Pluralisme dalam Pawai Budaya

Rombongan pembuka prosesi Budaya 2009. Foto: Sigit Kurniawan Indonesia sungguh beragam. Warna-warni budayanya. Perbedaan bukanlah sesuatu ancaman. Perbedaan itu indah. Paling tidak, inilah yang saya saksikan dengan mata kepala sendiri pada Selasa, 18 Agustus 2009. Ada yang berbeda di kawasan Tugu Monas siang itu. Siang itu, saat matahari lagi mengucurkan panasnya di sepanjang Jalan Medan Merdeka digelarlah Pawai Budaya Nusantara. Dalam pawai ini, perwakilan dari 33 provinsi di Indonesia ‘berunjuk gigi’ dengan menampilkan ragam kesenian mereka. Kesenian yang dipadu dalam kostum daerah, tarian, musik, dan nyanyian budaya.

Saya sumringah dengan gelar budaya seperti ini. Beberapa kali, saya turut menyaksikan arak-arakan budaya macam ini. Berbekal kamera digital biasa—Kodak EasyShare tipe ZD710 dengan kekuatan 7,1 megapixel, saya berupaya mengabadikan perayaan budaya ini. Meski bukan kamera profesional, hasilnya tidak jelek-jelek amat. Apalagi saya hanyalah seorang citizen journalist yang hobinya ngeblog.

Arakan-arakan budaya dimulai sekitar pukul 14.00. Saya sendiri sudah berada di lapangan sekitar pukul 12.45. Sepanjang Jalan Medan Merdeka sudah dijaga barisan para polisi, tentara, dan paspampres bersafari. Acara dibuka di pelataran Istana Merdeka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya berada di jalan depan istana saat Presiden memberi sambutan pembuka. Tidak boleh masuk. Harus pakai undangan. Apalagi menurut wartawan dari Radio Sonora, pakaian kudu resmi. Tidak boleh bercelana jeans. Di luar, suara Presiden terdengar lantang. Maklum mikrofon istana distel cukup keras.

“Saya berada di sini sejak pagi buta. Ini kesekian kali saya berjaga. Tapi, sepertinya ini menyenangkan karena ini hiburan yang mendidik. Tidak lagi seperti menjaga saat ada demonstrasi. Di sana pasti tegang. Tapi, di sini saya senang,” tutur Kopral Satu Murdiyono, seorang tentara berseragam hijau yang sempat ngobrol dengan saya di depan Istana. Murdiyono—seorang tentara asal Sleman, Jogja, beranak 3 dan tinggal di Cililitan.

Rute pawai berlangsung dari Medan Merdeka Utara, menuju Istana Negara, melewati Panggung Kehormatan Utama Istana, keluar menuju Medan Merdeka Barat, Patung Arjuna Wijaya, serta berbelok dan berakhir di Silang Monas.

Rombongan pembawa kendang besar menjadi pembuka prosesi. Rombongan ini mengusung tema kemerdekaan. Ikon-ikon pahlawan dari masing-masing daerah ditampilkan di sana. Suasana mulai riuh saat bunyi-bunyiaRombongan dari Aceh. Foto: Sigit Kurniawann dari alat musik tradisional itu terdengar.

Rombongan kendang disusul oleh kesenian dari Provinsi Banten. Rombongan prajurit Banten dengan konstum ungu, tombak di tangan kanan, tameng di tangan kiri itu bernama Prajurit Dzuriat Surosuwan. Barisan prajurit ini didahului oleh para ksatria perempuan dengan busur panah di tangannya. Mereka berderap dalam iringan musik daerah mereka.

Disusul oleh barisan perempuan Inong Balee dari Aceh dengan kostum kuning-kuning. Diikuti rombongan remaja laki penabuh tamborin dan berkostum merah. Dari rombongan ini, ada seorang anak kecil dengan riang dan wajah sesekali mengerut karena kepanasan, memainkan alat musiknya.

Rombongan berikut berasal dari Provinsi Jawa Barat. Diawali dengan barisan lelaki berkostum hitam sedang menuntun seekor kambing-kambingan ukuran besar. Lucu. Mirip seekor kambing bandot petarung asal Cianjur. Disusul dengan tarian orang dengan kostum boneka seperti ondel-ondel. Parasnya serba ganjil. Ada lagi yang mirip raksasa. Jidatnya menjorok ke depan. Matanya lebar. Taringnya panjang. Tubuhnya berselimutkan serabut hitam.

