ANGKA 9 dan angka 11 adalah angka penuh arti. Angka ini pernah dipakai untuk menandai sejarah dunia, Tragedi 11 September 2001. Tragedi 11/9 memutar memori kita pada suatu pagi nan cerah di Manhattan. Pagi saat matahari masih menyemburkan sinar hangatnya sembari membelai gedung-gedung jangkung. Pagi saat dua burung besi berisi ratusan penumpang menghantam menara kembar World Trade Center. Pagi naas dan menewaskan lebih dari 3.000 orang.
Bagaimana kalau kita balik angkanya menjadi 9/11? Peristiwa 9/11 juga sarat arti. Pada 1989, angka itu merujuk peristiwa runtuhnya Tembok Berlin. Ini sejarah penting bersatunya dua Jerman, Jerman Timur berhaluan komunis dan Jerman Barat berhaluan kapitalis. Tembok yang membentang 155 kilometer dengan tinggi 3,6 meter ini dibangun pada 1961. Sekutu membangunnya dengan dalih melindungi demokrasi dari komunisme. Ada lebih dari 178 kematian akibat ditembak saat orang mau melintas. Tercatat pula ada sekitar 5.000 orang yang berhasil melintasi tembok maut ini. Namun, hari ini, 20 tahun silam, tembok itu runtuh. Di depan Gerbang Brandenburg, warga Jerman bersatu bersorak-sorai diiringi kibaran bendera warna hitam-merah-kuning dan ditingkahi cahaya dan deru kembang api.
Sementara itu, jauh pada 1538, tokoh Reformasi Jerman Martin Luther mendeklarasian pernyataan: ‘It would be a good thing if young people were wise and old people were strong, but God has arranged things better.’ Berlanjut pada 1799. Angka ini mengacu pada Napoleon Bonaparte yang resmi menjadi diktaktor. Pada 1904, angka ini bicara tentang pesawat yang diterbangkan pertama kali. Pada 1918, Bavaria memproklamirkan diri sebagai republik. Tahun 1932, angin ribut mengosak-asik Santa Cruz del Sur Cuba dan menewaskan 2.500 orang. Pada 1970, Presiden Prancis Charles deGaulle mati di usia 79 tahun. Pada 2008, ketiga bomber Bom Bali I, Amrozi-Muklas-Imam Samudra dieksekusi mati di Nusakambangan.
Tapi, peristiwa 9/11 yang bagiku paling berarti adalah peristiwa di tahun 1976. Pada saat inilah, malam hari dan Jogja sedang dibekap hawa dingin, aku dilahirkan. Aku dilahirkan dari seorang ayah tentara dan ibu seorang pegawai negeri. Bantul, kampung halamanku. Lahir sebagai anak ketiga setelah dua kakak perempuanku.
Jarang aku merayakan ulang tahun. Andai dirayakan, itu pun sederhana. Perayaan besar justru terjadi ketika aku berada di asrama Girisonta, Ungaran, Jawa Tengah, 13 tahun silam. Bila hari itu tiba, seluruh isi asrama berpesta. Minimal dengan sajian makan siang khusus. Maklum, pada hari itu, bertepatan dengan hari ulang tahun seorang pembesar asrama. Namanya Bruder Van Dooren SJ. Saat aku datang, ia sudah terlalu uzur. Ia tinggal wisma Emaus, tempat para Jesuit tua menunggu keabadian. Parasnya lucu seperti dokter Patch dalam film Patch Adam (1998) yang dibintangi oleh Robin Williams. Memorinya sedikit aus. Pelupa. Doyan jalan-jalan dengan sepeda unta, bertopi koboi, mengelilingi kampung seputar asrama. Ia begitu dicintai anak-anak kampung. Buktinya, banyak anak dan warga kampung yang senang hati mengantar pulang bruder itu karena lupa jalan pulang ke asrama.
Ada sepotong peristiwa yang tak pernah tanggal dari batok kepalaku. Suatu sore, saat sedang latihan doa di kubikel, Bruder mengebrak pintu. Pintu terbuka. Kami pun terjaga dari doa (—lebih tepat tebangun dari tidur).
“Abdi mana Abdi. Saya mau potong rambut!” kata Bruder dengan suara serak sedikit kasar. Asal tahu saja, Abdi adalah seorang penghuni asrama yang jago potong rambut.
“O, Abdi di kubikel sebelah Bruder!”
“Terimakasih.”
Bruder pun berlalu. Pintu kembali ditutup dengan keras. Braaak! Kami pun kembali ke posisi doa lagi. Tanpa lama kemudian, pintu digebrak lagi. Bruder itu pun masuk ke kubikel kami lagi.
“Ada apa lagi, Bruder?”
“Tadi, siapa namanya?” tanya Bruder polos. Rupanya Bruder lupa nama yang semula ia cari.
Lalu tawa pun berderai pelan di kubikel kami. Maklum, kami tidak boleh berbuat gaduh pada saat-saat latihan doa. S-i-l-e-n-t-i-u-m!
Bruder Van Dooren sudah lama meninggal. Tapi, kenangan lucu masih menggantung di batok kepalaku. Ternyata, sudah bejibun peristiwa mengisi cerita dalam hidupku. Tidak harus peristiwa-peristiwa besar. Peristiwa remeh-temeh ternyata sungguh bergelimang makna. Peristiwa-peristiwa kecil yang sering tidak dilirik, dianggap tidak ada guna, dan jarang ditulis. Hidupku adalah sebuah cerita besar yang terangkai dari cerita-cerita kecil tersebut.
Hari ini, aku bersyukur karena Tuhan masih memberi lembar-lembar kertas kosong untuk segera aku isi dengan cerita-cerita baru. Lebih ajaib lagi, aku kini mengisinya bersama istri dan seorang anak laki-laki yang menggemaskan. Seorang bocah yang suka menyembunyikan remote tv di kolong lemari kaca, handphone di mesin cuci, kaca mata di bawah bangku sofa, dan sebagainya. Mari merayakan dan merawat hidup yang dianugerahkan secara cuma-cuma ini!
Cerita belum berakhir…
Foto: flickr
I would like to see more posts like this!.. Great blog btw! Subscribed..
Hey admin, quite informative blog post! Pleasee continue this awesome work..
i thought this was a really great post to read. i’ll check back for new posts by you!