Sigit,
Aku nulis e-mail ini dengan air mata yang menggenang-genang di pelupuknya. Tampaknya kata ‘sahabat’ terlalu dangkal untuk dilekatkan padamu. Tapi tak kutemukan kata yang lebih daripada itu; barangkali karena bahasa menemui keterbatasannya, dipermalukan oleh ketidakmampuannya melambangkan rasa.
Apa yang sudah kita alami bersama? Banyak, cukup banyak untuk membuat rasa kehilangan itu begitu nyata. Kehilangan yang tak tergantikan, karena nggak ada yang bisa menggantikan. Semua orang punya tempat, dan ketika tempat itu menjadi kosong ketika ditinggalkan, aku akan meletakkan selembar kertas bertuliskan ‘ke toilet’ atau semacamnya, sehingga orang yang melihatnya akan beranjak pergi dan memilih tempat lainnya.