Barisan raksasa itu langsung disusul dari tim kesenian Sumatera Barat garapan Tuanku Imam Bonjol. Lalu Kalimantan Tengah garapan Damang Batu dan Nyai Balau. Disusul dengan iringan Genta Sriwijaya dari Sumatera Selatan. Genta Sriwijaya ini juga unik. Di sana, sebuah kereta digeret oleh pasukan berkuda. Di dalam kereta, ada sepasang pengantin duduk manis dengan pakaian kebesarannya. Lucu menguar saat pasukan berkuda itu menari-nari. Meliuk-liuk dan ambruk di aspal. 

Di belakangan, rombongan yang saya tunggu-tunggu muncul. Rombongan Yogyakarta. Perwakilan kampung halaman ini menampilkan Tari Montro. Kostumnya putih dibalut hijau daun. Mereka menari-nari sambil mengibaskan kipas di tangan mereka. Di belakangannya, ada barisan putih kuning yang dipandu oleh prajurit keraton dengan seragam merah. Di ujung rombongan ini, diusung replika gajah besar sedang duduk di atas papan berjalan. Di atasnya, bertengger seekor burung semacam elang atau rajawali.

Usai kesenian Yogyakarta, barisan Prajurit Indrawati dari Lampung. Lalu Nusa Tenggara Timur. Wayang Batak dari Sumatera Utara. Iringan Pesta Adat Kansida dari Sulawesi Tenggara. Setelah itu tim Jawa Timur tampil dengan mencolok. Sebuah replika angsa raksasa warna orang diusung dalam prosesi. Di atas angsa itu, ada putri cantik berdiri sambil memegangi selendang tipisnya. Putri itu tak lain adalah Nadine Chandrawinata. Mengingatkan saya pada sebuah lukisan tentang Ratu Kidul. Sementara di bawahnya, rombongan perempuan berjalan mengiringi langkah sang angsa tersebut. Di belakangnya, disusul rombongan kereta dengan kuda putih dan seekor naga besar. Memamerkan lidah dan taringnya. Kesenian ini merupakan garapan Pesona Maduwangi.

Di belakangnya, ada tim kesenian dari Maluku dengan Bakupukul Sapu. Berlanjut Kalimantan Barat yang memamerkan ketipung, jepin, dan tahar. Lalu rombongan dari DKI Jakarta dengan kesenian khasnya—tanjidor. Disusul Riau dengan kostum adat warna kuning dan menampilkan Kebangkitan Melayu. Lalu Maluku Utara yang menampilkan tarian Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan.

Nadine Chandradinata berdiri di atas replika angsa dari Jawa Timur. Foto: Sigit KurniawanSementara itu, Sulawesi Selatan menampilkan karya Kalompaanna Pa’rasangata. Lalu Bengkulu dengan tarian Rafflesia yang diikuti rombongan Barong Melayu dari Bangka Belitung. Kalimantan Selatan tampil dengan Marak Pengantin. Sedangkan Riau dengan Dangkong.

Improvisasi

Tarian persembahan dari Bali. Foto: Sigit KurniawanSulawesi Barat tampil dengan mengusung perahu khasnya—perahu Sandeq. Menurut buklet dari panitia, perahu ini dikenal sebagai perahu bercadik tradisional tercepat di dunia. Perahu jenis ini hanya ada di Mandar dan dilayarkan hanya oleh orang Mandar. Ini merupakan puncak kreativitas Suku Mandar dalam kultur bahari.

Ada sepotong cerita unik di balik perahu itu. Saat nelayan Mandar melaut, istri mereka mengambil alih sebagai kepala rumah tangga. Untuk mendapat penghasilan, istri-istri itu menenun sarung sutra yang di Sumatera dikenal dengan Sarung Bugis. Usai nelayan datang, para istri menjual hasil tangkapan mereka. Konsep berbagi peran dan tanggung jawab dalam tradisi Mandar disebut Sibaliparriq. Perahu Sandeq, rumpon, dan konsep Sibaliparriq merupakan tradisi yang sudah mengakar ratusan tahun silam. Sekarang ini, budaya Mandar masih dipraktikkan di kampung-kampung di pesisir Teluk Mandar, Sulawesi Barat.

