku ‘dimarahi’ istriku, mengingat balon yang dipasang di ujung tongkat terbuat dari sedotan plastik itu di pasar harganya cuma Rp 2.000.
Mobil warna kuning berlabel “Taxiku” dengan Djaelani—nama sang sopir itu mengantar kembali kami ke rumah. Dua jenis obat—antibiotik dan obat batuk pilek segera diasup Si Kecil. Ia pun tertidur. Tapi, tak kami sangka, malam harinya merupakan malam panjang.
Usai mengasup Proris—obat penurun panas, Si Kecil tampak lebih aktif. Semula dibayangkan obat itu mengandung ingredien yang membuatnya ngantuk. Sebaliknya, Si Kecil malah tampak lebih aktif. Ia lari ke sana ke mari. Menangis. Gelisah. Menjerit histeris. Marah. Banting mainan ke ubin. Ia pun tak mau diajak ke kamarnya. Ia lebih senang bermain di depan kulkas ataupun di dapur. Anehnya lagi, tubuh Si Kecil sudah tak panas lagi. Kantuk pun menjauh dari anak sulungku yang bernama Jagad Cleva Nitisara dengan nama Santo Pelindung John de Britto itu. Ini berlangsung sampai pukul setengah lima pagi. Si Kecil pun mulai merebahkan diri di kasur dengan guling kesayangannya saat adzan pagi mengucur deras dari surau dekat rumah.
Ia pun tak tidur lama. Sejam saja. Ia mulai bertingkah lagi. Meski tak seseru malam sebelumnya. Lelah memancar dari tubuhnya yang pasi. Aku memutuskan tidak masuk kantor untuk mendampingi dirinya. Syukur, ia masih doyan makan dan menjumput sejenak istirahat siangnya.
Sore harinya, Si Kecil kami bawa lagi ke Klinik Alamanda—klinik milik RS Harapan Kita khusus untuk anak-anak yang sakit. Tak dinyana, kami bertemu dengan dokter yang pertama kali selama dua tahun menangani Si Kecil sejak kelahirannya di RS yang sama. Katanya, obat penurun panasnya tidak cocok. Prosis membuat Si Kecil gelisah, deg-degan, dan mengalami iritasi lambung. Dokter dengan kacamata berbingkai hitam itu pun segera menulis resep untuk sebotol sirup obat penurun panas yang baru.
Sejak ganti obat, Si Kecil bisa tidur pulas seperti biasanya. Meski tubuhnya tampak menciut—pipinya yang dulu lebar kini sudah kendur. Upz, tak lupa, balon berwarna biru langit, bermotif bintang, dan seharga Rp 10 ribu itu kami kembalikan kepada si penjualnya di selasar rumah sakit. Tanggapannya dingin. Ah, aneh-aneh saja. Yang jelas, satu resolusi yang segera kami eksekusi tak lain adalah bersih-bersih rumah!