August 28th, 2009 § § permalink
Siang itu cukup terik. Matahari nyaris tepat di atas ubun-ubun saat sepeda motor kami memasuki pemukiman nelayan di Muara Angke, Jakarta Utara. Hawa panas datang menyergap. Sesekali hengkang diterpa angin pantai. Tampak di bibir pantai, perahu-perahu nelayan tertambat rapi. Beberapa bangkai kapal terserak di tepi Sungai Angke—tepat di sisi gapura masuk pemukiman tersebut. Menjadikan suasana pantai menjadi kotor tapi eksentrik. Memacu adrenalin untuk segera menyusuri kawasan yang sudah mulai riuh para pekerja itu. Sumpek dan padat.
Di ruas jalan, mikrolet warna merah jurusan Grogol-Pluit-Angke beradu jalan dengan bajaj, ojek sepeda motor, ojek sepeda, dan pejalan kaki. Tenda-tenda pedagang kaki lima memenuhi sebagian bahu jalan. Berbagai barang, hasil tangkapan, dan jajanan siap makan digelar oleh para pedagang tersebut. Sementara angin pantai bertiup mengantar aroma khasnya.
» Read the rest of this entry «
August 28th, 2009 § § permalink
Kendang itu semakin keras ditabuh. Tangan sang dalang bergerak cepat ke kiri dan ke kanan. Lalu mendadak berayun pelan. Kendang menjadi senyap mengiringi Arjuna yang kehilangan semangat ketika memasuki gerbang perang Baratayuda. Hatinya luluh lantah terjerat kesedihan. Ia merasa tak tega menyerang saudara-saudaranya sendiri serta para guru yang mendidiknya sejak kecil. Tapi, Kresna mengingatkan Arjuna. Katanya, seorang ksatria tidak boleh mundur dari pertempuran. Ia wajib memerangi angkara murka, tak peduli saudara atau kawan. Akhirnya, Arjuna sadar dan pulih kembali energinya untuk mengobarkan perang yang menelan banyak korban di pihak Kurawa.
Adegan itu merupakan detik-detik menegangkan. Penonton wayang dibuat bertanya-tanya sejenak. Apa yang terjadi jika Arjuna menolak berperang? Bagaimana jika perang yang membawa korban mengerikan di pihak Kurawa pada detik-detik terakhir bisa dicegah?
» Read the rest of this entry «
August 24th, 2009 § § permalink
Indonesia sungguh beragam. Warna-warni budayanya. Perbedaan bukanlah sesuatu ancaman. Perbedaan itu indah. Paling tidak, inilah yang saya saksikan dengan mata kepala sendiri pada Selasa, 18 Agustus 2009. Ada yang berbeda di kawasan Tugu Monas siang itu. Siang itu, saat matahari lagi mengucurkan panasnya di sepanjang Jalan Medan Merdeka digelarlah Pawai Budaya Nusantara. Dalam pawai ini, perwakilan dari 33 provinsi di Indonesia ‘berunjuk gigi’ dengan menampilkan ragam kesenian mereka. Kesenian yang dipadu dalam kostum daerah, tarian, musik, dan nyanyian budaya.
Saya sumringah dengan gelar budaya seperti ini. Beberapa kali, saya turut menyaksikan arak-arakan budaya macam ini. Berbekal kamera digital biasa—Kodak EasyShare tipe ZD710 dengan kekuatan 7,1 megapixel, saya berupaya mengabadikan perayaan budaya ini. Meski bukan kamera profesional, hasilnya tidak jelek-jelek amat. Apalagi saya hanyalah seorang citizen journalist yang hobinya ngeblog.
» Read the rest of this entry «