Tarian budaya dari Papua. Foto: Sigit KurniawanRombongan dari Papua menyuguhkan tarian khas mereka. Papua Barat menampilkan garapan Rii Ayasikena. Garapan Dinamika Papua juga tampil segar dengan alat musik tradisional mereka. Ada lagi Jambi dengan kesenian Begawe. Sulawesi Utara dengan Figura Kate. Sementara, Bali tampil kolosal siang itu. Parade Barong Witning Puja tampil semarak. Arak-arakan dimulai dengan tarian Leak Bali. Disusul rombongan gadis-gadis Bali dalam balutan pakaian adat. Disusul Kalimantan Timur dengan Dayak Menyatu Manikam. Nusa Tenggara Barat dengan arak-arakan Ngalu Aiq. 

  Yang paling lucu adalah rombongan kesenian Jawa Tengah yang menampilkan Sesapu Wulu Kupu. Mereka menampilkan kostum Hanoman—si kera putih. Juga Para rakasasa hitam dengan taring putihnya. Lucunya, rombongan Jawa Tengah berjoget dan ‘menggoda’ rombongan perempuan asal Sulawesi Tengah dengan Tarian Balomore-nya. Para raksasa berjoget mengepung perempuan-perempuan itu. Sesekali gantian para perempuan mengepung si kera putih. Wah, seru. Rame. Sepotong improvisasi yang keren. Lalu disusul rombongan Gorontalo dengan Molude Binthe-nya.

Rombongan Batik Karnival Solo. Foto: Sigit Kurniawan Sementara itu, Solo secara khusus hadir dengan Batik Karnivalnya. Rombongan ini menampilkan paras-paras ayu Putri Solo dan paras ganteng pemuda mereka. Kostum mereka sangat bervariasi, dari pakaian adat sampai busana dengan sentuhan modern. Tampilan yang mencolok membuat para wartawan foto berebut memotret beberapa putri ayu itu. Tak ketinggalan juga saya dengan kamera digital. Beberapa penonton bahkan berfoto bareng dengan mereka. Bahkan, ada seorang ibu yang sedang hamil berjalan terhuyung mendekati salah satu pemuda dengan pakaian adat Solo. Ibu itu lalu mengusap pipi pemuda itu dengan tangannya lalu mengelus perutnya yang buncit. Kata ibu itu, “Biar anak saya ketularan ganteng, Mas!” Pemuda itu menjawab, “Iya, Bu. Amin. Terimakasih. Jangan capek-capek.”

Karnaval itu dipungkasi dengan tampilan dari Gelora Junjung Pertiwi. Pukul 17.10, saya mulai menepi. Menyudahi menonton hiburan budaya gratis itu. Beringsut ke tepi jalan dan menuju gedung Departemen Perhubungan, tempat saya memarkir motor.

 

Sepotong Refleksi

Festival ini cukup megah. Meski tidak banyak masyarakat yang menonton gelar budaya ini. Bisa jadi karena acara ini digelar bukan pas hari libur. Sementara, penjagaan di ruas-ruas jalan menuju lingkar Monas pun tampak ketat. Padahal, menurut saya, festival ini bisa menjadi ajang edukasi tentang pluralisme kepada khalayak Indonesia.  Festival ini merupakan wujud konkret dari Indonesia bersatu—Indonesia Unite. Pluralitas sungguh indah. Tapi, sayangnya, ada beberapa pihak yang tidak menginginkan adanya keberagaman seperti ini. Bahkan, ada upaya memaksakan penyeragaman melalui jalur-jalur resmi, seperti peraturan dan perundangan.

Batik Karnival Solo. Foto: Sigit KurniawanBatik Karnival Solo. Foto: Sigit KurniawanMasih segar dalam ingatan saya apa yang terjadi di Monas pada 1 Juni 2008. Saat itu terjadi kekerasan yang dikenal dengan Insiden Monas. Sebuah kejadian ironis di mana negeri ini sedang merayakan Lahirnya Pancasila—simbol diakuinya keberagaman. Bhineka Tunggal Ika.

Selain itu, kita prihatin seperti belakangan ini bahwa beberapa kebudayaan diklaim kepemilikannya oleh negara tetangga. Marah tidaklah cukup. Yang lebih penting daripada itu adalah bagaimana kita memelihara dan membesarkan budaya yang sudah ada. Apa artinya kita membela budaya kita mati-matian kalau kita sendiri tidak merawat dan memeliharanya dengan baik? Ada ilustrasi menarik dari dunia pewayangan. Tokohnya namanya Karno. Karno adalah salah satu anak dari Dewi Kunti—ibunda Pandawa Lima. Tapi, Karno menjadi ‘anak yang dibuang’ oleh ibunya sendiri. Ia pun diasuh oleh orang di negeri Astina. Karena merasa dipelihara dan dibesarkan oleh Astina, saat pecah perang Baratayuda, Karno memilih berpihak pada Kurawa melawan Pandawa demi negerinya. Pernah ia diteguhkan oleh Dewi Kunti bahwa ia adalah ibunya sendiri dan berpesan jangan memerangi Pandawa selaku adik-adiknya sendiri. Tapi, jawab Karno," “Ibuku adalah ia yang telah memelihara dan membesarkan diriku!” Nah, bagaimana kalo Karno sekarang adalah budaya-budaya negeri kita sendiri. Apakah kita masih layak menjadikan diri kita sebagai ‘ibu kandung’ yang melahirkan budaya-budaya itu sementara kita sendiri tidak memelihara dan membesarkannya?

Sementara itu, di balik gemerlapnya tarian, pakaian dari berbagai daerah itu, terselip sebuah seruan tak terucap agar pemerintah memperhatikan masyarakat daerah dan adat. Masyarakat yang rentan oleh ketidakadilan dan kekerasan. Semoga festival ini tidak hanya berhenti pada tontonan yang menghibur. Tapi, juga program konkret pemerintah untuk menciptakan keadilan sosial di seluruh wilayah provinsi Indonesia.

Batik Karnival Solo. Foto: Sigit Kurniawan Keragaman tanpa disertai keadilan berpotensi memunculkan konflik. Tapi, keragaman yang dilandasi oleh keadilan, akan mengantarkan kita pada the Real Indonesia Unite!

 

NB: keterangan foto bisa didapatkan dengan menempatkan kursor pada foto bersangkutan.

     SEBAGIAN FOTO-FOTO SUDAH DISIMPAN DAN TIDAK DITAMPILKAN DALAM ARTIKEL INI. BAGI   YANG BERMINTA BISA MENGHUBUNGI ADMIN BLOG INI DI RUBRIK KONTAK. FREE OF CHARGE.

Artikel Terkait:

23 thoughts on “Pluralisme dalam Pawai Budaya

  1. beberapa hari yang lalu manado bikin acara sail bunaken. pesertanya 32 negara, pluralitas demikian nampak disana. memahami keberagaman ternyata sebuah kenikmatan.

  2. contoh kasusnya koq insiden monas. padahal saat itu temanya soal akidah (kenabian). bukan soal keberagaman budaya, agama, ras, suku :)

  3. fotonya bagus2… dikemas dikit artikelnya secara antropologis, layak masuk Nat Geo, hehehe… kayaknya udah harus punya portofolio foto neh… :-)

  4. Goodmorning
    awesome post – i’m creating video about it and i will post it to youtube !
    if you wana to help or just need a link send me email !

  5. Kren kostum nya,…
    wah..memang indonesia penuh dgn kebudayaan…

  6. I like your post and your ideas, but I would like to know more on this topic, as I do not totally share your opnion. “Opinions are made to be changed –or how is truth to be got at?”

  7. Good day, Fantastic site, in which did you occur up of the info in this summation? Im glad I found it though, I will be checking back soon to see what other articles you have.

  8. Hey thank you for the wonderful article it had been genuinely useful , I hope you will just publish additional about this ! This topic rocks

  9. Pretty good post. I just stumbled upon your blog and wanted to say that I have really enjoyed reading your blog posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>